Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Waspadai Inflasi Pangan

Tanggal: 4 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah tetap mewaspadai potensi inflasi menjelang puasa dan Lebaran meskipun terjadi deflasi pada April 2016. Bahan makanan, antara lain beras dan daging sapi, tetap menjadi sorotan karena harga yang masih cukup tinggi.

 

Direktur Bahan Pokok dan Strategis Direktorat Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Robert James Bintaryo, Selasa (3/6), di Jakarta, mengatakan, harga rata-rata nasional beras medium per 2 Mei 2016 dibandingkan dengan bulan lalu turun 1,58 persen dari Rp 10.790 per kilogram menjadi Rp 10.620 per kg.

 

"Berdasarkan informasi Kementerian Pertanian, produksi atau hasil panen cukup. Bulog diminta meningkatkan serapan beras. Untuk mengantisipasi kenaikan harga beras, Bulog diminta bersiap melakukan operasi pasar," ujar Robert.

 

Adapun rata-rata nasional harga daging sapi (tipe secondary cut) per 2 Mei Rp 112.700 per kg. Harga daging sapi ini turun sangat tipis 0,01 persen dibandingkan dengan bulan lalu.

 

"Pemerintah dalam rangka pengamanan kebutuhan puasa dan Lebaran dalam rapat koordinasi terbatas telah menetapkan akan menugaskan Perum Bulog untuk mengimpor daging," katanya.

 

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Abdullah Mansuri mengatakan, harga beras medium dan daging sapi relatif sama. Bahkan, menjelang bulan puasa dan Lebaran nanti harga kedua bahan pangan pokok itu diperkirakan naik.

 

Harga beras dan daging sapi di pasar saat ini juga dinilai masih di atas harga ideal. Abdullah mengatakan, harga beras medium di atas Rp 10.000 per kg, padahal harga idealnya Rp 8.500 per kg. Sementara harga daging sapi masih di atas Rp 110.000 per kg, padahal harga ideal Rp 90.000 per kg.

 

"Pemerintah perlu menjaga stok agar harga tidak melambung tinggi. Tidak hanya beras dan daging sapi, tetapi juga bawang merah dan cabai," ujarnya.

 

Badan Pusat Statistik mencatat, pada April 2016 terjadi deflasi 0,45 persen. Deflasi ini terutama disumbang penurunan harga pada kelompok bahan makanan, BBM, dan transportasi.

 

Namun, dibandingkan dengan April tahun lalu, masih tercatat inflasi tahun ke tahun sebesar 3,60 persen. Kelompok bahan makanan, yang pada April mengalami deflasi, secara tahun ke tahun bahkan masih tercatat mengalami inflasi 8,92 persen. Artinya, masyarakat masih merasakan efek harga pangan yang sebelumnya terus naik.

 

Di sisi lain, BPS juga mencatat, harga gabah di tingkat petani pada April turun 9,36 persen dibandingkan dengan Maret. Namun, penurunan harga gabah itu tidak diikuti penurunan harga beras yang signifikan. Harga beras di tingkat penggilingan turun 5,14 persen, di pedagang grosir turun 1,69 persen, dan di pedagang eceran hanya turun 1,47 persen.

 

Efek kebijakan

 

Ekonom dari Universitas Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan, deflasi April merupakan hasil usaha pemerintah mengendalikan pasokan kebutuhan masyarakat. Namun, pada saat yang sama, kata Destry, ada faktor turunnya permintaan karena masih lemahnya daya beli masyarakat yang tak bisa dinafikan. Pelemahan ini sebagian disebabkan pemutusan hubungan kerja atau efek kebijakan perusahaan mengurangi produksi.

 

Inflasi inti per April yang melambat merupakan indikasi aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih dari kelesuan kondisi tahun lalu. Hal ini juga terkonfirmasi pada penyaluran kredit perbankan yang pertumbuhannya rata-rata masih di bawah 10 persen. Harga komoditas juga belum betul-betul membaik.

 

"Dengan kondisi global yang belum menentu, aktivitas ekonomi yang sudah bisa bergerak seperti sekarang sudah positif. Memang belum bisa berlari cepat," kata Destry.

 

Dari sisi penawaran, Destry menilai, pemerintah berusaha menjaga stabilitas harga sejumlah kebutuhan pangan dengan membuka keran impor sebagai solusi jangka pendek. Namun, dalam jangka menengah-panjang, pemerintah harus menyiapkan solusi lebih struktural.

 

Untuk mempertahankan daya beli masyarakat, menurut Destry, aktivitas ekonomi harus tumbuh. Di tengah kelesuan, pemerintah perlu berperan sebagai lokomotif penciptaan lapangan kerja, antara lain melalui pembangunan proyek-proyek infrastruktur.

 

 

Selain itu, kata Destry, efisiensi logistik mendesak ditingkatkan, baik pada tata niaga maupun infrastruktur distribusi. Dengan begitu, inflasi akan lebih terkendali dan ekonomi bisa tumbuh lebih optimal. (HEN/LAS)