Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

URUSAN PANGAN SUDAH LAMA TERBENGKALAI

Tanggal: 26 July 2012 | Sumber: KOMPAS | Penulis: Erlangga Djumena

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejak reformasi tahun 1998, urusan pangan terbengkalai dan tidak menjadi fokus pemerintah. Pemerintah lebih sibuk mengurus sektor finansial dan modern lainnya. Akibatnya, impor pangan terus naik dan ketika terjadi gejolak harga di negara lain, Indonesia langsung terkena dampak.

 

Demikian rangkuman pendapat ekonom Dradjad Wibowo dan pengamat pertanian Universitas Gadjah Mada, Prof Mochammad Maksum, di Jakarta dan Yogyakarta, Rabu (25/7/2012). Mereka dimintai komentar terkait gejolak harga komoditas di pasar dunia akibat kekeringan di Amerika Serikat dan India yang langsung berdampak pada pasokan dan harga di dalam negeri.

 

”Dalam beberapa pekan ini, sejumlah komoditas pangan bermasalah, mulai dari gula, kedelai, dan daging sapi. Seharusnya ini menjadi cermin kalau persoalan pangan terbengkalai, tidak terurus dengan baik,” kata Dradjad.

 

Ia mengungkapkan, setelah reformasi, masalah pangan dikesampingkan, komitmen memproduksi pangan di dalam negeri juga tidak ada. Sistem yang telah dibangun hilang begitu saja menyusul kebijakan yang terlalu berpihak pada pasar.

 

”Pemerintah harus kembali mengurus pangan. Ini kunci kalau kita ingin selamat dari krisis pangan. Dalam jangka pendek, kita harus membuat manajemen stok. Syaratnya, harus ada pembiayaan dan strategi baru. Akar masalah adalah produksi yang jeblok harus ditangani. Saat ini, kita gagal pada pembangunan pertanian,” katanya.

 

Mochammad Maksum menyatakan, semangat untuk swasembada beras, gula, jagung, kedelai, dan daging sapi pada 2014 sangat menggelora dalam Konferensi Dewan Ketahanan Pangan, minggu lalu. ”Semangat membangun kedaulatan dan kemandirian pangan nasional ini pantas diapresiasi, tetapi butuh komitmen kebangsaan yang memadai,” lanjutnya.

 

Sebenarnya banyak riset pangan telah dilakukan, tetapi kurang dioptimalkan. Riset benih kedelai sudah lama dilakukan.

 

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) di bawah Kementerian Riset dan Teknologi memiliki hasil riset benih kedelai lokal yang memanfaatkan teknologi iradiasi nuklir. Dua varietas hasil riset terakhir, Rajabasa dan Mutiara 1, berpotensi menghasilkan kedelai hingga 3,9 ton per hektar, tetapi pembenihannya hingga kini belum optimal.

 

”Benih sumber untuk varietas kedelai hasil iradiasi nuklir diproduksi di Banyuwangi dan Mataram. Namun, produksinya masih terbatas,” kata Kepala Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir Batan Ferly Hermana.

 

Varietas Mutiara 1 paling berpotensi dikembangkan. Jenis kedelai ini memiliki ukuran paling besar. Bobot rata-ratanya 23,2 gram per 100 biji, lebih besar daripada kedelai impor AS sekitar 18 gram per 100 biji.

 

Guna mewujudkan kedaulatan pangan yang tidak bergantung pada impor, komoditas pangan lokal belum terlambat untuk diolah, mulai dari umbi-umbian, sagu, sukun, hingga sorgum memiliki prospektif yang baik. ”Karena sudah terbiasa mengonsumsi beras, sebaiknya digunakan teknologi pengolahan beras tiruan,” kata Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara.

 

Kerentanan terhadap produk impor, seperti kedelai dari AS, lanjut Endang, sebenarnya harus disikapi dengan mengoptimalkan komoditas lokal. Ia menuturkan pengalaman di sebuah toko bahan makanan di Chicago, AS, ia melihat ada 21 jenis tempe. ”Tempe tidak hanya dibuat dari kedelai, tetapi bisa ditambahkan rumput laut atau berbagai jenis sayur,” kata Endang.

 

Perekayasa Balai Besar Teknologi Pati pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Agus Eko Cahyono, mengatakan, komoditas lokal juga memiliki prospek. Sorgum dapat dikembangkan untuk pangan. ”Lembaga kami mengembangkan sorgum di Lampung seluas 1 hektar yang sebelumnya mencapai 5 hektar,” kata Agus.

 

Sorgum memiliki berbagai kelebihan. Selain bisa untuk memenuhi dua kepentingan sekaligus, yaitu pangan dan bahan bakar nabati, sorgum juga mudah dalam pengelolaan.

 

Penanaman benih sorgum tidak dalam sekali panen, tetapi bisa lebih dari dua atau tiga kali masa panen. Ketika panen, petani hanya memangkas batangnya sehingga akar pokoknya masih bisa menumbuhkan tanaman baru. Sorgum juga jenis tanaman yang tahan dengan kekeringan.

 

Endang mengatakan, berbagai komoditas pangan banyak ditemukan di dataran rendah hingga pantai. (UTI/NAW/APO/MAR/TOP)