Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

TNI AD Cetak 3.200 Hektar Sawah Baru

Tanggal: 19 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

PALU, KOMPAS — Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat sudah mencetak sekitar 3.200 hektar atau separuh dari 6.400 hektar target pencetakan sawah baru di Sulawesi Tengah hingga pertengahan Mei ini. Diperkirakan pencetakan sawah baru selesai paling lambat Agustus 2016. Penambahan luas sawah diharapkan menopang program swasembada beras nasional.

 

"Lahan yang dijadikan sawah cukup sulit dijangkau. Ada yang harus melewati pegunungan. Meski demikian, bersama rekanan, kami tetap berusaha untuk menyelesaikan target 6.400 hektar sawah baru demi swasembada pangan," ujar Komandan Resor Militer 132/Tadulako Kolonel Saleh Mustafa di Palu, Sulteng, Rabu (18/5).

 

Pencetakan sawah baru tahun ini dilakukan di Kabupaten Poso, Parigi Moutong, Tolitoli, Donggala, Buol, dan Banggai. Tahun lalu, sawah baru yang tercetak 4.200 hektar.

 

Tahun ini, Kementerian Pertanian melibatkan TNI AD dalam pencetakan sawah. TNI AD bersama dinas pertanian setempat menentukan lokasi pencetakan sawah.

 

Namun, pencetakan sawah baru, menurut Saleh, belum didukung dengan antusiasme petani. Dari beberapa daerah yang dikunjungi, sawah yang sudah dicetak dan diserahkan kepada petani malah tidak ditanami padi. Padahal, irigasi sudah ada.

 

"Ini mungkin karena kebanyakan profesi petani dilihat sebagai pekerjaan musiman. Ini kebiasaan lama yang seharusnya sudah dikikis. Ini tantangan untuk kami," kata Saleh.

 

Terkait wacana kemungkinan TNI AD menyerap gabah dari petani dengan harga lebih tinggi dari Bulog, Saleh menyatakan mendukung rencana itu. Harga yang lebih tinggi akan menggairahkan petani. Namun, penyerapan beras oleh TNI AD melalui koperasi harus kontinu. Program itu tidak hanya sekali dilakukan pada musim panen.

 

Saat ini, luas sawah di Sulteng 140.000 hektar dengan produksi per tahun 1,4 juta gabah kering giling (GKG). Produksi itu mencukupi kebutuhan daerah.

 

Kepala Dinas Pertanian Sulteng Trie Indriany Lamakampali menambahkan, pencetakan sawah baru diharapkan mendukung program pemerintah pusat untuk swasembada beras. Terkait masalah penanaman yang lambat pasca pencetakan, Trie menyebutkan, petani perlu dimotivasi.

 

Bagi aktivis Aliansi Reformasi untuk Agraria Sulteng, Halim, pencetakan sawah baru tanpa proteksi terhadap alih fungsi sawah untuk usaha nonpertanian menyulitkan negara untuk mewujudkan swasembada pangan. "Itu sudah pada ranah kedaulatan pangan, bukan sekadar ketahanan pangan. Petani tidak lagi berdaulat atas lahannya karena iming-iming investasi yang menggiurkan yang juga difasilitisi pemerintah," katanya.

 

Data alih fungsi lahan di Sulteng belum tersinkronisasi. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng pernah meriset alih fungsi lahan sawah mencapai 10 hektar per tahun.

 

Secara kasatmata, alih fungsi sawah untuk perumahan terlihat tampak di Kabupaten Sigi, daerah yang dekat dengan Palu, ibu kota Sulteng. Banyak kompleks perumahan didirikan di lahan bekas sawah.

 

Halim mendesak Pemerintah Provinsi Sulteng menerbitkan regulasi, yang memproteksi sawah dari alih fungsi. Lahan kosong di dekat perkotaan masih banyak. Di Sigi, lahan kosong tersebar di Desa Bora, Kecamatan Biromaru. Lahan di daerah itu cukup rata, cocok untuk perumahan. (VDL)