Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Teknologi dan Pendidikan Konsumen Menjaga Ketahanan Pangan

Tanggal: 2 April 2019 | Sumber: Kompas.id | Penulis: YOLA SASTRA

 

JAKARTA, KOMPAS — Pemanfaatan teknologi dan pendidikan terhadap konsumen dinilai akan menjaga ketahanan pangan. Penerapan dua hal itu akan mengurangi potensi kehilangan makanan (food loss) dan sampah makanan (food waste) yang memengaruhi ketersediaan pangan.

 

Kehilangan makanan adalah makanan yang terbuang selama proses produksi dan pascapanen serta tidak sampai pada rantai konsumen. Sementara itu, sampah makanan adalah makanan yang dibuang atau tidak lagi diinginkan oleh konsumen.

 

Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria di Jakarta, Selasa (2/4/2019), mengatakan, ketersediaan merupakan salah satu unsur ketahanan pangan. Ketersediaan tidak hanya dipengaruhi faktor produktivitas, tetapi juga pengurangan pemborosan makanan, baik karena kehilangan makanan maupun sampah makanan.

 

”Permasalahan ketahanan pangan tidak bisa diatasi dengan peningkatan produktivitas saja, tetapi juga dengan menekan food loss dan food waste,” kata Arif dalam diskusi ”Overview of Food Security and Nutrition in Indonesia: Accelerating Progress towards the SDGs”.

 

Menurut Arif, dunia kehilangan sepertiga atau 1,3 miliar ton makanan setiap tahun akibat kehilangan makanan dan sampah makanan. Sebanyak 10 persen kerugian itu terjadi selama proses produksi; 7 persen penanganan, penyimpanan, dan distribusi pascapanen; 1 persen pengolahan; 6 persen sistem pasar; dan 9 persen konsumsi.

 

”Indonesia merupakan negara nomor dua dalam produksi sampah makanan setelah Saudi Arabia dan di atas Amerika Serikat. Setiap tahun rata-rata satu orang Indonesia membuang 300 kilogram makanan,” katanya.

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, lanjut Arif, pemanfaatan teknologi dengan sistem pertanian presisi diperlukan. Dengan demikian, produktivitas akan meningkat dan potensi kehilangan makanan berkurang.

 

Sementara itu, pendidikan terhadap konsumen juga diperlukan agar tidak membuang-buang makanan. Konsumen dapat juga meredistribusikan makanan kepada orang lain yang membutuhkan.

 

Tantangan

 

Pada forum yang sama, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Arifin Rudiyanto mengatakan, pertanian berkelanjutan dan produktif menjadi tantangan bagi Indonesia. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah urbanisasi.

 

Seperti halnya banyak negara di dunia, Indonesia juga mengalami krisis urbanisasi seiring meningkatnya kesejahteraan, pendapatan, tingkat pendidikan, dan usia harapan hidup. Generasi muda lebih tertarik bekerja di kota daripada menjadi petani di desa.

 

”Saat ini, 58 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. Angkanya diperkirakan mencapai 70 persen pada tahun 2045. Pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi turut mengancam sektor pertanian. Jumlah petani menurun dan semakin tua,” tuturnya.

 

Selain itu, kata Arifin, petani Indonesia semakin menua. Usianya rata-rata 45 tahun. Oleh sebab itu, pemerintah terus berupaya mengajak generasi muda bekerja di sektor pertanian.

 

Arifin juga menyatakan, Indonesia sudah pada jalur yang benar dalam pembangunan ketahanan pangan dan gizi. Indikatornya adalah turunnya prevalensi kekurangan gizi dan prevalensi kerawanan pangan dari tahun ke tahun.

 

Tahun 2018, konsumsi makanan per kapita Indonesia meningkat sekitar 5 persen. Bahkan, konsumsi kalori pada masyarakat berpendapatan rendah meningkat sekitar 8 persen.

 

Angka anak balita pendek (stunting) juga turun kendati masih pada posisi yang mengkhawatirkan. Angka kasus stunting berkurang sekitar 7 persen dibandingkan pada 2013 yang mencapai 30,8 persen. Sementara itu, prevalensi kekurangan berat badan pada anak di bawah usia lima tahun turun 2 persen menjadi 10 persen pada periode yang sama.

 

Kepala Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Indonesia Stephen Rudgard mengatakan, tidak hanya di Indonesia, urbanisasi juga menjadi tantangan di banyak negara lain di dunia. Generasi muda desa meninggalkan area pertanian untuk mencari pekerjaan yang lebih mapan dan menikmati gaya hidup kota yang lebih gemerlap.

 

Menurut Stephen, menghasilkan produk pertanian dengan nilai tinggi akan bisa menarik generasi untuk bertani. Dengan komersialisasi itu, akan semakin banyak penghasilan yang didapat sehingga kesejahteraan mereka juga meningkat.