Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Teknologi Biotek Tingkatkan Pendapatan Petani Global

Tanggal: 4 September 2015 | Sumber: Info Publik | Penulis:

Jakarta, InfoPublik - Penerapan bioteknologi terhadap tanaman nyatanya berhasil meningkatkan pendapatan petani global sebesar Rp 1.895 triliun. Pencapaian tersebut berasal dari 18 negara yang diakumulasikan selama 17 tahun dari 1996 -2013.

 

"Pada tahun 2013, tahun ke 18 dari adopsi tanaman bioteknologi, terbukti bahwa  bioteknologi yang dihasilkan pada beni tanaman membuat pertanian menjadi lebih produktif, pendapatan petani yang lebih tinggi dan lingkungan hidup yang lebih baik," terang Graham Brookes, Direktur PG Economics, saat menjadi pembicara di acara seminar teknologi biotek untuk kesejahteraan petani dan perbaikan lingkungan hidup di Jakarta, Jumat (4/9).

 

Graham meyakini bioteknologi akan terus memberikan manfaat bagi para petani, khususnya di negara-negara berkembang. Dia melanjutkan, penerapan bioteknologi juga telah mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap bahan-bahan kimia yang berpotensi merusak lingkungan.

 

"Penggunaan petisida turun sebanyak 550 juta kg. Begitu juga dengan menurunkan penggunaan herbisida dan inteksida, yang dapat diturunkan sebanyak 19 persen," pungkasnya.

 

Tahun 2013 sendiri, bioteknologi berhasil menurunkan pelepasan karbondioksida (CO2) ke atmostphere sebanyak 28 miliar kg atau setara dengan penghapusan 12,4 juta mobil dari jalan dalam setahun.

 

Adapun pendapatan petani dibeberapa negara sejak 1996-2013 yakni China ($16,2 billion), India (16,7 billion), Amerika ($57,8 bilion), Australia ($885 million), dan Argentina ($17,6 billion).

 

Namun, sejauh ini Indonesia belum mempunyai aturan operasional yang jelas sebagai acuan dalam penerapan bioteknologi tersebut. Aturan operasional itu akan memudahkan koordinasi dalam pengujian keamanan pangan, pakan, dan lingkungan.

 

Saat ini aturan secara makro sudah cukup bagus dalam penerapan bioteknologi. Namun, acuan-acuan secara operasional sangat diperlukan sehingga memudahkan berbagai instansi terkait dalam menjalankan tugas dan kewenangan terkait implementasi bioteknolgi tersebut. 

 

Indonesia juga mempunyai Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika sesuai Peraturan Presiden Nomor 39 tahun 2010 untuk memberikan arah pengembangan bioteknologi dan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 61 tahun 2011 tentang Pengujian, Pelepasan dan Penarikan Varietas sebagai penyempurnaan dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37 tahun 2006. 

 

Selain Kementan, pihak terkait dalam penerapan bioteknologi adalah Kementerian Lingkungan Hidup, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Badan Pengawas Obat (BPOM) dan Makanan.