Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Tebu bioteknologi toleran tahan kekeringan mulai dikomersialkan terbatas

Tanggal: 11 September 2019 | Sumber: Kabar Bisnis | Penulis:

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ada babak baru dalam pengembangan varietas benih bioteknologi/produk rekayasa genetika (PRG) di Tanah Air. Adalah benih biokteknologi tebu toleran kekeringan mulai "dikomersialkan secara terbatas".

 

Director of Indonesian Biotechnology Information Centre (Indobic) Prof Bambang Purwantara menerangkan tebu bernama varietas NXI 4T toleran kekeringan ini mulai dikomersialiasikan secara terbatas.Varietas PRG ini sudah mendapat persetujuan untuk dilepas Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika (KKHPRG).

 

Dengan mengantongi sertifikat keamanan hayati dari KKHPRG, maka Tim Penilai Pelepasan Varietas Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian memutuskan melepas varietas tebu biotek ini.

 

"Tidak diperjual bebas. Hanya buat stok.Untuk disimpan.Namun penanaman benihnya tetap melibatkan mitra petani. Kita pikir sekaligus menjadi edukasi bagi petani bahwa ada pilihan menanam benih transgenik di lahan yang minim air," ujar Bambang usai acara Youth Biotech Outreach di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

 

Adapun luas penanaman benih tebu toleran kekeringan ini mencapai 1.343 hektare (ha) di Bondowoso , Jawa Timur.Klasterisasi penanaman benih varietas RPG tebu toleran kekeringan berada di wilayah area PTPN XI.

 

"Berbeda halnya dengan penanaman benih jagung atau padi konvensial atai non RPG , jadi penanaman tidak mungkin massif. Rencananya akan dipasok untuk kebutuhan sesama PTPN," jelasnya.

 

Sebagai informasi kembali , yang merupakan hasil kolaborasi para peneliti di P3GI, PT Riset Perkebunan Nusantara, PT Perkebunan Nusantara XI (Persero),Universitas Jember dan Ajinomoto Co Inc.

 

Sebelumnya dalam diskusi, Bambang menjelaskan Peraturan Menteri Pertanian No 36 tahun 2016 tentang Pedoman Pengkajian Keamanan Pakan Produk Rekayasa Genetika merupakan pembuka pintu untuk pengembangan produk ini. "Sekarang tinggal menunggu pedoman pedoman pengawasan dan pemantauannya yang nanti akan berbentuk Permentan. Diharapkan tahun ini bisa keluar Permentannya," katanya.

 

Peneliti utama BB Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Prof Bahagiawati menerangkan pihaknya juga tengah mengembangkan kentang yang tahan hama penyakit. Dengan pemilihan benih PRG kentang ini, petani dapat mengurangi penggunaan pestisida yang akhirnya menekan biaya produksi mencapai 30 persen.

 

" Kondisi sekarang petani harus menyemprot pestida ke tanaman kentang sampai enam kali sehari. Selain besar biayanya juga cara ini cukup beresiko dengan kesehatan bagi yang akan mengkonsumsinya," terangnya.

 

Mengutip laporan yang dirilis International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) dia menyebutkan, lahan budidaya tanaman biotek telah meningkat hampir 113 kali lipat sejak tahun 1996, dengan luas kumulatif sekitar 2,5 miliar ha.

 

Di negara-negara dengan adopsi tinggi terutama AS, Brasil, Argentina, Kanada, dan India, tingkat adopsi tanaman utama mendekati 100 persen. Dua puluh enam negara (21 negara berkembang dan 5 negara industri) menanam 191,7 juta ha tanaman biotek, atau bertambah 1,9 juta ha pada tahun 2017.kbc11