Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Tebu Berpotensi Dikembangkan di Madura

Tanggal: 14 September 2015 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

PAMEKASAN, KOMPAS — Pulau Madura di Jawa Timur menjadi daerah alternatif pengembangan tanaman tebu sebagai pengganti tembakau. Untuk itu, perlu pembangunan pabrik gula di pulau yang mempunyai potensi lahan tebu seluas 124.975 hektar tersebut. Dari potensi itu, yang sudah terealisasi tanam seluas 1.600 hektar.

"Dengan luas lahan yang sudah panen sekitar 1.200 hektar, tahun depan, sudah bisa dibangun pabrik gula di Madura. Kehadiran pabrik gula otomatis giling tebu petani tak harus ke Sidoarjo atau Pasuruan karena terlalu lama di jalan justru mengurangi kadar gula pada tetes tebu," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno di sela-sela panen tebu rakyat di Desa Tlanakan, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (12/9).

Saat panen tebu, Rini didampingi Bupati Pamekasan Achmad Syafii dan Bupati Sampang Fanan Hasib, tokoh petani Jawa Timur Arum Sabil, serta Direktur Utama PT Perkebunan Negara (PTPN) X Subijono dan Direktur Utama PTPN XI Dolly P Pulung.

Potensi lahan tebu di Madura terdapat di Kabupaten Bangkalan 43.596 hektar, Sampang 42.636 hektar, Pamekasan 22.091 hektar, dan Sumenep 16.651 hektar. Dengan potensi itu, kata Rini, idealnya di Madura bisa ada lima pabrik tebu. Kehadiran pabrik gula juga bisa memacu industri lain tumbuh sehingga kesejahteraan rakyat meningkat.

Target minimal pembangunan pabrik tebu jika sudah ada areal tanam seluas 7.000-10.000 hektar, dengan kapasitas giling pabrik 5.000 ton cane per day (TCD). Kapasitas giling bisa terpenuhi jika setiap hektar lahan menghasilkan tebu 55-60 ton. Saat ini rata-rata produksi tebu Madura dengan rendemen 7,8.

Tanaman alternatif

Meski Madura potensial untuk pengembangan tebu, kata Rini, butuh kerja keras untuk mendorong petani setempat agar mau beralih menanam tebu. Untuk menjaga ketersediaan air bagi tanaman tebu, akan dibangun sumur bor dengan kedalaman 100 meter dan bisa mengairi 50 hektar-60 hektar lahan tebu sehingga produksi bisa meningkat menjadi 80-100 ton per hektar.

Jika sumur bor sudah ada, tanpa bantuan dana pemerintah pun petani akan bisa mendapatkan pendanaan, semisal melalui mekanisme Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) dari bank-bank BUMN.

"Kami sudah melakukan survei lahan untuk pembangunan pabrik gula ini dan melihat potensi pengembangan lahan tebu di wilayah Pulau Madura ini. Kami optimistis pabrik gula baru ini bisa segera terwujud," kata Direktur Utama PTPN X Subiyono.

Terkait pergantian tanaman dari tembakau ke tebu, kata Bupati Pamekasan Achmad Syafii, memang tidak mudah. Apalagi panen tebu hanya sekali dalam setahun, sementara tembakau bisa dua-tiga kali. Produksi tembakau makin merosot sehingga perlu diperkenalkan tanaman baru, yaitu tebu karena secara kontur tanah, Madura sangat ideal.

"Tidak mudah bagi petani untuk langsung beralih ke tanaman tebu, tetapi jika sudah ada petani setempat yang berhasil dari menanam tebu, secara berangsur petani lain akan ikut menanam tebu," katanya. (ETA)