Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Simon Nanne Groot Benih untuk Jutaan Petani

Tanggal: 25 June 2019 | Sumber: Koran Harian Kompas | Penulis: Mukhamad Kurniawan

Simon Nanne Groot dinilai berperan dalam memberdayakan jutaan petani kecil di lebih dari 60 negara tropis di Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi. Kiprahnya juga dianggap memberikan manfaat bagi ratusan juta konsumen untuk akses yang lebih besar ke sayuran bergizi dan pangan sehat. Simon Nanne Groot adalah pembenih berusia 85 tahun asal Belanda yang pada 10 Juni 2019 diumumkan sebagai pemenang Penghargaan Pangan Dunia 2019 oleh Yayasan World Food Prize. Penghargaan itu diprakarsai oleh penerima Penghargaan Nobel Perdamaian, Norman Borlaug, sejak 1986 sebagai pengakuan atas pencapaian seseorang atas jasanya meningkatkan kualitas, kuantitas, dan ketersediaan pangan dunia. 

 

"Simon N Groot telah mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan taraf kehidupan sehari-hari jutaan orang di seluruh dunia," kata Presiden Yayasan World Food Prize Kenneth M Quinn pada pengumuman pemenang di Washington DC, Amerika Serikat, Senin (10/6/2019).

 

Menteri Luar Negari AS Mike Pompeo, sebagaimana dikutip Associated Press (AP), menyatakan, perbaikan luar biasa pada benih sayuran tropis tersebut membantu petani kecil di negara berkembang menghasilkan lebih banyak makanan, mendapatkan penghasilan lebih banyak untuk diri dan keluarga, mengurangi kelaparan, serta merangsang pertumbuhan ekonomi.

 

Simon lahir tahun 1934 di Enkhuizen, kota kecil di Belanda yang terkenal dengan perusahaan benih kelas dunia. Kakek buyutnya, Nanne J Groot, memasuki bisnis benih dan merintis benih unggulan Belanda pada awal abad ke-19. Pada 1867, Nanne J Groot mendirikan perusahaan benih Sluis & Groot dengan menggabungkan kekuatan anggota keluarga, termasuk ayah Simon, yakni Rutger Jan Groot.

 

Simon mulai tertarik dengan benih saat Perang Dunia II, yakni ketika pendudukan Jerman di Belanda. Jerman sangat menyadari pentingnya Enkhuizen sebagai pemasok benih mereka. Oleh karena itu, kota kecil tersebut menerima perlakuan jauh lebih baik dari Jerman dibandingkan dengan daerah lain di seluruh Belanda. Enkhuizen juga terhindar dari kelaparan yang melanda kota-kota lain.

 

Setelah lulus dari Erasmus University of Rotterdam dengan gelar di bidang ekonomi bisnis, Simon memasuki bisnis keluarga atas desakan ayahnya tahun 1958. Salah satu tugas pertamanya di Sluis & Groot adalah pelatihan dengan Vaughan's Seed Company yang berbasis di Chicago, AS. Di sini, dia belajar lebih banyak tentang industri benih AS. Ia kemudian ke Winfield, Illinois, di mana industri benih berada di tengah transisi dari tradisional ke pemuliaan tanaman yang lebih canggih.

 

Pada 1965, Simon melakukan perjalanan bisnis pertamanya ke Indonesia untuk mengatur produksi biji bunga untuk Sluis & Groot. Di dataran tinggi di selatan Jakarta, dia menemukan ladang yang ditanami kubis varietas "Glory of Enkhuizen" yang dibiakkan dan didistribusikan perusahaanya. Namun, varietas ini tidak tumbuh dengan baik di Indonesia.

 

Keliling

Pada 1981, Sluis & Groot di jual ke perusahaan Swiss, Sandoz, kemudian menjadi bagian dari Syngenta. Simon meninggalkan posisinya sebagai manajer pemasaran. Pada usia ke-47 saat itu, dia mulai menjelajah Asia Tenggara. Dia berbicara dengan pedagang benih dan petani serta mengunjungi pasar sayur. Dia melihat kelayakan visi untuk mendirikan perusahaan pembibitan benih sayuran pertama di kawasan itu. 

 

Pasar benih sayuran yang lebih baik dan berkualitas tinggi tidak ada di Asia Tenggara pada waktu itu. Ketika benih sayuran tersedia, kondisinya sering kali kadaluwarsa, umumnya berasal dari Eropa dan Amerika Utara. Selain itu, benih umumnya kurang beradaptasi dengan kondisi iklim tropis. Hasilnya adalah sayuran berkualitas rendah, mutu tak seragam, dan rentan penyakit tanaman.

 

Dia melihat potensi itu. Namun, Simon harus memulai sepenuhnya dari nol dengan modal sendiri yang terbatas sebab tidak ada bank atau organisasi yang mau mendanai usaha seperti itu. Akan tetapi, di Filipina dia bertemu dengan pedagang benih Benito Domingo yang memiliki koneksi lokal dengan perdagangan benih tradisional, industri pertanian, dan perguruan tinggi. Dia juga memiliki hasrat untuk mengembangkan benih. Keduanya membuat kombinasi yang saling melengkapi dengan membentuk perusahaan East-West Seed Company.

 

Ketika memulai perusahaan itu, pemuliaan sayuran komersial belum diketahui di daerah tropis. Petani kecil berjuang untuk menanam tanaman yang baik dengan benih berkualitas rendah yang menghasilkan panen yang rendah. Akibatnya, petani dan keluarganya tetap miskin dan kekurangan gizi. Simon bersimpati dengan kondisi itu dan melihat cara memutus lingkaran setan kemiskinan.

 

East-West Seed memulai pemuliaan tanaman awal dan melatih masyarakat lokal sebagai pemulia dan teknisi di area pertanian seluas 5 hektar di luar kota Lipa, Filipina. Alih-alih mengimpor benih, Simon meminta pemulia tanaman terlatih dari Wageningen Agricultural University di Belanda untuk memulai proses pemuliaan dan membantu penduduk setempat.

 

Asosiasi dengan Wageningen ini adalah yang pertama dari banyak kemitraan publik-swasta yang akan dikembangkan Simon untuk membantu misinya membawa benih berkualitas ke petani kecil. Simon tahu dia harus membangun bisnis berdasarkan kepercayaan antara petani dan pembenih.

 

Ke Indonesia

Setelah sukses di Filipina, Simon ekspansi ke Thailand tahun 1984, lalu ke Indonesia tahun 1990. Di Indonesia, dia mendirikan tiga pusat pembibitan untuk meneliti tanaman dataran tinggi, sedang, dan rendah. Strategi ini menghasilkan varietas yang sesuai dengan masing-masing daerah, termasuk tomat dataran rendah komersial yang pertama di Indonesia. Kini petani dataran rendah bisa memproduksi tomat untuk pasar terdekat dan tak perlu lagi mengangkut tomat dari dataran tinggi.

 

Ketika varietas sayuran hibridda semakin poluer di kalangan petani kecil Asia Tenggara, potensi pengembangan produksi sayuran segera menjadi jelas. Pertanian sayuran sering kali lebih menguntungkan daripada jenis lain karena penggunaan lahan yang lebih intensif, kemampuan untuk menanam sepanjang tahun, dan nilai ekonominya tinggi. Namun, tak semua petani tahu cara membuka potensi tersebut. Oleh karena itu, dia mengelar pelatihan lapangan dan demonstrasi di daerah tertentu untuk melatih petani.

 

Program alih pengetahuan yang digelar East-West berkembang pesat. Kini 100 petugas melatih lebih dari 56.000 petani di delapan negara di Asia dan Afrika setiap tahun. Dengan transfer pengetahuan itu, petani bisa dengan cepat mengadaptasi sistem untuk mengoptimalkan produksi mereka.

 

Dalam kurun waktu empat dekade terakhir, Simon memperluas benih East-West di seluruh Asia, Afrika, dan kini Amerika Tengah, sambil menjaga kepentingan petani kecil di pusat bisnis. Kini lebih dari 20 juta petani di 60 negara berkembang menanam 973 benih East-West di 28 juta hektar lahan. Dengan benih dan teknik penanaman yang lebih baik, petani bisa menggandakan hasil panen hingga 2-3 kali lipat lebih tinggi.

 

simon telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang, termasuk pembenih dan perusahaan benih lain di industri pembibitan sayuran di daerah-daerah yang kurang terlayani di dunia. Meski memiliki pengalaman internasional yang luas dengan para pemimpin politik dunia, Simon Groot tetap menjadi orang yang sederhana. Dia sering mengatakan, "Melihat senyum lebar di wajah petani memberi saya kepuasan yang luar biasa."