Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Sesuaikan Jenis Tanaman Pangan untuk Adaptasi

Tanggal: 11 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

LEMBATA, KOMPAS — Perubahan iklim sudah mengubah jumlah curah hujan dan hari hujan di sejumlah daerah di Indonesia. Karena itu, petani tidak bisa lagi mengandalkan metode lama dalam bercocok tanam. Bagi daerah kering, petani mengutamakan pemilihan jenis tanaman pangan yang mampu bertahan di tengah minim hujan.

Wilayah Nusa Tenggara Timur pada umumnya merupakan daerah yang mengalami dampak berkurangnya hari hujan. "Komoditas yang jadi fokus pemerintah saat ini, yaitu pajale (padi, jagung, kedelai), butuh air dan pupuk cukup dan itu sulit didapatkan di daerah dengan lahan seperti di NTT," kata Direktur Program Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Teguh Triono, Selasa (10/5), di Lembata, NTT.

Teguh mengatakan, Bank Dunia, berdasarkan laporan tahun 2007, pernah meneliti soal komoditas tanaman pangan di wilayah Timor. Padi, jagung, dan sorgum termasuk di antara 11 komoditas yang pernah ada di sana. Bank Dunia mengakui adanya kearifan lokal dalam menentukan waktu mulai menanam setiap komoditas berdasarkan awal dan akhir musim hujan.

Namun, mengandalkan kearifan lokal saja saat ini tidak cukup. Perubahan iklim membuat jadwal penanaman berbagai komoditas kacau. Upaya adaptasi diperlukan. Salah satunya dengan membiasakan penanaman jenis tanaman pangan yang lebih sesuai kondisi saat ini.

Jeri Letor, pendamping petani dari Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka (Yaspensel) Keuskupan Larantuka, NTT, mengatakan, sebelum tahun 2000, jumlah hari hujan di NTT (kecuali daerah bersuhu dingin seperti Manggarai dan Soe) masih lima bulan per tahun. Karena itu, menanam padi dan jagung masih memungkinkan.

Namun, jumlah hari hujan setelahnya berubah menjadi hanya dua bulan per tahun. "Padahal, usia tanam padi dan jagung tiga bulan," ujar Jeri.

Yayasan Kehati, kata Teguh, turut mendorong penanaman sorgum di NTT untuk menjadi pangan pokok mengingat sorgum andal pada kondisi minim air. Selasa kemarin, misalnya, Kelompok Tani Ile Nogo panen perdana sorgum di Dusun A Desa Wuakerong, Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata. Total luas lahan yang ditanami baru 7 hektar dengan produktivitas 3-4 ton per ha. Acara panen perdana itu, antara lain dihadiri Ketua DPRD Lembata Ferdinandus Koda, Direktur Yayasan Kehati M Senang Sembiring, dan Direktur Yaspensel Keuskupan Larantuka Romo Benyamin Daud Pr.

Sebelumnya, Senin lalu, warga Dusun Likotuden, Desa Kawaleo, Flores Timur, NTT, juga memanen sorgum. Dari 155 keluarga di Kawaleo, 62 keluarga menanam sorgum pada lahan 30 hektar dengan hasil panen 60 ton.

Jeri mengatakan, di Nagawutung, sorgum yang digunakan adalah sorgum putih dan tidak perlu digiling. Sorgum bisa langsung ditanak seperti nasi, tetapi sedikit lebih lama (nasi 10 menit, sorgum 30 menit). Air yang dibutuhkan untuk menanak sorgum dua kali lipat dibandingkan dengan air untuk menanak nasi.

Tantangan terbesar saat ini adalah membiasakan pemanfaatan sorgum sebagai pangan pokok menggantikan nasi. Dari tekstur, memang perlu terbiasa terlebih dulu mengingat sorgum agak keras seperti kacang hijau, sedangkan nasi lebih empuk. (JOG)