Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Serapan Gabah Terus Digenjot

Tanggal: 11 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

INDRAMAYU, KOMPAS — Perum Bulog terus menggenjot penyerapan gabah petani di berbagai wilayah. Namun, upaya itu belum maksimal karena selain panen padi belum merata, kualitas gabah juga masih belum sesuai ketentuan Bulog akibat cuaca tidak menentu.

 

Hingga Selasa (10/5), Perum Bulog Subdivre Indramayu, Jawa Barat, baru menyerap lebih dari 45.000 ton gabah kering panen (GKP). Padahal, target serapan gabah tahun 2016 sekitar 200.000 ton. Belum maksimalnya serapan padi dipicu luas panen di Indramayu diperkirakan masih 50 persen dari total tanam musim rendeng atau pertama seluas 125.875 hektar.

 

"Pagi (Selasa, 10/5) ini, kami menyerap sekitar 2.000 ton GKP, baik dari mitra maupun petani. Kami juga menambah jumlah mitra penggilingan padi menjadi 45 unit dari sebelumnya 25 unit," kata Asep Buhori, Kepala Perum Bulog Subdivre Indramayu.

 

Menurut Asep, harga GKP di tingkat petani masih tinggi, yakni Rp 4.100 per kg. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kg. Bahkan, kadar air GKP petani pun masih di atas 25 persen, dan butiran hampa juga melebihi 10 persen.

 

Meski demikian, Bulog setempat tetap menerima gabah petani. Harganya Rp 3.500 per kg. Apalagi kalau butiran hampanya melebihi 10 persen, gabah yang jadi beras hanya 40 persen.

 

Di Kabupaten Cirebon, harga gabah di tingkat petani mulai turun seiring panen raya di beberapa tempat. Rodiah (60), petani di Desa Cempaka, Kecamatan Talun, mengeluhkan harga gabah yang terus turun dua pekan terakhir hingga Rp 3.500 per kilogram GKP. "Harganya bukan lagi jatuh, melainkan menyusahkan petani," ujarnya.

 

Sementara itu, penyerapan GKP yang dilakukan Bulog Divre Sulselbar hingga Mei ini sudah 37 persen dari target 1 juta ton GKP atau sekitar 600.000 ton setara beras. Untuk stok raskin, dijamin aman hingga 14 bulan ke depan. Panen raya selama sebulan terakhir dimanfaatkan Bulog untuk terus menyerap gabah petani dengan target pencapaian hingga 70 persen pada Juni hingga Juli. Sisa 30 persen akan terealisasi pada musim tanam dua.

 

"Panen raya masih berlangsung di beberapa kabupaten dan kami manfaatkan untuk menyerap gabah petani. Ada 8.000- 10.000 ton gabah yang terserap tiap hari hingga panen raya musim tanam I berakhir. Harapannya di akhir musim tanam I, penyerapan hingga 70 persen. Sisanya dipenuhi pada musim tanam II," kata Kepala Bulog Divre Sulselbar Abdul Muis.

 

Pantauan di beberapa kabupaten, pekan lalu, menunjukkan, petani masih panen, seperti di Pinrang, Sulsel, dan Polman, Sulbar, juga sebagian wilayah Kabupaten Barru, Sulsel. Panen musim tanam I hingga akhir Juni atau awal Juni. Adapun musim tanam II pada Agustus-Oktober.

 

Kepala Dinas Pertanian Sulsel Aris A Mappeangin, beberapa waktu lalu, mengatakan, tahun 2016 volume produksi GKP ditargetkan 5,7 juta ton atau setara 3,3 juta ton beras. Target ini dinilai masuk akal mengingat hingga Desember 2015 produksi GKG daerah ini mencapai 5,5 juta ton setara 3,2 juta ton beras.

 

Panen raya padi yang berlangsung di Jateng tidak serta-merta menyebabkan turunnya harga beras. Harga beras premium pada sejumlah pasar di Kota Semarang justru naik sekitar Rp 300 sehingga menjadi Rp 10.000-Rp 11.000 per kilogram.

 

Sejumlah pedagang beras di Kota Semarang, Selasa (10/5), menuturkan, panen raya padi terlalu dominan menghasilkan beras medium, terutama varietas C4 dalam jumlah besar. Seperti di wilayah Demak, Grobogan, Kendal, dan Batang hanya memasok beras medium. "Panen raya di Demak saja sudah hampir selesai. Beras asal Demak tidak semuanya berkualitas bagus. Beras dari hasil panen petani di Demak banyak yang masuk golongan medium, harga GKP di tingkat petani Rp 3.900 per kilogram," ujar Sulis, pedagang beras Unggul di Pasar Dargo, Semarang.

 

Pedagang beras lain di Pasar penampungan sementara Johar di Kompleks Masjid Agung Jawa Tengah, Martono, mengemukakan, kini harga beras medium naik rata-rata Rp 100 per kilogram. Beras medium dijual antara Rp 9.200 per kilogram dan Rp 9.400 per kilogram.

 

Para pedagang memperkirakan kenaikan harga beras medium ini akibat terdorong kenaikan harga beras premium. Pasalnya, dari sisi cuaca, sebenarnya panen pada awal Mei ini sangat mendukung. Sudah jarang turun hujan, mestinya petani memperoleh kesempatan menjemur gabah di terik matahari dengan takaran waktu cukup untuk menghasilkan beras berkualitas.

 

Mitra Perum Bulog sekaligus pemilik UD Putra Harapan, Brangsong, Kabupaten Kendal, Hamid Aminudin, mengaku, beras berkualitas saat ini hanya bisa diperoleh di Limpung, Kabupaten Batang, Sukoharjo, Sragen, dan Klaten. "Biasanya menjelang Lebaran, kalangan menengah ke atas cenderung mencari beras premium buat stok," katanya.

 

 

(REN/WHO/IKI)