Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Sagu Papua, Sumber Pangan Terabaikan

Tanggal: 27 September 2018 | Sumber: Kompas.id | Penulis: AHMAD ARIF

Sagu merupakan sumber pangan lokal yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia dari Aceh dan Papua, namun belakangan dilupakan. Industrialisasi dan modernisasi produksinya, diharapkan bisa menjadikan sagu sebagai sumber pangan alternatif di masa depan.

 

Gizi buruk menjadi bom waktu di Papua dan beberapa kali meledak menjadi bencana seperti terjadi di Kabupaten Asmat awal tahun ini. Padahal, Papua memiliki sumber pangan berlimpah, salah satunya pohon sagu (Metroxylon sagu Rottb), yang tumbuh liar di hampir seluruh dataran rendahnya.

 

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Ketua Masyarakat Sagu Indonesia, MH Bintoro mengatakan, dari sekitar 5,5 juta hektar (ha) lahan sagu di Indonesia, 5,2 juta ha berada di Provinsi Papua dan Papua Barat. “Cadangan sagu di Papua merupakan yang terbesar di dunia, namun selama ini yang dimanfaatkan tidak sampai 1 persen. Sebagian besar mati sia-sia,” kata Bintoro.

 

Hal tersebut seperti terjadi di hutan sagu di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Hutan sagu itu terlihat rimbun saat Kompas menelusuri wilayah usaha PT ANJ Austindo Papua (ANJAP) di Sorong Selatan dengan perahu pada Selasa (4/9/2018). Kebanyakan tanaman itu siap panen, namun sebagian telah keluar bunga “tanduk rusa” di pucuknya yang menandai sebentar lagi akan mati.

 

“Jika sudah lewat masa panennya, tidak bisa dipanen lagi karena patinya tinggal sedikit sehingga oleh masyarakat biasanya dibiarkan mati,” kata Kepala Regional PT ANJAP, Christianus SA.

 

Tanaman sagu alam memiliki siklus hidup sekitar 10 – 12 tahun. Setelah dipanen, dua tahun kemudian di rumpun yang sama ada anakan yang siap ditebang lagi, begitu seterusnya.

 

Christianus mengatakan, satu pohon sagu alam di Papua rata-rata bisa menjadi 10 – 12 tual (1 tual sama dengan 1 meter). Sedangkan tiap tual rata-rata bisa menghasilkan 10 kg tepung sagu kering, sehingga satu batang sagu minimal bisa menghasilkan 100 kg tepung sagu kering.

 

Dari PT ANJAP, rata-rata ada 30 pohon sagu per hektar (ha) yang siap panen per tahun. Jadi, dengan luas lahan sagu di Papua yang mencapai 5,2 juta ha, potensi tepung sagu yang bisa dihasilkan bisa mencapai 15,6 juta ton tepung sagu per tahun.

 

Potensi pati sagu Papua ini sudah melebihi volume impor gandum nasional yang menurut data United States Department of Agriculture (USDA) pada tahun 2017/2018 mencapai 11,5 juta ton. Bintoro mengatakan, jika industri tepung terigu mau memakai tepung sagu 10 persen saja sebagai campurannya, hal itu sudah bisa menghemat devisa negara.

 

“Papua harusnya tak ada masalah kurang pangan dan gizi buruk, seperti terjadi Asmat awal tahun ini. Habitat sekitar hutan sagu biasanya kaya ikan dan udang dan juga aneka binatang buruan,” kata Bintoro.

 

Di Papua, tanaman sagu juga tak hanya jadi sumber karbohidrat, namun juga protein. Masyarakat memiliki kearifan lokal untuk memanen larva kumbang Rhynchophorus papuanus dari batang sagu yang ditebang dan dibiarkan di hutan hingga beberapa minggu. Penelitian Vita Purnamasari dari Universitas Cenderawasih di Jurnal Biologi Papua (2010) menyebutkan, kandungan protein berkualitas tinggi. Disebutkan, ulat sagu ini memiliki kandungan asam amino hingga 97,54 persen.

 

Sagu sebenarnya tak hanya menjadi makanan pokok masyarakat di Indonesia timur, seperti Papua dan Maluku, namun juga di bagian barat. Seperti dikisahkan penjelajah Italia, Marcopolo, saat mampir di Aceh dalam perjalanan dari China ke Venesia pada tahun 1292 dia menyaksikan penduduk setempat membuat roti dari pati sagu yang tanamannya bisa dijumpai di mana-mana di kawasan ini.

 

Sebagai bahan pangan olahan, menurut Bintoro, pati sagu saat bisa diolah menjadi mi, kue, campuran bakso dan sosis. Industri soun di Cirebon, Jawa Barat juga telah lama menggunakan sagu. Sedangkan di pasar global, pati sagu diminati Jepang, yang selama ini mengimpor sagu dari Malaysia. “Dari aspek kesehatan, tepung sagu juga bebas gluten sehingga baik untuk konsumen berkebutuhan khusus,” kata dia.

 

Industrialisasi sagu

 

Dengan segala potensinya, sagu Papua saat ini justru termajinalkan dalam peta pangan nasional. Bahkan, di Papua sendiri, masyarakatnya juga mulai meninggalkan sagu dan mulai beralih ke beras.

 

“Sejak ada raskin (beras untuk rakyat miskin), banyak orang di Papua tak lagi makan sagu, hanya tunggu bantuan beras saja. Terkadang, masyarakat jual sagu di Teminabuan (ibu kota Kabupaten Sorong Selatan) dan beli beras,” kata Sekretaris Kampung Saga, Distrik (Kecamatan) Metemani, Tomi Aitago.

 

Di tengah kondisi ini, PT ANJAP mencoba merintis industrialisasi sagu. Mereka mendapatkan konsesi pemanfaatan hutan sagu seluas 40.000 ha di sekitar Kampung Saga, Distrik Metemani, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat.

 

Sekalipun mengantongi izin konsesi, perusahaan harus membeli sagu dari masyarakat dengan harga Rp 5.000 per tual, dengan catatan batang sagu itu dibawa hingga tepi kanal. Sistem ini kemudian diganti karena produksinya tidak mencapai target. Mengangkut batang sagu sangat berat jika dikerjakan manual, itulah sebabnya secara tradisional masyarakat menokok sagu di hutan dan hanya membawa pulang patinya.

 

Akhirnya, proses penebangan hingga pengangkutan ke pabrik dilakukan perusahaan dengan alat berat. “Selain menerima Rp 800 per tual, masyarakat lokal kami pekerjakan di pabrik,” kata Cristianus. Saat ini total pekerja di perusahaan sagu ini mencapai 200 orang, di mana 75 persennya dari kampung setempat, 15 persen dari berbagai kampung lain di Papua, dan sisanya dari luar pulau.

 

Saat ini PT ANJAP baru bisa memproduksi 1.000 tual sagu per hari atau sekitar 10 ton sagu per hari dari kapasitas produksi 6.000 tual per hari. Volume produksi ini masih belum ekonomis karena biaya produksinya masih jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual pati sagu di pasaran sekitar Rp 6.000 per kg.

 

“Kami masih jual rugi,” kata Cristianus. “Nanti kalau sudah bisa produksi 3.000 tual atau 30 ton per hari, yang ditargetkan pada pertengahan tahun depan, baru bisa impas. Jika bisa produksi 5.500 tual per hari pada 2020, sudah bisa untung sehingga kita bisa naikkan harga beli tual dari masyarakat.”

 

Potensi besar 

 

Komisaris PT Austindo Nusantara Jaya (ANJ), induk perusahaan PT ANJAP, George S Tahija, dalam kunjungannya ke Kompas mengatakan, investasi yang telah dikeluarkan untuk industri sagu di Papua Baat mencapai 77 juta dollar dalam 10 tahun terakhir.

 

“Saat ini sudah ada titik terang, tetapi masih belum untung. Kenapa masih bertahan? Karena sagu adalah sumber pangan yang telantar, tapi sangat besar potensinya. Seharusnya bisa memberi dampak positif bagi masyarakat Papua,” kata dia.

 

Tak hanya bisa menjawab kebutuhan bahan pangan, industri sagu sebenarnya lebih ramah lingkungan dibandingkan industri berbasis hasil hutan lainnya, seperti industri pengolahan kayu, ataupun industri sawit. Berbeda dengan sawit yang monokultur dan harus dilakukan pembersihan lahan bahkan juga dengan pengeringan gambut, tanaman sagu justru bisa tumbuh baik di rawa-rawa atau pun lahan gambut.

 

Sagu secara alami bisa tumbuh dengan tanaman lain dan tidak perlu diberikan input pertanian, berupa pupuk, herbisida atau pestisida. Regenerasi sagu juga tergolong cepat karena tumbuh berumpun.

 

“Secara sosial industri sagu alam juga lebih ramah terhadap masyarakat lokal karena mereka masih bisa berburu atau mencari ikan di hutan sagu. Kalau sawit biasanya akses masyarakat tertutup,” kata Penasihat Dewan Direksi ANJ, Titayanto Pieter.

 

Sekalipun grup perusahaannya juga mengembangkan sawit, namun untuk Papua menurut Titayanto, lebih cocok dikembangkan industri sagu. Tanaman ini dinilai bisa menjadi masa depan Papua….