Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Roadmap Produk Bioteknologi Disiapkan

Tanggal: 12 September 2017 | Sumber: Media Indonesia | Penulis: Andhika Prasetyo

KEMENTERIAN Koordinator Perekonomian tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan produk rekayasa genetika atau bioteknologi di dalam negeri. "Akhir tahun ini diharapkan sudah selesai sehingga pada 2018 (roadmap itu) bisa dilaksanakan," kata Asdep Prasarana dan Sarana Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Ignatia Maria Honggowati dalam Diskusi Dampak Global Tanaman Biotek: Efek Ekonomi dan Lingkungan 1996-2015, di Jakarta, Senin (11/9)..

 

Menurut dia, peta jalan pengembangan produk rekayasa genetika sebagai acuan instansi terkait dan pemangku kepentingan dalam pengembangan benih hasil bioteknolegi di dalam negeri.

Dengan demikian, lanjutnya, pengembangan benih produk rekayasa genetika itu nantinya lebih disesuaikan untuk kebutuhan dalam negeri. Saat ini, peta jalan pengembangan produk rekayasa genetika dalam pembahasan dengan melibatkan perguruan tinggi dan pemangku kepentingan terkait. Ekonom senior Indef, Bustanul Arifin, menilai ada keraguan dari pemerintah untuk mengembangkan produk rekayasa genetika meski di sejumlah negara sudah pesat dimanfaatkan.

 

Keraguan itu karena penyerapan benih unggul di petani masih lambat apalagi nantinya dengan adanya benih hasil bioteknologi. "Benih baru yang dihasilkan peneliti (Badan Litbang Pertanian) saja kini tidak banyak dipakai petani." Padahal, kata pengajar di Universitas Lampung itu, dengan penurunan kapasitas sumber daya pertanian saat ini, terutama lahan persawahan, sulit meningkatkan produktivitas tanpa penggunaan benih unggul. "Tidak mungkin hanya mengandalkan luas tambah tanam untuk meningkatkan produksi. Dengan bioteknologi, akan ada lompatan produktivitas," kata Bustanul.

 

Produktivitas meningkat

Direktur PG Economics Graham Brookes mengungkapkan penerapan tanaman bioteknologi di sejumlah negara selama 20 tahun terakhir menunjukkan pengurangan penggunaan pestisida sebanyak 619 juta kilogram atau 8,1% secara global. Tanaman biotek, lanjutnya, memungkinkan petani menanam lebih banyak tanpa perlu menggunakan lahan tambahan karena adanya peningkatan produktivitas tanaman. "Dari 1996 hinga 2015, di semua pengguna teknologi ini hasil panen meningkat rata-rata 13,1% untuk jagung IR dan 15% untuk kapas IR, sedangkan kedelai rata-rata 9,6%," kata Brookes.

 

Dengan pengendalian hama dan gulma yang lebih baik, menurut Brookes, bioteknologi tanaman akan membantu meningkatkan hasil panen petani sehingga pendapatan mereka lebih tinggi.

Direktur Indonesia Biotechnologi Centre Bambang Purwantara optimistis dalam waktu yang tidak lama lagi benih produk rekayasa genetika akan dapat dimanfaatkan secara nyata oleh petani di Tanah Air.

 

Apalagi, tambahnya, saat ini sejumlah lembaga telah menghasilkan benih bioteknologi, seperti PTPN XI berupa tebu tahan kering, LIPI berupa padi BT, dan Balitbangtan bersama Cornel University yakni kentang tanah hawar daun. (Ant/E-3)