Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Riset Aspal Campuran Didorong

Tanggal: 18 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

BOGOR, KOMPAS — Penggunaan karet alam sangat beragam. Salah satunya inovasi karet untuk infrastruktur jalan karena hanya 220.000 kilometer jalan di Indonesia yang telah diaspal dari total 500.000 km.

 

Indonesia menyumbang 26 persen produksi karet dunia dengan 3.108.000 ton (2015). Dari total itu, Indonesia hanya menyerap 550.000 ton atau 18 persen produksi nasional.

 

"Salah satu sektor yang bisa meningkatkan konsumsi karet adalah infrastruktur," ujar Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto pada Rubber Technology Workshop 2016, di Bogor, Selasa (17/5). Turut hadir Deputi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdalifah Machmud, Sekjen International Rubber Research and Development Board Datuk Abdul Aziz SA Kadir, dan Direktur Pusat Penelitian Karet Indonesia Karyudi.

 

Salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah aditif aspal karet alam. Itu campuran aspal dengan kompon karet untuk meningkatkan mutu jalan. Ada dua tipe karet untuk campuran aspal karet, yakni karet vulkanisir yang biasanya dari ban bekas yang diparut jadi bubuk dan karet mentah yang dibagi menjadi karet sintetis dan karet alam.

 

Karet alam lebih disarankan karena tak semahal penggunaan karet sintetis dan ramah lingkungan. "Ada dua bahan, yakni karet padat dan lateks. Keduanya dicampurkan aspal untuk menciptakan jalan berkualitas tinggi," ujar peneliti Pusat Penelitian Karet, Dadi R Maspanger.

 

Bermutu baik

 

Hasil riset dua tahun, uji coba jalanan aspal karet di Cigelung, Banten, pada 1985 dan Cileunyi, Jawa Barat, pada 1992, mutunya lebih baik ketimbang aspal biasa. "Umur jalan naik 50 persen dibanding aspal biasa. Meski 25 persen lebih mahal, secara keseluruhan menguntungkan," kata Dadi.

 

Hal itu didukung Direktur Rubber Industry Group Thailand Nopparat Vichitcholchai. Di Thailand, aspal karet diuji coba di Krabi, Chiang Mai, Chantaburi, dan Nakhonsrithammarat. "Usia jalanan yang biasanya 3-4 tahun dengan aspal biasa meningkat jadi 8-10 tahun," ujarnya.

 

Persyaratannya, campuran karet alam dibatasi 5 persen untuk jaga mutu. Dengan perhitungan konsumsi karet alam 0,305 kg per meter persegi untuk jalanan selebar 11 meter, sebanyak 3,3 ton karet alam per km akan diserap. "Bayangkan dengan 280.000 km jalan yang belum diaspal di Indonesia," ujar Panggah.

 

Saat ini, Indonesia tengah mengembangkan peluang menggunakan aspal karet. "Perlu payung hukum untuk memaksa penyerapan karet dalam negeri," ujar Dadi. Kementerian Perindustrian, Pusat Penelitian Karet Indonesia, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tengah bekerja sama menyusun peraturan hukum.

 

Produk lain adalah dock fender, bantalan karet di dermaga untuk meredam benturan badan kapal ketika merapat. (C01)