Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

RI Masih Hati-hati Kembangkan Tanaman Biotech

Tanggal: 20 February 2012 | Sumber: detikfinance | Penulis: zulfi suhendra

 

Jakarta - Pemerintah masih berhati-hati mengembangkan tanaman yang berbasis bio teknologi atau biotech. Walaupun metode ini dibanyak negara berhasil memproduksi tanaman bisa meningkat.

 

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengatakan implementasi biotech belum masuk ke Indonesia karena masih dianggap pro dan kontra. Ia berpendapat teknologi ini bukan segala-galanya namun hanya sebagai alat penunjang teknologi-teknologi bidang pertanian konvensional yang sudah ada. Diakuinya penerapan teknologi ini bisa menurunkan ongkos produksi karena pemangkasan pembelian pestisida dan lain-lain.

 

"Biotech adalah salah satu solusi bukan segala-galanya untuk meningkatkan tingkat produksi dan juga mengurangi cost karena terjadi pengurangan terhadap pengurangan pestisida dan lainnya, tetapi yang banyak dikhawatirkan apabila ini manjadi masif atau besar apakah ini telah teruji pada masalah lingkungan maka bahwa ini harus diyakinkan menjadi baik untuk masa depan" katanya di kantornya, Ragunan, Jakarta, Senin (20/2/2012)

 

Ia menjelaskan teknologi pada prinsipnya bisa menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan peningkatan produksi dan menekan biaya produksi yang lebih rendah. Pemerintah saat ini masih mengkaji soal teknologi pertanian ini lebih mendalam.

 

"Oleh karena itu saya meminta pusat penelitian biotech untuk membuat roadmap peta implementasi biotech itu segera dibutuhkan untuk mengetahui perkembangan biotech di Indonesia keunggulan dan kelemahannya harus dijelaskan secara terbuka dan jujur kalau ini punya masa depan yang baik maka kementan akan mengadob," katanya.

 

Pihak International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) mengungkapkan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi setiap negara untuk mensukseskan komersialisasi tanaman biotech.

 

Founder and Chairman ISAAA, Clive James mengatakan ada tiga persyarakatan yang diperlukan untuk mensukseskan komersialisasi tanaman biotech, yaitu negara harus memberikan jaminan dukungan dan kemauan politik. Kemudian mengembangkan teknologi yang inovatif dan memiliki dampak yang nyata.

 

Dalam peta tanaman biotech global, Amerika Serikat tercatat sebagai produsen utama tanaman biotech dengan luas area tanaman biotek sekitar 69 juta hektar, dengan tingkat adopsi rata-rata 90% dari seluruh tanaman biotek utama. Urutan kedua ditempati Brasil dengan luasan area sekitar 30,3 juta hektar.

 

Kemudian India berada diurutan nomor tiga, selama 10 tahun membudidayakan tanaman kapas biotech dengan luas area sekitar 10,6 juta hektar selama 2011. Cinba berada diurutan berikutnya, yang mengadopsi kapas biotek sebesar 71,5% luas lahan kapas atau sebesar 3,9 juta hektar. (hen/dnl)