Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Resistensi Antimikroba Ancam Ketahanan Pangan-Sosialisasi kepada Peternak Digalakkan

Tanggal: 9 November 2017 | Sumber: Koran Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Resistensi antimikroba mengancam kesehatan manusia dan ketahanan pangan di masa depan, khususnya sektor peternakan dan kesehatan hewan. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyasar usaha peternakan terkait pemakaian antibiotik.

 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyatakan hal itu pada jumpa pers penyelenggaraan "Pekan Kesadaran Antibiotik," Rabu (8/10), di Kementerian Pertanian, Jakarta.

 

Jika tad ada upaya global, para ahli memperkirakan resistensi antimikroba (AMR) akan menjadi mesin pembunuh nomor satu di dunia dengan angka kematian 10 juta jiwa pada 2050. Asia dan Afrika memiliki risiko tertinggi daripada kawasan lain.

 

Resistensi kuman pada obat antimikroba (antibiotik) pada manusia atau hewan terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Itu dipicu pemakaian antiobiotik berlebihan dan tak sesuai. Kerugian ekonomi akibat AMR diperkirakan 1,5 miliar euro per tahun, antara lain karena biaya perawatan naik dan produktivitas menurun.

 

Tanpa intervesi efektif dan tepat waktu, laju AMR diperkirakan naik 40 persen, sedangkan kematian manusia secara global bisa melonjak dari 700.000 kasus pada 2014 menjadi 10 juta kasus pada 2050. Dari jumlah itu, sebagian besar kasus diperkirakan terjadi di Asia dan Afrika.

 

Ketua tim Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) pada Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) James Mc Grane menyatakan, saat mikroba menjadi kebal terhadap satu atau beberapa jenis antibiotik, infeksi yang dihasilkan mkikroba sulit disembuhkan dan bisa mematikan. Mikroba yang kebal bisa menyebar ke lingkungan sekitar, rantai makanan, dan manusia.

 

Rencana aksi

Oleh karena itu, pemakaian antimikroba pada ternak sebaiknya dihindari jika tak perlu. Salah satu cara mengendalikan pemakaian antibiotik di sektor peternakan ialah menerapkan biosekuriti tiga zona, yakni area kotor, area persiapan, dan area produksi. Faktor risiko yang dikendalikan berasal dari orang, benda, dan hewan untuk mencegah virus, bakteri, dan parasit masuk serta menginfeksi ternak.

 

Terkait itu, menurut Ketut, pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Pertahanan menyusun rencana aksi nasional penanggulangan AMR. Khusus di peternakan, pemerintah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (growth promoter) ternak.

 

"Kementerian Pertanian juga mulai mengawasi AMR di jawa barat, Banten, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang serta survei pemakaian antimikroba di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan pada 360 peternak ayan pedaging," ucap Ketut.

 

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menggelar kegiatan pekan kesadaran antibiotik. Itu dilakukan bersama FAO ECTAD, Lembaga ReAct (Action on Antibiotic Resistance), Center for Indonesia veterinary Analytical Study (CIVAS), Yayasan Orangtua Peduli (YOP), dan Pinsar Petelur Nasional. Tahun ini kegiatan diadakan di fakultas kedokteran hewan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin.

 

Perubahan perilaku

Ketua ReAct Asia Pasifik Sujith Chandy menambahkan, pengendalian laju AMR perlu ditempuh lewat komunikasi dan pelatihan yang efektif. Upaya mengubah perilaku berbasisi keilmuan melibatkan pelaku lintas sektor, mencakup pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil.

 

Pendiri YOP, Purnamawati Sujud, menambahkan, pemakaian antibiotik pada manusia dan pangan tinggi. Namun, banyak warga tak tahu antbiotik tidak bisa membunuh virus. Menurut survei, hanya 43 persen responden di Eropa mengetahui antibiotik tak bisa membunuh virus dan 56 persen tak tahu antiobiotik tak efektif untuk batuk dan pilek.

 

Terkait hal itu, semua pihak terkait didorong agar meningkatkan komunikasi dan kolaborasi dalam mengendalikan pemakaian antibiotik di semua sektor. Harapannya, dunia tak lagi kembali ke era sebelum antibitik ditemukan, yakni saat infeksi bakteri dan penyakit ringan tak bisa ditangani dan berujung kematian. (CAS/MKN/DD04)