Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Regulasi Hambat Pelepasan Varietas Tanaman Pangan

Tanggal: 30 January 2018 | Sumber: kompas.id | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Ketidaksiapan regulasi dinilai menghambat pengembangan varietas tanaman pangan hasil rekayasa genetika. Padahal, pengembangan varietas semakin dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, baik jumlah, citarasa, maupun mutunya.

 

Regulasi yang dimaksud adalah ketiadaan pedoman pengawasan pascapelepasan varietas dan prosedur pelepasan varietas tanaman pangan produk rekayasa genetika. Ketentuan yang ada, yakni Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 61 Tahun 2011 tentang Penilaian Pelepasan dan Penarikan Varietas Tanaman, dinilai belum mewadahi kebutuhan.

 

Hal ini menjadi salah satu poin yang mengemuka pada diskusi Refleksi dan Masa Depan Bioteknologi Pertanian dalam Mendukung Kedaulatan Pangan di Indonesia yang digelar Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC), Senin (29/1), di Jakarta.

 

Sesuai Permentan No 61/ 2011, penyelenggaraan uji adaptasi (pengujian untuk mengetahui keunggulan dan interaksi varietas terhadap lingkungan) dan uji observasi (pengujian untuk mengetahui sifat unggul dan daya adaptasi) untuk pelepasan varietas harus melibatkan Badan Benih Nasional (BBN). Namun, pemerintah membubarkan BBN sejak 30 Desember 2016 dengan pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas pemerintahan.

 

Mantan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menyatakan, pembubaran itu bertujuan menyederhanakan prosedur sekaligus mengefisienkan proses pelepasan varietas. Pembubaran itu mensyaratkan perubahan atau penyempurnaan regulasi. Namun, hal itu belum terpenuhi sehingga jadi pengganjal.

 

”Tujuan pembubaran (BBN) itu untuk menyederhanakan, bukan justru membuat proses lebih lama,” ujar Bayu.

 

Terganjal

 

Desmarwansyah, Direktur Biotek dan Benih Croplife Indonesia, asosiasi yang mewakili industri dan petani pengguna benih dan pestisida, menyatakan, hasil penelitian bertahun- tahun yang memakan biaya tak sedikit tidak bisa segera dilepas dan dimanfaatkan petani karena terganjal prosedur pelepasan.

 

Dia mencontohkan, jagung toleran herbisida telah dirintis sejak 2000. Namun, sampai sekarang, varietas jagung ini belum bisa dipasarkan karena belum mengantongi izin pelepasan varietas.

 

Produk bioteknologi lainnya, yakni tebu tahan kekeringan, juga terlambat disebarluaskan karena kendala yang sama. Menurut Direktur IndoBIC Bambang Purwantara, Indonesia merintis tebu tahan kekeringan lebih awal. Namun, pemanfaatannya tertinggal dari Argentina yang sebenarnya belakangan memulai penelitian.

 

Pemanfaatan bioteknologi di sektor tanaman pangan berkembang pesat di dunia. Berdasarkan data ISAA, adopsi tanaman biotek secara global meningkat lebih dari 100 kali lipat dalam kurun 21 tahun sejak komersialisasi.

 

Dalam laporan ISAA yang bertajuk ”Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops: 2016” disebutkan, tanaman bioteknologi menunjukkan manfaat baik bagi petani maupun konsumen. (MKN)