Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Produktivitas Dibenahi Serangan Hama Hambat Produksi Kakao di Sulsel

Tanggal: 22 January 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

MAKASSAR, KOMPAS — Petani kakao di sentra produksi Sulawesi Selatan menyambut baik rencana pemerintah mendukung peningkatan produktivitas tanaman. Hal itu diperlukan agar petani kembali bergairah menanam, memelihara, dan meningkatkan produktivitas tanaman kakao.

 

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia Sulawesi Selatan Andi Sulaiman Loeloe mengatakan, permasalahan yang dihadapi petani, yakni adanya serangan hama penyakit dan usia tanaman yang kian tua. Pada tahun 2014, produktivitas lahan kakao di Sulsel rata-rata 800 kilogram (kg) per hektar per tahun. Volume itu menurun lagi pada 2015 menjadi sekitar 734 kg per hektar per tahun.

 

"Akibat produksi yang rendah pendapatan petani pun turun sehingga kemampuan petani untuk membeli sarana produksi, seperti pupuk, obat hama dan penyakit juga rendah," kata Sulaiman. Ia menambahkan, sekitar 60 persen dari 246.000 hektar tanaman kakao di Sulsel yang berusia di atas 16 tahun.

 

Untuk itu, petani membutuhkan dukungan dari pemerintah berupa pembasmi hama dan penyakit, pupuk serta peremajaan tanaman. "Kami menyambut baik niat pemerintah dalam program kakao berkelanjutan yang dimulai tahun ini," katanya.

 

Lebih jauh menurut Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kakao Lili Riawang, Kabupaten Bone, Sulsel, Sundin, tahun lalu produktivitas lahan kakao di Gapoktan anjlok 70 persen. "Selain kekeringan dan serangan penyakit penggerek buah, kebanyakan tanaman juga berusia di atas 30 tahun," katanya.

 

Ia juga mengharapkan adanya peremajaan tanaman. "Kami berharap setiap petani dapat dibantu 500-1.000 pohon untuk peremajaan," ujar Sundin.

 

Kepala Dinas Perkebunan Sulsel Achmar Manring mengaku tahun ini menyiapkan sejumlah program peningkatkan produktivitas lahan kakao. Salah satunya yakni intensifikasi untuk lahan seluas 31.000 hektar dengan bantuan pemupukan.

 

Sementara itu, di Sigli, Pidie, Aceh, harga kakao dikendalikan tengkulak. Luas lahan perkebunan kakao mencapai 10.150 hektar dengan total produksi setiap hekltar 1.674 ton per tahun. Harga kakao kering di tingkat petani Rp 30.000 per kg atau turun dari Rp 33.000 per kg pada dua bulan sebelumnya.

 

Samuni (52) petani kakao menambahkan, tengkulak langsung datang ke kebun warga. "Tengkulak yang tentukan sepenuhnya. Kami tak mungkin menahan barang, sementara kebutuhan banyak yang harus dipenuhi," kata Samuni.

 

Tanaman kopi

 

Anomali cuaca saat ini telah memengaruhi tanaman kopi di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bunga kopi mudah rontok dan waktu pemasakan buah di tangkai pun menjadi lebih lama.

 

Sejumlah petani di sentra kopi di lereng Gunung Kawi dan lereng Semeru menuturkan, tahun-tahun sebelumnya hujan berlangsung terus-menerus, tetapi saat ini diiringi jeda cukup panjang dan bersifat lokal. "Kondisi cuaca jelas berpengaruh. Kopi mulai berbunga ketika musim hujan tiba. Tahun ini, begitu berbunga langsung disambut cuaca yang kurang kondusif. Sering panas sehingga bunga-bunga kopi mudah rontok. Tahun lalu hujan berkesinambungan sehingga hasilnya lumayan," ujar Drain (65), petani di Ngajum.

 

Drain memiliki sekitar 100 pohon kopi lokal yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain di lereng tenggara Kawi. Saat ini harga biji kopi kering mencapai Rp 23.000 atau lebih rendah dari sebelumnya Rp 25.000 per kg.

 

Dalam kondisi cuaca normal, menurut Drain satu pohon kopi produktif bisa menghasilkan lebih dari 1 kg biji kopi basah dalam sekali memetik. Dalam kondisi sekarang maksimal 0,75 kg.

 

Pendapat senada dikatakan Paidi (57), petani di Wagir. Menurutnya saat ini buah kopi yang menempel di ranting tak lebat. Selain karena pupuk, cuaca turut berperan. "Selain menyebabkan bunga rontok, cuaca yang kurang tepat juga menyebabkan hama, seperti penggerek mudah menyerang," ujar Paidi yang memiliki sekitar 200 pohon kopi jenis robusta.

 

(ENG/WER/AIN)