Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

PRODUK REKAYASA GENETIKA: Bioteknologi Siap Melaju Awal 2018

Tanggal: 12 September 2017 | Sumber: Banten.bisnis.com | Penulis: Azizah Nur Alfi

JAKARTA – Perkembangan bioteknologi di dalam negeri diharapkan dapat berlari kencang menyusul disusunnya peta jalan percepatan pengembangan produk rekayasa genetik 2018-2045.

 

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menargetkan peta jalan percepatan pengembangan produk rekayasa genetik yang disusun sejak akhir 2016 bisa selesai pada penghujung tahun ini supaya dapat dilaksanakan pada awal 2018.

 

Asisten Deputi Prasarana dan Sarana Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Ignatia Maria Honggowati memaparkan, peta jalan ini memberikan acuan kepada instansi terkait dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan produksi dan pemanfaatan benih produk rekayasa genetik (PRG) produksi dalam negeri.

 

Ruang lingkup peta jalan meliputi manfaat dan keuntungan ekonomi, faktor-faktor strategis pengembangan benih produk rekayasa genetik, analisis lingkungan strategis pengembangan benih produk rekayasa genetik, strategi pengembangan benih produk rekayasa genetik, dan rencana aksi.

 

“Selama ini, instansi terkait masih berjalan sendiri sehingga pengembangan produk rekayasa genetik seolah jalan di tempat. Padahal, beberapa negara sudah lebih dulu mengadopsi produk rekayasa genetik,” kata Maria dalam diskusi Dampak Global Tanaman Biotek: Efek Ekonomi dan Lingkungan 1996-2015, Senin (11/9).

 

Dia menilai adopsi bioteknologi menjadi solusi ditengah peningkatan konsumsi, sementara lahan pertanian terbatas dan cenderung menyusut.

 

Maria menjelaskan, diantara peta jalan tersebut akan mendorong regulasi yang mengatur prosedur monitoring dan evaluasi yang sampai saat ini belum ada. Ini menjadi tugas Kementerian Pertanian.

 

Kekosongan regulasi ini menjadi kendala ketika benih bioteknologi akan dirilis. "Termasuk kekosongan regulasi monitoring dan evaluasi akan masuk ke road map. Road map mendorong kementerian yang bertugas segera menyelesaikan itu," katanya.

 

Peta jalan ini sekaligus mendorong pengembangan riset PRG dalam negeri. Apalagi Indonesia dinilai masih minim peneliti dan anggaran riset yang kecil.

 

PRG bermanfaat meningkatan produktivitas dan pendapatan pertanian, meningkatkan kualitas hasil panen, dan mengurangi dampak kerusakan dan pencemaran lingkungan.

 

Meskipun demikian, penggunaan benih produk rekayasa genetik masih menghadapi isu negatif seperti kerusakan lingkungan, sosial ekonomi, kesehatan, dan kerap dianggap tidak halal.

 

Padahal, Indonesia telah memiliki landasan hukum penggunaan produk rekayasa genetik seperti PP No. 21/2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (PRG) yang mengatur antara lain jenis dan persyaratan PRG, pemasukan PRG dari luar negeri, pengkajian, pelepasan dan peredaran, dan pemanfaatan PRG. "Penggunaan benih PRG harus segera di-launching sebelum isu negatif semakin kencang," imbuh Maria.

 

Kepala Balitbang Pertanian Muhamad Syakir mengatakan, regulasi yang mengatur prosedur monitoring dan evaluasi pelepasan produk rekayasa genetika masih dibahas. "Kita lihat nanti [peta jalan bioteknologi]," kata dia ditemui di DPR.

 

LARI KENCANG

 

Direktur Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBic) Bambang Purwantara menilai saat ini banyak peraturan yang membatasi pengembangan bioteknologi.

 

Salah satu contohnya, proses perizinan sejak pengembangan hingga pelepasan benih untuk konsumsi cukup rumit dan butuh setidaknya waktu 7 tahun untuk sampai diloloskan. Maka dari itu, menurutnya, pemerintah perlu memikirkan kebijakan yang bersahabat dengan pengembangan bioteknologi maupun produk rekayasa genetik.

 

"Juga perlu penguatan riset. Monsanto [perusahaan di sektor agribisnis] memiliki 1.000 peneliti dengan investasi besar. Sementara [itu], Indonesia anggaran riset dipotong setiap tahun. Kita tidak bisa berharap banyak dengan anggaran yang terus dipotong," kata Bambang.

 

"Indonesia belum masuk dalam peta tanaman biotek, sementara Brazil, India, dan Argentina sudah lebih masif," imbuh Bambang.

 

Adapun, salah satu contoh pengembangan benih PRG di dalam negeri adalah tebu toleran kekeringan yang dikembangkan PTPN XI bersama dengan Universitas Jember yang saat ini sudah memperoleh sertifikat pelepasan varietas.

 

Ada pula padi BT yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang saat ini dalam proses memperoleh serifikat keamanan hayati.

 

Di sisi lain, kentang tahan penyakit hawar daun yang dikembangkan Kementerian Pertanian dan Cornell University yang saat ini dalam proses memperoleh sertifikat kemanan hayati.