Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Petani Menunggu Lampu Hijau Bioteknologi

Tanggal: 1 October 2019 | Sumber: Tabloid Sinar Tani.com | Penulis: Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemanfaatan bioteknologi di Indonesia masih tarik ulur. Sikap kehati-hatian yang pemerintah ambil, membuat perkembangan bioteknologi di dalam negeri cenderung lambat. Bahkan Ethiopia kini menjadi negara maju dalam pertanian karena menerapkan bioteknologi.

 

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir menilai, bioteknologi bisa menjadi jawaban terhadap permasalahan produksi pangan, seperti pelandaian produksi padi di dalam negeri. “Sekarang ini telah ada teknologi tinggi yang menghasilkan pangan dan mampu secara efektif menjwab kendala peningkatan produksi yakni bioteknologi,” ujarnya dalam Focus Group Diskusi (FGD) Akselerasi Penerapan Teknologi Pertanian di Indonesia, Selasa (1/10).

 

Menurutnya, Indonesia mesti belajar dari Ethiopia dalam memajukan pertanian. Negara di Afrika tersebut dulu pernah belajar dari Indonesia untuk mengembangan pertanian. Namun kini dengan menerapkan bioteknologi, Ethiopia justru menjadi negara yang maju dalam pertanian, bahkan mengalahkan Indonesia. “Artinya kita ada yang salah dalam pertanian Indonesia,” ujar Winarno.

 

Indonesia lanjut Winarno, seharusnya sudah mulai membuka diri dalam penerapan bioteknologi. Selama ini pemerintah menerapkan prinsip kehati-hatian dalam bioteknologi, tapi yang terjadi justru teknologi tersebut tidak berkembang.

 

Padahal menurutnya, Indonesia termasuk negara yang rawan terhadap produksi, terutama gangguan terhadap gangguan produksi akibat iklim dan hama penyakit tanaman. Kalkulasinya, dengan jumlah produksi beras sebanyak 32,42 juta ton dengan luas panen 10,9 juta hektar (ha) dan konsumsi sebesar 29,78 juta ton, hanya tersisia sekitar 2,64 juta ton atau 3,08 persen untuk cadangan.

 

“Kalau saat ini mungkin produksi padi kita masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tapi dalam jangka panjang kita berada dalam ancaman, terutama kalau ada anomal iklim,” tuturnya.

 

Sebab pertumbuhan produksi padi di dalam negeri rata-rata hanya 0,23 persen, sedangkan kenaikan jumlah penduduk mencapai 1,36 persen pertahun. Terlihat, produksi padi Indonesia mengalami pelandaian. Diperkirakan populasi penduduk Indonesia tahun 2030 mencapai 307 juta jiwa.

 

Jika pertumbuhan produksi seperti sekarang ini, maka tahun 2030 Winarno memprediksi Indonesia akan minus 12 juta ton beras. Padahal untuk mencukupi kebutuhan beras akan bersaing dengan China dan India. “Jika harus impor  akan terjadi perebutan pembelian beras dengan China dan India. Kalau kita punya uang tidak masalah, bagaimana kalau tidak ada uang?” tegasnya.

 

Salah satu penyelamat pangan Indonesia adalah potensi lahan rawa yang mencapai 33,43 juta ha. Dari jumlah itu sekitar 11,9 juta yang potensial untuk usaha pertanian. Potensi itu harus dimanfaatkan. Saat ini sudah diusahakan di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Diperkirakan kemampuan sekitar 500 ribu ha/tahun.

 

“Pemanfaatan lahan itu tidak hanya dengan cara konvensional, tapi harus sudah menerapkan bioteknologi,” tegasnya. Bahkan Winarno berharap pemerintah tidak perlu ragu lagi dalam menerapkan bioteknologi. Pasalnya, negara maju seperti AS sudah memiliki luas tanam berbasis bioteknologi sebesar 73,1 juta ha untuk budidaya kapas, kedelai dan jagung.

 

“Kita juga punya fakta, banyak komoditas pangan seperti kedelai dan jagung yang kita konsumsi sehari-hari justru berasal dari produksi bioteknologi. Sementara kita sendiri  belum berani mengadopsi teknologi tersebut,” tuturnya.