Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

PERTANIAN - Petani Butuh Sentuhan Teknologi

Tanggal: 9 August 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

BANDUNG BARAT, KOMPAS - Sebagian besar petani di Indonesia membutuhkan teknologi pertanian guna meningkatkan produktivitas ekonomi yang belum tergarap. Selain itu, sentuhan teknologi diharapkan ikut memacu minat generasi muda bertani.

 

Hal itu terungkap dalam peresmian instalasi green house dan tempat pengemasan produk pertanian di Balai Besar Pelatihan Pertanian di Bandung Barat, senin (8/8). Kedua fasilitas itu hadir atas kerja sama Kementerian Pertanian dan Kelompok Teknik Taiwan dari Taipei Economic and Trade Office (TETO).

 

Kepala Pusat Penelitian Pertanian di Kementerian Pertanian Widi Hardjono mengatakan, potensi produksi pertanian di Indonesia masih terbuka untuk dikembangkan. Langkah itu diyakini akan mampu membuat petani lebih sejahtera.

 

"Keinginan itu melatarbelakangi terbentuknya green house dan tempat pengemasan ini. Kelompok tani dari sejumlah daerah bisa belajar pola penanaman, panen, pasca panen, dan pemasarannya," kata Widi.

 

Menurut Kepala Kelompok Teknisi Taiwan Douglas Moh, Jawa Barat adalah salah satu dari tiga provinsi yang telah dan akan didampingi meningkatkan kualitas pertaniannya. Dua provinsi lain adalah Jawa Tengah dan Bali.

 

Ia mencontohkan peningkatan produksi jeruk kristal dan asparagus di Bali. Lewat pendampingan pengelolaan hasil pangan yang baik, petani mendapatkan panen lima kali lebih besar dari sebelumnya. "Tingginya hasil panen ikut menjaga masa depan pertanian Indonesia. Tak hanya meningkatkan hasil panen, tapi juga ikut memotivasi generasi muda untuk bertani," ujarnya.

 

Deputy Representative TETO Indonesia Phoebe Yeh berharap kerja sama ini dapat meningkatkan hubungan ekonomi Taiwan dan Indonesia. Lewat kedua fasilitas ini saja, ia yakin ribuan petani Indonesia akan  menerima manfaatnya saat menerapkan hasil pelatihan dan pendampingan di lahan pertaniannya kelak.

 

"Sebelumnya, kami sudah bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor mengembangkan sektor agribisnis yang lebih baik. Hasil penennya telah diterima di sejumlah supermarket ternama," katanya.

 

Carli Lili Sutisna (64), petani asal Lembang, Bandung Barat, mengaku siap menerapkan penanaman sayur dalam green house. Ia optimis metode itu mampu meningkatkan hasil penen sekaligus menekan dampak kerugian akibat perubahan cuaca.

 

"Perubahan cuaca menjadi tantangan utama. Penyakit keriting daun kerap menghancurkan hasil pertanian saya. Saat ini saja, 6.000 dari 12.000 batang tomat saya mati akibat keriting daun," katanya. Namun, butuh modal ratusan juta rupiah untuk menerapkan penanaman sayur menggunakan green house hingga cara pengemasan yang baik. (CHE)