Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Perlunya Aturan yang jelas Penerapan Bioteknologi di Indonesia

Tanggal: 19 April 2016 | Sumber: RRI | Penulis: Dadan Sutaryana

KBRN, Jakarta : Sejumlah negara berkembang bahkan Eropa ternyata sudah mengembangkan dan menanam serta melakukan penelitian tentang bioteknologi.

 

Negara-negara tersebut secara edukasi telah banyak meraih keuntungan baik dalam bentuk penghasilan maupun secara manajemen mampu meminimlaisir tenaga manusia. Sedangkan di Indonesia saat ini, penerapan dan pengembangan bioteknologi belum difasilitasi sepenuhnya oleh pemerintah, sehingga cenderung tidak tuntas penerapan bioteknologi tersebut.

 

Demikian dikatakan Direktur IndoBIC, Profesor DR Bambang Purwantara pada Seminar peringatan 20 tahun Bioteknologi di Pusat Informasi Agribisnis Kementerian Pertanian Jakarta, Selasa, (19/04/2016).

 

Dijelaskan Profesor Bambang, komisi sudah dibentuk, tim dari pemerintah sudah disiapkan namun perlu dioptimalkan sehingga dapat menyelesaikan hasil penelitian sampai pemanfaatannya langsung oleh masyarakat banyak.

 

“Ada tiga komponen yang harus ada dalam penerapan bioteknologi, yaitu pedoman pangan, pedoman pakan dan pedoman lingkungan. Pedoman Lingkungan dan Pangan sudah ditandatangani, sedangkan pedoman pakan masih belum ditandatangan. Masih menunggu aturan yang dikeluarkan Menteri Pertanian” harap Profesor Bambang Purwantara.

 

Disisi lain Founder Director South Asia Biotechnology Centre India, Bhagirath Choudhary yang menjadi narasumber pada acara tersebut, menjelaskan di India pengembangan bitechnology bagi para petani bukan hal yg tidak sulit. Tetapi justru harus memberikan informasi dan pengetahuan bioteknologi harus diberikan kepada para politisi dan pengambil kebijakan di India, sedangkan di Indonesia dengan memiliki lahan dan SDM petani yang jumlahnya tidak sedikit disbanding India tentu mampu lebih baik.

 

“Di India sejak ada bioteknologi pendapatan perkapita masyarakat khususnya para petani semakin meningkat karena mengeskpor kapas sebagai bahan kain ke berbagai negara,” papar Bhagirath choudhary.

 

Sedangkan Executive Director Malaysian Biotechnology Informatika Centre berhard, Dr. Mahaletchumy Arujanan PhD, yang juga narasumber Seminar tersebut mengungkapkan bahwa di Malaysia sudah ada pengembangan jagung melalui bioteknologi. Bahkan saat ini pemerintah Malaysia sedang mempersiapkan lapangan kerja yang lebih luas bagi para petani, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.

 

“Di Malaysia pengetahuan tentang bioteknologi sudah diberikan bahkan menjadi kurikulum tetap di perguruan tinggi. Hal itu sebagai bukti bahwa pemerintah Malaysia sangat konsen dengan adanya bioteknologi dan saat ini sedang dilakukan riset terhadap minyak nabati, minyak kelapa sawit dan lainnya” jelas Mahaletchumy Arujanan. (OGIE/DSy/AA)