Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Perhepi : Nilai Ekonomi Bioteknologi Tembus USD 604,4 Miliar

Tanggal: 1 February 2018 | Sumber: AgroFarm | Penulis: Bantolo

Agrofarm.co.id-Pakar agronomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi mengatakan bioteknologi akan menjadi bisnis masa depan karena memiliki potensi ekonomi yang cukup besar.

 

Bayu mengungkapkan, bioteknologi pangan sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan di Indonesia sudah ditemukan dalam produk tempe, tahu, jamu, roti, anggur, keju. Sedikitnya 28 negara di dunia sangat intensif menerapkan bioteknologi tanaman pada areal seluas 180 juta hektar.

 

“Produknya kita makan saban hari, tapi penerapannya dilarang, kan nggak masuk akal sebenarnya. Karena nilai ekonomisnya luar biasa mencapai USD 604,4 miliar. Di Filipina saja ada 812.000 hektar yang ditanami produk bioteknologi pertanian. India menargetkan nilai tambah ekonomi sebesar USD 100 miliar pada tahun 2025 dari biotek ini,” ujar Bayu dalam seminar bertajuk “Refleksi dan Masa Depan Bioteknologi Pertanian dalam Mendukung Kedaulatan Pangan di Indonesia” di Hotel Mercure Jakarta Selatan, Senin (29/1/2018).

 

Bayu menjelaskan, tanaman bioteknologi telah mengurangi secara signifikan emisi gas rumah kaca pertanian. Dengan membantu petani menerapkan praktik yang lebih berkelanjutan, seperti mengurangi pengelolaan lahan dan pengurangan pembakaran bahan bakar fosil dan mempertahankan lebih banyak karbon di dalam tanah.

 

“Jika tanaman biotek tumbuh tidak tumbuh di tahun 2015, maka tambahan 26,7 miliar kilogram (kg) karbon dioksida akan diemisikan ke atmosfer, setara dengan menambahkan 11,9 juta mobil ke jalan,” kata Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi).

 

Dia menyebutkan dari tahun 1996 sampai 2015 bioteknologi mampu mengurangi penggunaan pestisida sebesar 619 juta kg atau setara dengan pengurangan global sebesar 8,1%.

 

Berdasarkan data International Service for Acquisition Agri-biotech Application (ISAAA) terjadi peningkatan 110 kali lipat adopsi tanaman bioteknologi secara global dalam kurun waktu 21 tahun sejak dikomersialisasikan. Tumbuh dari 1,7 juta hektar pada tahun 1996 menjadi 185,1 juta hektar di tahun 2016. Bantolo