Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Penerapan Bioteknologi di Indonesia Masih Sebatas Wacana

Tanggal: 20 April 2016 | Sumber: RRI | Penulis: Dadan Sutaryana

KBRN, Jakarta : Indonesia berpeluang menggunakan biteknologi lebih banyak karena lahan-lahan di Indonesia ini banyak lahan marginal yang mutlak memerlukan teknologi baru. Lahan marginal hanya bisa ditanami dengan penerapan bioteknologi namun sampai saat ini Pemerintah Indonesia masih dalam tatanan wacana.

 

Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Ir H Winarno Tohir saat ditemui RRI pada peringatan ke-20 Tahun Biotechnology di Pusat Informasi Agribisnis Kementerian Pertanian Jakarta. (19/04/2016)

 

Menurut Winarno, perlunya bioteknologi juga dipengaruhi perubahan iklim. Dimana Perubahan iklim yang terjadi tahun 2016 ini tidak lebih baik dari tahun 2015 bahkan sulit diprediksi dan hal tersebut sangat mempengaruhi petani  maka harus melakukan dua langkah yaitu mengasuransikan dan menanam varietas amfibi, meskipun di Indonesia belum dilakukan bioteknologi, namun di negara luar dengan bioteknologi mampu memberikan jaminan panen dan menekan biaya pengeluaran lebih efisien.

 

"KTNA sudah melakukan sosialisasi tentang bioteknologi, namun realisasinya di Indonesia sangat ditunggu. Diharapkan Pemerintah Indonesia lebih serius untuk menyelesaikan dan menerapkan bioteknologi, karena selain lebih menguntungkan juga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pinta Winarno.

 

Dijelaskannya, kendala terbesar bioteknologi di Indonesia adalah masalah birokrasi bahkan perijinannanya dirasakan sangat mahal dan lama. Hingga saat ini satupun belum ada ijin yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia, saat ini Indonesia baru hanya sekedar wacana.

 

Menyikapi hal tersebut, Direktur IndoBIC, Prof Dr Bambang Purwantara, mengakui bahwa masalah perijinan masih belum ada titik terang.

 

“Setiap produk biotech memang harus dikaji oleh Komisi Keamanan Hayati, setelah produk itu disetujui untuk dikonsumsi atau ditanam, selanjutnya akan dikaji oleh Komisi Keamanan Varietas untuk mendapat persetujuan sehingga akhirnya dapat dikomersilkan atau dimanfaatkan publik,” papar Bambang Purwantara.

 

Ia berharap produk yang sudah siap dikomersialisasikan ini supaya bisa terwujud seperti yang diharapkan masyarakat khususnya petani. Namun, dari sisi riset walaupun sudah selesai tetap belum bisa dimanfaatkan atau dikomersilkan karena terkendala dengan kesiapan anggaran, dalam hal ini Pemerintah Indonesia masih menganut aturan bahwa untuk sebuah hasil riset, masalah anggaran harus disediakan oleh pengusul sehingga masih menjadi kendala.

 

“Saya berharap Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian terkait seperti Kementan, Kemenristek dan Kemenko Perekonomian dapat memberikan sebuah terobosan untuk dapat memberikan kemudahan dan kelancaran sebuah hasil riset sampai dapat dimanfaatkan secara langsung oleh rakyat” pungkas Profesor Bambang. (OGIE/DSy/HF)