Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

PENERAPAN BIOTEKNOLOGI-Bioteknologi untuk Dorong Budidaya Perikanan

Tanggal: 20 April 2017 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Lahan perikanan budidaya di darat yang terus berkurang mendorong pengembangan budidaya perikanan di laut. Itu sebabnya, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi terus mendorong penerapan teknologi untuk memajukan budidaya di laut ini.

 

Salah satu rekayasa bioteknologi yang telah dilakukan BPPT diterapkan pada ikan nila (Tilapia sp.), jenis ikan iar tawar yang direkayasa agar dapat hidup di air laut. Ikan nila hasil persilangan galur nila yang tahan air bersalinitas tinggi ini awalnya diberi nama Salina. Pengembangannya kemudian dinamakan Maharsi. Dan ikan terbaru hasil persilangan beberapa galur nila dinamakan ikan nila Srikandi.

 

Demikian disampaikan Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT Arief Arianto Hidayat, di Jakarta, Rabu (19/4). Menurut Arief, perbedaan antara Maharsi dan Srikandi terutama pada warna sisiknya. Maharsi berwarna kemerahan, sedangkan Srikandi kehitaman.

 

Kelebihan ikan nila Salina dibandingkan ikan nila air tawar adalah dagingnya yang tidak berbau lumpur. Selain itu, dagingnya lebih gurih. "Diseminasi inovasi ini sudah dilakukan di Kepulauan Seribu, Kabupaten Bantaeng, dan Pekalongan," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto.

 

BPPT akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan budidaya ini di daerah lain.

 

"Kajian pembiakan ikan nila yang dapat hidup di daerah payau sudah lama dilakukan. Kendala pengembangan lebih lanjut adalah keterbatasan fasilitas kolam yang dimiliki BPPT. Karena itu, BPPT  menjalin kerja sama dengan memanfaatkan fasilitas kolam di Balai Benih ikan untuk KKP di Karawang," urai Arief.

 

Budidaya ikan Srikandi saat ini diuji coba di keramba jaring apung (KJA) di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta. Beberapa waktu lalu, 10.000 benih nila berukuran 35 milimeter ditebar Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan.

 

Delapan galur

 

Srikandi dapat hidup di lingkungan perairan dengan kadar garam hingga 30 per seribu partikel (part per thousand/ppt). Untuk menghasilkan ikan ini, dilakukan persilangan delapan galur ikan nila dari alam. Pada persilangan selama lima tahun sejak tahun 2007 itu, diperoleh galur yang dapat tumbuh, baik di perairan payau maupun di laut bersalinitas tinggi.

 

Arief menambahkan, Srikandi adalah hasil kawin silang antara nila nirwana bertina (Oreochromis niloticus) dari Purwakarta dan nila biru jantan (Oreochromis aureus) dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Nila nirwana tumbuh cepat di perairan air tawar, sedangkan nila biru berdaya toleransi tinggi di air payau.

 

Pengujian budidaya nila Srikandi di KJA laut menunjukkan peningkatan ukuran ikan dari 2 gram hingga 800 gram selama lima bulan. Pertumbujan ini jauh melampaui ikan bawal bintang yang selama ini jadi komoditas utama budidaya di laut.

 

Untuk mendukung pengembangan galur ikan ini, juga dikembangkan riset vaksin untuk ikan. Hal itu, kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Eniya Listiani Dewi, diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada produk vaksin impor. (YUN)