Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Pemerintah Diminta Segera Impor Jagung

Tanggal: 22 January 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

BANDUNG, KOMPAS — Kalangan pedagang, peternak, industri pakan, dan pembibitan ayam meminta pemerintah segera merealisasikan impor jagung oleh Perum Bulog. Pasalnya, saat ini pasokan jagung langka yang mengakibatkan harga jagung di petani naik tinggi dan berimbas pada kenaikan harga daging ayam di pasar.

 

Sebagai contoh, harga daging ayam di pasar-pasar tradisional di Bandung, Jawa Barat, saat ini berkisar Rp 40.000 per kilogram. Dikhawatirkan, kalau harga terus melambung, penjualan dapat terpuruk karena daya beli masyarakat yang rendah.

 

Hal itu mengemuka dalam pertemuan yang digelar di aula Dinas Peternakan Jabar, Kamis (21/1), di Bandung. Pertemuan tersebut digelar menyikapi harga daging ayam yang terus merangkak naik dua bulan terakhir.

 

"Impor jagung untuk saat ini tidak dapat distop, sebab negara kita belum mampu dalam berswasembada jagung," kata Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Herry Dermawan, seusai pertemuan tersebut.

 

Akibat pasokan jagung yang langka, harga jagung di dalam negeri saat ini mencapai Rp 6.000 per kg. Hal ini berdampak pada kenaikan harga pokok produksi ayam di kandang peternak yang saat ini mencapai Rp 22.500 per kg hidup.

 

Padahal, harga ideal di peternak berkisar Rp 18.000-Rp 21.000 per kg hidup. Ini dimaksudkan agar harga daging ayam setelah dihitung untuk biaya pemotongan, transportasi, dan biaya pemeliharaan dapat berkisar Rp 28.000-Rp 32.000 per kg.

 

Harga pokok produksi ayam di tingkat peternak itu terlalu tinggi jika dibandingkan dengan di Malaysia yang hanya berkisar Rp 13.500 per kg hidup, dan di Thailand yang berkisar Rp 14.000 per kg hidup. Jagung pakan ternak di Thailand juga diimpor dengan harga relatif lebih murah, yakni Rp 3.200 per kg.

 

Selama ini impor jagung dapat dilakukan oleh industri pakan ternak, tetapi pemerintah memutuskan Bulog yang akan mengimpor jagung, dan direncanakan untuk kuartal I-2016 sebanyak 600.000 ton. Ditargetkan sampai akhir Januari 2016 sekitar 30.000 ton jagung impor tiba, dan hingga akhir Maret 2016 terealisasi hingga 600.000 ton.

 

Namun, sampai saat ini Bulog belum mengantongi rekomendasi atau izin impor dari Kementerian Perdagangan sehingga impor tersebut belum dapat dilakukan. "Kalau sampai impor jagung ini terkendala, bukan tak mungkin pada Maret-April daging ayam makin langka di pasaran," ujar Herry.

 

General Manager Marketing Feed PT Charoen Pokphand Indonesia A Bagus Pekik Handayani mempertanyakan, apakah Bulog benar-benar sanggup mengimpor jagung. "Sebab selain dari segi finansial harus siap, pemesanan juga dilakukan dua atau tiga bulan sebelumnya dengan kapasitas besar. Dan, apakah Bulog memiliki gudang yang memadai untuk menyimpan jagung impor itu, sedangkan untuk menyimpan beras saja Bulog masih kewalahan," ujar Bagus. (SEM)