Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Pembangunan Pertanian Dipenuhi Paradoks

Tanggal: 2 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Pembangunan pertanian memunculkan beragam paradoks. Transformasi struktural pertanian tidak berjalan baik. Pada saat yang sama, harga komoditas pertanian yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjadikan petani terpacu. Populasi petani juga terus mengalami penyusutan.

 

Hal tersebut diungkapkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Jember Rudi Wibowo, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santosa, dan pengamat pertanian Husein Sawit, Minggu (1/5), saat dihubungi secara terpisah di Surabaya dan Bogor.

 

Rudi mengatakan, semakin maju perekonomian suatu bangsa, transformasi sektor primer seperti pertanian ke sektor sekunder industri dan tersier adalah suatu keharusan.

"Paradoksnya adalah transformasi struktural kita kurang baik. Penurunan kontribusi pertanian yang cepat justru tidak diimbangi penurunan tenaga kerja pertanian yang cepat pula. Hal ini menandakan produktivitas pertanian ada masalah. Tidak meningkat," tuturnya.

 

Di Indonesia, laju penurunan relatif tenaga kerja di sektor pertanian terhadap laju penurunan produk domestik brutonya hanya 0,43. Bandingkan dengan Malaysia 1,02, Thailand 1,1 dan Korea Selatan 1,56.

 

"Angka-angka itu bisa menunjukkan, masalahnya justru di laju perubahan produktivitas pertanian kita yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga," katanya.

 

Mestinya penurunan jumlah petani yang harmonis dengan kontribusinya adalah transformasi ekonomi yang baik karena dapat menunjukkan kesejahteraan petani yang lebih baik.

 

Petani Amerika Serikat hanya 1 persen sampai 2 persen dari jumlah penduduknya, tetapi pertaniannya baik. "Ini karena sumber daya dan iklim berproduksi dapat dijaga, dikelola, dan dikembangkan dengan baik melalui peraturan perundang-undangan yang jelas dan tegas," katanya.

 

Menurut Dwi Andreas, program yang dijalankan pemerintah saat ini sama persis seperti sepuluh tahun sebelumnya. "Jika pada pemerintah lalu 5 juta rumah tangga tani terpaksa keluar dari lahannya dan impor meningkat 346 persen, hasil dari program pemerintah saat ini diperkirakan juga mirip karena menggunakan pola sama," ujarnya.

 

Pembeda yang cukup signifikan barangkali perbaikan jaringan irigasi serta pembangunan dam dan waduk yang masif. Lainnya praktis sama, bahkan memburuk karena sekadar mengopi masa Orde Baru.

 

 

Husein mengatakan, pemerintah tidak membuat desain pembangunan pertanian jangka panjang, khususnya pertanian-pangan, tetapi hanya bersifat ad hoc padi, jagung, dan kedelai. (MAS)