Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Pemanfaatan Radiasi Riset Mutasi Sorgum Batan Diakui Dunia

Tanggal: 16 June 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Dunia mengakui pemuliaan mutasi tanaman oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan sebagai konstribusi bagi riset pangan dunia. Salah satu riset yang diakui adalah pemuliaan mutasi sorgum.

 

Batan pun menjadi mitra Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melaui Joint FAO/IAEA Divisions of Nuclear Techniques in Food and Agriculture untuk memajukan riset sorgum sejumlah negara. "Kami (Batan) menjadi pusat pelatihan. Fasilitas kami dinilai lengkap, mulai dari laboratorium terstandar, gudang penyimpanan, hingga lahan uji coba," ujar pemulia tanaman Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan, Soeranto Human, Rabu (15/6), di Jakarta.

 

Kelompok pemuliaan tanaman PAIR Batan memperoleh Outstanding Achievement Award Joint FAO/IAEA Programme: Nuclear Techniques in Food and Agriculture, 2014. Terkait sorgum, peneliti Batan merekayasa materi genetik asal Tiongkok, Zhengsu, untuk dapat varieas dengan sifat yang diinginkan.

 

Biji sorgum diradiasi dengan sinar gama dengan dosis 300 Gray di iradiator gama di Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Riset menghasilkan tiga varieas sorgum tahan kekeringan: Pahat (pangan Sehat) yang dilepas 2013 serta Samurai (sorgum Mutan Radiasi) 1 dan Samurai 2 tahun 2014.

 

Soeranto mengatakan, varietas unggul untuk pangan adalah Pahat, sedangkan untuk gula dan bioetanol Samurai 1. Produktivitas varietas Pahat rata-rata 5,8 ton biji kering per hekatr, sedangkan Zhengzu 2-3 ton biji kering per ha. Biji sorgum Pahat bisa dipanen pada usia tiga bulan, sedangkan varietas asalny baru dipanen empat bulan.

 

Untuk varietas Samurai 1, kandunga brix (zat padat terlarut, salah satu komponen analisis gula) pada batang 17 persen, sedang varietas asalnya 10-11 persen. Potensi produksi bioetanol Samurai 1 1.148 liter per ha.

 

Melatih asing

 

Atas capaiannya, Batan melatih peneliti sejumlah negara meriset pemuliaan mutasi sorgum di Pasar Jumat, seperti Burkina Faso, Myanmar, dan Sri Lanka. Soeranto juga pernah dikirim ke Burkina Faso guna mendampingi riset di sana dan akan ke Mongolia untuk evaluasi pemuliaan.

 

Negara-negara tetangga di Asia Tenggara juga mulai melirik riset sorgum meski pangan pokok masih beras. "Sorgum tanaman yang bisa diandalkan di masa depan, sat kekeringan bertambah akibat perubahan iklim," ujarnya.

 

Kepala PAIR Batan Hendig Winarno menuturkan, Batan memang fokus mengembangkan tanaman untuk lahan dengan cekaman abiotik, seperti lahan kering dan masam, agar tak bersaing dengan pengembangan tanaman padi. "Potendis lahan kering dan lahan masam 25,3 juta hektar. Nusa Tenggara Barat dan Nusa tenggara Timur termasuk provinsi dengan lahan kering yang sangat luas," katanya.

 

Dengan demikian, petani bisa membudidayakan sorgum di lahan yang tak bsia ditanami padi. Pemanfataan bisa untuk pangan, pakan ternak, gula , dan bioetanol. Tantangan kini, masyarakat belum biasa dengan sumber karbohidrat selain padi. (JOG)