Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Pelepasan Produk Bioteknologi Terganjal Perizinan di Kementan

Tanggal: 16 September 2019 | Sumber: Agrofarm | Penulis: Bantolo

Agrofarm.co.id-Bioteknologi dinilai mampu melepaskan ketergantungan Indonesia dari jeratan impor pangan. Namun pelepasan produk rekayasa genetika (PRG) tersebut terganjal perizinan dari Kementerian Pertanian.

 

Saat ini sudah ada 70 negara yang telah mengadopsi tanaman bioteknologi melalui penanaman dan impor bahan pangan. Karena tanaman bioteknologi bisa terus membantu dan memberikan solusi memenuhi tantangan global, seperti kelaparan, malnutrisi dan perubahan iklim, kata Direktur Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC) Bambang Purwantara kepada usai Seminar Youth Biotech Outreach di Depok, Jawa Barat, Selasa (16/09/2019).

 

Sementara itu, Tim Teknis Keamanan Hayati (TTKH) Lungkungan, M. Thohari diungkapkan alasan Indonesia belum mengembangkan tanaman bioteknologi karena hingga saat ini pengkajian untuk kemananan pangan, pakan dan lingkungan masih diproses. Sebenarnya, untuk pangan dan pakan saat ini tidak ada masalah. Namun yang ditanam sebagai bibit harus aman untuk dilepas dan harus mendapat izin pelepasan varientas.

 

Jadi untuk melepas tanaman ini ada aturannya, tidak boleh seenak memproduksi. Makanya kami belum bersedia untuk membahasnya. Karena belum ada pedoman pengawasan untuk pelepasan varientas, tegasnya

 

Menurut dia, memasuki tahun ke-23 adopsi dan penerapan tanaman bioteknologi semestinya bisa segera di kembangkan di Indonesia. Karena di negara lain sudah banyak yang menyadari bahkan menggunakannya sebagai peningkatan produksi pangan di negaranya.

 

Sayangnya, penerapan produk bioteknologi di Indonesia khususnya jagung tahan hama dan tebu tahan kering masih terhambat perizinannya. Karena masih menunggu persetujuan keamanan pakan dari Kemeteran Pertanin (Kementan), tegasnya.

 

Pihaknya berharap, prosedur tersebut cepat selesai agar para petani segera dapat menanam tanaman bioteknologi dalam rangka menunjang perwujudan kedaulatan pangan. Karena dengan tanaman rekayasa genetik swasembada pangan akan menjadi ringan.

 

Pada kesempatan yang sama, Penelitin Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Bahagiawati menjelaskan, di Indonesia sudah ada beberapa institusi penelitian telah mengembangkan tanaman bioteknologi. Namun upaya penamaman tanaman bioteknologi secara komersial saat ini sedang menjalani pengkajian keamanan hayati yang dilakukan oleh Komisi Keamanan Hayati beserta tim teknisnya.

 

Kami memang sangat berhati-hati untuk masalah ini. Karena sekali sudah dilepas, maka tidak dapat ditarik kembali. Namun, status ini penting untuk para peneliti, karena pasti peneliti akan lebih bergairah jika ada kejelasan tentang masa depan bioteknologi di Indonesia, ungkapnya. Bantolo