Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

PARA EDITOR KENYA DESAK UNTUK ANDALKAN NATIONAL BIOSAFETY AUTHORITY BAGI MASALAH KEAMANAN PRG

Tanggal : 3 November 2016

Lebih dari 20 editor yang berasal dari stasiun TV terkemuka, koran lokal dan majalah berpartisipasi dalam pertemuan sensitisasi bioteknologi pertanian pada 27 Oktober 2016 di Nairobi, Kenya. Tujuan pertemuan adalan untuk memperbaharui kelompok pemangku kepentingan utama mengenai inisiatif peneitian bioteknologi pertanian yang berlangsung saat ini di Kenya. Sementara memperbaharui informasi peserta tentang status kerangka keamanan hayati di Kenya, Dr. Willy Tonui, CEO National Biosafety Authority (NBA), mencatat bahwa negara telah menjadi contoh model bagi Afrika dalam mengatasi masalah regulasi keamanan hayati. “Kenya merupakan negara pertama di dunia yang menandatangi Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati. Media seharusnya mengandalkan NBA untuk masalah keamanan hayati sebagai titik fokus tentang isu-isu PRG di Kenya,” ujarnya.

 

Ms. Bibiana Iraki dari ISAAA AfriCenter menyoroti efek-efek dari nilai berita serta pedoman yang digunakan oleh media untuk menentukan berapa banyak kepentingan untuk memberikan tulisan sains. “Jika kita berangkat dengan tolak ukur yang sama untuk menentukan apakah tulisan sains itu baik, maka pelaporan sains dalam masalah,” ujarnya. Para editor didesak untuk mengurangi penggunaan konflik untuk menangkap perhatian audiens karena hal itu menurunkan cerita sudut ilmiah, membuat itu sulit bagi mereka untuk mengedukasi publik dengan lebih memadai.

 

Mr. Hassan Kulundu, Sekretaris Jenderal Editors Guild, menghargai kesempatan untuk berinterasi dengan para ilmuwan dan mendesak mereka untuk menulis kembali penemuan riset mereka dengan cara yang lebih sederhana dan menarik untuk disorot media. “Halangan menghentikan para ilmuwan. Jika penemuan penelitian dapat dikemas untuk menjawab masalah nyata yang mempengaruhi banyak orang seperti kekurangan pakan yang sedang dialami negeri saat ini, tulisan ilmiah dapat menjadi berita utama dari Januari hingga Desember,” ujar Mr. Hassan. Dalam upaya untuk mengekang gambaran negatif oleh media dalam pelaporan bioteknologi pertanian, Dr. Nguthi mendesak para ilmuwan untuk rela menyediakan gambar yang tepat bagi para jurnalis dan editor. “Setelah itu semua, sebuah gambar bernilah ribuan kata,” katanya.

 

Pertemuan tersebut memberikan sebuah kesempatan untuk membangun hubungan antara para editor dengan para ilmuwan, sebuah komponen kunci untuk meningkatkan laporan yang seimbang tentang bioteknologi pertanian dan keamanan hayati. Acara ini diadakan oleh ISAAA AfriCenter, Open Forum on Agricultural Biotechnology – Kenya Chapter, dan Virus Resistant Cassava for Africa project.

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Dr. Faith Nguthi di fnguthi@isaaa.org.