Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Panen Padi Musim Gadu Perlu Dikelola

Tanggal: 12 May 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Kualitas beras pada musim tanam padi 2015/2016 tidak terlalu bagus. Pasokan beras premium akan langka. Jika musim panen gadu tidak dikelola baik, akhir tahun berpotensi terjadi lonjakan harga. Saat ini saja harga beras premium naik Rp 500 per kilogram.

 

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan itu, Rabu (11/5), saat membuka Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) DPD Perpadi DKI Jakarta.

 

Musdalub Perpadi memilih kembali Nellys Sukidi sebagai Ketua DPD Perpadi DKI Jakarta periode 2016-2021.

 

Sutarto mengatakan, dalam kondisi panen dengan kualitas beras kurang bagus, jika Bulog dipaksa menyerap beras sebanyak-banyaknya, khawatir akan merepotkan Bulog nantinya.

 

Dengan menyerap beras dalam kondisi kualitas kurang bagus dalam skala besar, akan terjadi risiko dalam penyimpanan beras. Kualitas beras untuk raskin akan semakin turun.

 

Sutarto yang juga mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian serta mantan Direktur Utama Perum Bulog juga menyinyalir, proyek pengadaan benih padi yang begitu besar dalam implementasinya kurang tepat.

 

Misalnya, kualitas benih padi yang rendah, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan tanaman padi yang terganggu sehingga berdampak pada kualitas beras.

 

Berdasarkan laporan anggota Perpadi secara nasional, terungkap bahwa kualitas gabah dan beras panen sekarang kurang bagus. Saat digiling menjadi pecah sehingga tidak menghasilkan beras kualitas premium.

 

"Banyak sebab yang memengaruhi rendahnya kualitas beras sekarang ini," jelasnya.

 

Pasokan beras

 

Wakil Ketua DPD Perpadi DKI Jakarta Billy Haryanto mengatakan, logikanya, kalau pasokan beras kurang, harga akan naik.

 

"Yang susah juga pedagang karena modal beli beras akan naik," katanya. Bahkan, kalau harga beras naik, dituding menimbun dan mempermainkan harga.

 

Bagi pedagang beras, indikator produksi naik atau turun mudah. Kalau banyak truk mengangkut beras masuk Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, sudah pasti produksi banyak. "Kalau truk yang masuk sedikit, ya, kurang," ujarnya.

 

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menuturkan, sampai September, kalaupun ada kenaikan harga beras, hal itu tak akan melebihi 10 persen. Namun, kalau pada panen gadu pemerintah tidak mampu mengelola panen dengan baik, November akan terjadi lonjakan harga.

 

 

Bustanul juga mengingatkan pentingnya menjaga daya saing komoditas beras. Caranya, dengan memproduksi beras secara efisien di penggilingan. (MAS)