Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Pakar: bioteknologi penting untuk pertanian Indonesia

Tanggal: 20 August 2018 | Sumber: Antara | Penulis: Subagyo

Jakarta, (Analisa). Kalangan pakar pertanian mengung­kapkan pentingnya tanaman biotekno­logi atau hasil rekayasa genetika untuk mengatasi sejumlah persoalan yang dihadapi sektor pertanian di tanah air.

Guru besar ekonomi Institu Perta­nian Bogor (IPB) Prof Parulian Huta­gaol di Bogor, Senin mengatakan, salah satu permasalahan yang dihadapi untuk meningkatkan produksi pangan di ta­nah air yakni semakin menyusutnya lahan pertanian, terutama di Pulau Ja­wa.

 

Padahal, tambahnya, Pulau Jawa menyumbang 60 persen produksi per­tanian secara nasional, namun setiap tahun sekitar 100 ribu hektare (ha) la­han pertanian beralih fungsi ke non­pertanian.

 

Menurutnya, tanpa dukungan tek­nologi pertanian yang lebih maju, Indonesia perlu tambahan sawah se­banyak 1,5 juta ha untuk memenuhi kebutuhan beras nasional tanpa impor.

 

“Ekstensifikasi hampir tidak mung­kin dilakukan di Jawa, sedangkan di luar Jawa biayanya mahal. Jalannya melalui intensifikasi dan dilakukan dengan memasukkan bioteknologi,” ujarnya pada seminar “Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek 2017”.

 

Indonesia mempunyai potensi besar dalam bidang bioteknologi dan potensi tersebut harus dimanfaatkan untuk me­ngatasi berbagai masalah sosial eko­nomi nasional utamanya untuk penye­diaan pangan murah bagi masyarakat yang semakin meningkat.

 

“Untuk petani, benih biotek ini pen­ting dan harus diberikan kesem­patan yang sama untuk meningkatkan pro­duksi dan memperoleh keuntungan yang tinggi. Dibandingkan kita harus membeli produk pangan bioteknologi yang sebenarnya bisa diproduksi dalam negeri,” ujarnya.

 

Mengenai dampak tanaman biotek­nologi, Prof Parulian menambahkan hingga sekarang tidak ada laporan dam­pak lingkungan maupun dampak bu­daya yang serius yang terjadi akibat dari diberlakukannya bioteknologi di seluruh dunia.

 

Direktur IndoBIC, Bambang Pur­wan­tara di Bogor, Senin menuturkan sudah saatnya petani diberikan pilihan benih yang menguntungkan bagi usaha tani mereka, salah satunya dengan ta­naman bioteknologi.

 

“Jangan sampain bangsa ini terkuras devisanya untuk membeli produk pa­ngan biotek dan menguntungkan petani di luar negeri. Petani Indonesia harus diberi kesempatan yang sama untuk meningkatkan produksi dan mempe­roleh keuntungan yang tinggi,” ka­tanya.

 

Dia mengungkapkan untuk bisa me­rilis tanaman maupun benih hasil bioteknologi bukanlah perjalanan yang mudah karena harus diatur secara ketat, kurang lebih satu produk bisa mencapai 4-5 tahun dahulu sebelum dirilis.

 

Setiap produk bioteknologi yang akan dirilis harus melewati Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika (KKH-PRG) setelah dinilai keamanan pangan, pakan, lingkungan maupun etika.

 

Namun, bukan berarti Indonesia diam di tempat saja dalam komoditi bioteknologi sebab lembaga-lembaga riset bioteknologi kini semakin banyak yang membuat komoditi bioteknologi.

 

Ketua Dewan Direksi The International Service For the Aquisition of Agri-Biotech Applicatuin (ISAAA), Paul S. Teng menyatakan, permasa­lahan pertanian tidak hanya dialami petani di Indonesia, tantangan yang sama juga dialami oleh petani dunia, namun dengan inovasi berupa biotek­nologi, perbaikan kondisi sosial dan ekonomi bisa dirasakan langsung oleh mereka.

 

“Tanaman bioteknologi menawar­kan manfaat yang besar bagi lingkung­an, kesehatan manusia dan hewan serta berkontribusi dalam perbaikan sosial ekonomi petani dan masyarakat,” ka­tanya.

 

Dia mencontohkan beberapa produk maupun tanaman biotek yang kini su­dah ditanam maupun dikonsumsi di beberapa negara mulai dari apel dan kentang yang tahan kerusakan (co­kelat), nanas super manis dan diperkaya antosianin, jagung dan tongkol jagung beramilosa tinggi, kedelai yang di­modifikasi kandungan minyak, hingga tanaman tebu tahan serangga orga­nisme pengganggu tanaman (OPT).

 

Negara-negara berkembang seperti India, Pakistan, Brazil, Bolivia, Sudan, Meksiko, Kolombia, Vietnam, Hin­duras dan Bangladesh sudah menga­dopsi bahkan meningkatkan areal pertanaman dari komoditas biotek ini. Tercatat, sudah ada 53 persen dari total areal pertanaman biotek dari seluruh negara berkembang dari luasan seluruh dunia.

 

Mengutip hasil dari studi PG Eco­nomicsi, tanaman bioteknologi bisa menghasilkan keuntungan ekonomi sebesar 186,1 miliar dolar AS bagi 17 juta petani di seluruh dunia, dan banyak pelaku utamanya adalah petani kecil .

 

Tanaman Bioteknologi juga bisa menjadi solusi dalam menghadapi kera­wanan pangan yang menjadi perma­salahan besar di negara berkembang.

 

Selama 21 tahun, tanaman biotek­nologi berperan pada peningkatan produksi dunia sebesar 213 juta ton kedelai, 446 juta ton jagung, dan 11,6 juta ton kanola.

 

Oleh karena itu, menurut Paul, dengan adanya bioteknologi memung­kinkan petani untuk menanam lebih banyak tanpa menggunakan lahan tam­bahan, mengurangi tekanan pada lahan yang biasanya tinggi untuk menjadi produk pertanian.

 

“Indonesia sebenarnya punya po­tensi kuat untuk pengem­bangan biotek­nologi. Saya berharap Indonesia bisa menikmati komersialisasi dari tanaman bioteknologi serta keuntungan petani,” katanya.