Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Minat Riset Swasta Masih Rendah

Tanggal: 6 November 2015 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Pencapaian ketahanan dan kemandirian pangan nasional terkendala kurangnya harmonisasi penelitian atau riset antarlembaga dan pemangku kepentingan. Minat swasta melakukan riset bidang pangan juga dinilai masih rendah.

 

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Jumain Appe, Kamis (5/11), di sela-sela simposium pangan nasional, di Jakarta. Simposium yang diselenggarakan PT Indofood Sukses Makmur Tbk bertema "Agenda Kemitraan Riset Nasional, Inovasi Ketahanan Pangan Mandiri dan Berdaulat".

 

Pada kesempatan itu, Indofood juga memberikan apresiasi kepada 7 peneliti yang mendedikasikan hidup dalam penelitian bidang pangan. Para peneliti itu adalah Slamet Budijanto, Ali Agus, Hajrial Aswidinnoor, Budi Santoso MP, Lilis Nuraida, Yusnita, dan Djoko Moerdono.

 

Menurut Jumain, di negara-negara maju, swasta terdorong melakukan riset, termasuk bidang pangan. Kesadaran swasta melakukan riset tumbuh terdorong oleh keinginan mereka untuk terus menghadirkan produk baru.

 

Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia. Riset pangan yang dimotori swasta masih sangat minim. Biaya riset masih mengandalkan APBN yang terbatas.

 

Ketua Tim Pakar Riset Winarno mengatakan, harmonisasi riset menjadi kunci untuk bertahan dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk di bidang pangan. Tidak ada jaminan perusahaan besar yang sekarang menguasai pasar pangan, akan tetap bisa bertahan jika tidak melakukan riset. "Riset harus dimulai dengan mimpi besar," katanya.

 

Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang mengatakan, penemuan teknologi baru hasil riset sudah banyak, tetapi harus terus dikembangkan dan dilakukan. Salah satunya, teknologi penghasil tepung tapioka yang disebut mocaf. Dengan introduksi teknologi baru hasil riset, industri mocaf terus berkembang.

 

Minat masyarakat menggunakan tepung mocaf sangat besar, terutama usaha-usaha skala kecil. Namun, bahan baku masih kurang. Impor tapioka per tahun mencapai 800.000 ton untuk memenuhi kebutuhan industri.

 

Franciscus mengingatkan, pengembangan industri pangan olahan harus didukung peningkatan produksi bahan baku. Ia mencontohkan, pemerintah saat ini hendak mengembangkan areal tanam gandum 100.000 hektar di Padang senilai Rp 20 miliar. Namun, belum dipikirkan bagaimana ketersediaan bibit yang sesuai lingkungan di sana. (MAS)