Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

MESKI MENGUNTUNGKAN, INDONESIA BELUM BERANI TERAPKAN BIOTEKNOLOGI TANAMAN

Tanggal: 11 September 2017 | Sumber: Indoagribiz | Penulis:

INDOAGRIBIZ. Mindset petani dan anggapan sebagian orang tentang bioteknologi tanaman atau hasil produk rekayasa genetik pada tanaman tidak aman bagi kesehatan dan lingkungan, masih menjadi ganjalan untuk diterapkan di Indonesia. Padahal, laporan PG Economics mencatat, selama 20 tahun terkahir, bioteknologi tanaman telah mengurangi dampak lingkungan pertanian secara signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di 26 negara di mana teknologi tersebut diadopsi.

 

“Faktanya, teknologi pertanian yang inovatif telah berkontribusi dalam melestarikan sumber daya alam dengan memungkinkan petani menanam lebih banyak tanaman bermutu tinggi. Aplikasi ini membantu mengurangi angka kemiskinan di negara-negara berkembang sebanyak 16,5 juta petani kecil,” ujar Graham Brookes Direktur PG Economics pada talk show Dampak Global Tanaman Biotek : Efek Ekonomi dan Lingkugan bersama wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Pertanian (Forwatan), di Jakarta, Senen (11/9/17).

 

Menurut Graham, selama 20 tahun terakhir di mana para petani telah diberikan akses dan pilihan menanam tanaman biotek atau hasil rekayasa genetika. Mereka telah secara konsisten mengadopsi teknologi ini dan memberikan kontribusi bagi suplai makanan yang lebih berkelanjutan dan lingkungan yang lebih baik di mana mereka tinggal.

 

Fakta lain, menurut Graham, bioteknologi tanaman telah mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Ialah secara secara signifikan telah mengurangi emisi gas rumah kaca pertanian. Dari tahun 1996 sampai 2015, bioteknologi tanaman mengurangi penggunaan pestisida sebesar 619 juta kilogram atau setara dengan pengurangan global sebesar 8.1 pesen.

 

Bambang Purwantara dari Indonesian Biotechnology Information Center juga membenarkan bahwa banyak keuntungan dengan penerapan bioteknologi pada tanaman. Salah satunya adalah penggunaan pupuk secara efisien serta irit penggunaan air. “Keterbatasan lahan pertanian karena meningkatkan populasi penduduk dunia pada 2030 membuat para petani harus memproduksi pangan yang mencukupi karena sumberdaya yang semakin berkurang untuk mendukung populasi tadi,” ujar Purwantara.

 

Menurutnya, di dunia sejumlah negara, bioteknologi tanaman sudah banyak yang menerapkan, seperti China, Australia, Amerika, Brazil dan sejumlah sebagian besar di negara Amerika Latin. Ada lima Negara teratas yang telah mengunakan bioteknologi, yaitu tiga negara berkembang seperti Brazil, Argentina dan India dan dua negara industri yaitu Amerika Serikat dan Kanada.

 

Sayang meskipun bioteknologi tanaman bisa meningkatkan hasil dan ramah terhadap lingkungan, namun Pemerintah Indonesa masih gamang untuk menerapkan produk rekayasa genetik (PRG) tersebut. Keacuhan pemerintah akan produk rekayasa genetik menjadi pertanyaan serius Guru Besar Pertanian dari Uiversitas Lampung Prof. Bustanul Arifin. Menurut Bustanul, yang juga sebagai panelis pada talk show tersebut, mindset petani dan sebagain orang masih menganggap soal penggunaan rekayasa genetik atau biotenologi ini sangat tidak aman bagi lingkungan dan pangan.

 

“Para petani dan pemerintah seperti tidak mau mengambil resiko kegagalan jika produk rekayasa genetik atau bioteknologi pada tanaman ini diterapkan di Indonesia,” ujar Bustanul Arifin.

 

Di sisi lain, menurut Bustanul, pemerintah ignore atau acuh terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli dan peneliti di Tanah Air, tidak saja yang terjadi pada hasil produk rekayasa genetik. Akibatnya banyak para peneliti yang tidak dihargai dan pindah ke luar negeri, seperti yang dialami oleh peneliti Indonesia yang hijrah ke Filipina. Di sana ia meneliti tentang rice golden, sebuah padi yang mengandung glukosa rendah dan mengandung banyak vitamain A.

 

Menanggapai hal ini Ignatia Maria Honggowati, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, sebenarnya pemerintah melalui produk hukumnya telah memberikan lampu hijau untuk hasil produk rekayasa genetik tanaman diterapkan di Indonesia. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2005 tentang keamanan hayati produk rekayasa genetika yang mengatur antara lain, jenis dan persyaratan PRG, pemasukan PRG dari luar negeri, pengkajian, pelepasan dan perdaran serta pemanfaatan PRG.

 

“Selagi memenuhi persyaratan tersebut, khususnya soal kemanan bagi pangan dan lingkungan, hal tersebut diwenangkan. Untuk itu, kami dari pemerintah telah membuat roadmap soal ini dan masih dikaji. Diharapkan pada 2018 telah selesai dan dapat dimplementasikan di masyarakat sebelum isu-isu negatif terus dihembuskan,” ujar Maria.

 

Maria mengakui bahwa penerapan bioteknologi pada tanaman dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Pasalnya tahan terhadap penyakit dan tekanan lingkungan seperti cuaca. “Selain mengurangi biaya produksi juga kandungan nutrisinya lebih tinggi,” ujar Maria. [NSS]