Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Mengembangkan Bioplastik dari Singkong untuk Kemasan Makanan

Tanggal: 8 April 2019 | Sumber: Kompas.id | Penulis: SAMUEL OKTORA

Jumat (29/3/2019) sore, Laboratorium Scanning Electron Microscope di Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPTB LIPI), Kota Bandung, Jawa Barat, masih bernyawa. Tiga penelitinya masih memelototi layar komputer berisi bahan-bahan riset. Berjalan sejak 2017, mereka tengah terlibat dalam riset bertajuk “Pengembangan Bioplastik untuk Pengemas Makanan”.

 

Bioplastik adalah “plastik” yang dibuat dari bahan biomassa. “Kami hendak mencari alternatif pengganti plastik konvensional. Riset ini bertujuan tidak sekadar menghasilkan produk yang efektif dan efisien, tetapi juga mendukung pola pembangunan masa depan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan,” Ketua Kelompok Penelitian Produk dan Produksi Bersih LPTB LIPI AH Dawam Abdullah.

 

Penelitian yang melibatkan seorang profesor, empat doktor, peneliti S2 dan S1, serta puluhan mahasiswa ini bertolak dari tingginya kebutuhan plastik yang kemudian menimbulkan permasalahan karena sampahnya mencemari lingkungan. Pada tahun 2014, kebutuhan plastik Indonesia sekitar 4,2 juta ton. Saat ini ada 892 perusahaan plastik dengan kapasitas 2,35 juta ton, dengan jumlah tenaga kerja lebih kurang 350.000 orang. Konsumsi plastik per kapita mencapai 10 kilogram per tahun.

 

“Di Indonesia, distribusi produk plastik paling banyak adalah untuk pengemas makanan, sekitar 60 persen, yang sifatnya sekali pakai. Oleh karenanya, kami kini fokus mengembangkan bioplastik untuk pengemas makanan,” kata Dawam.

 

Akan tetapi, Dawan mengatakan, tak mudah mencari lawan sepadan bagi plastik. Butuh bahan baku yang punya ciri khas serupa. Pilihannya jatuh pada pati (tepung halus endapan) singkong.

 

Keberadaan singkong melimpah ruah, harganya pun murah, sekitar Rp 1.200 per kilogram. Berdasarkan data Organisasi Pangan Dunia tahun 2016, Indonesia berada di posisi ketiga produsen singkong di dunia, dengan produksi 26,749 juta ton. Peringkat pertama adalah Nigeria dengan produksi 57,855 juta ton) dan peringkat kedua Thailand dengan produksi 31,807 juta ton.

 

Selain produksinya melimpah, tren produksi singkong di Indonesia meningkat dari 23,907 juta ton pada 2013 menjadi 26,749 juta ton pada 2016, kandungan dalam pati singkong juga menjanjikan. Di dalamnya ada dua senyawa kimia, amilosa, dan amilopektin. Keduanya memiliki struktur partikel berulang yang disebut polimer, dengan unit pengulangan (mer) berupa glukosa.

 

Struktur rantai polimer semacam itu mirip dengan struktur molekul pada kandungan plastik sintetik atau plastik konvensional yang terbuat dari minyak bumi, yang juga berupa rantai polimer. Namun amilosa dan amilopektin dapat terurai oleh mikroorganisme, sementara polimer sintetik tidak.

 

Untuk menghasilkan bijih plastik, pati singkong dicampur dengan plasticizer. Zat pemplastis ini bisa meningkatkan sifat plastisitas dari sebuah material. Pencampuran plasticizer ini guna menambah fleksibilitas atau kelenturan, maupun kekuatan bioplastik.

 

”Sekarang sudah bisa dibuat bijih bioplastik, yang artinya sudah mencapai tahapan riset 50 persen. Jika formulanya sudah dikuasai, ini bisa menjamin suplai kebutuhan untuk bahan baku industri plastik,” katanya.

 

Akan tetapi, keunggulan itu juga menyimpan tantangan yang masih terus dicari jalan keluarnya. Pati singkong ini suka air (hidrofil). Dengan demikian jika dibuat kantong plastik akan mudah hancur kalau terkena air.

 

“Kini masih dikembangkan bagaimana agar bioplastik yang dibuat lebih tahan terhadap air alias tidak cepat larut. Saat ini tengah dilakukan uji sifat termal atau temperatur leleh dari material bioplastik. Targetnya pada tahun 2019 akan ditemukan formula akhir bersama teknologi pembuatan bijih bioplastik ini,” kata Dawam.

 

Harapan

 

Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LPTB LIPI) Sri Priatni mengatakan, bioplastik adalah harapan masa depan lingkungan. Bioplastik berpotensi meniadakan timbulan sampah plastik yang sulit terurai memenuhi tempat penampungan sampah atau tergenang tak karuan di banyak sungai-sungai di Indonesia.

 

Salah satu sungai yang tengah menjadi pusat perhatian adalah Citarum yang membelah Jawa Barat sepanjang 297 kilometer. Data Dinas Lingkungan Hidup Jabar menyebutkan, ada 1.500 ton sampah dihasilkan masyarakat di sekitar Citarum. Sebanyak 60-70 persen di antaranya adalah plastik. Namun, baru 1.200 ton yang bisa dibawa dan ditampung di tempat pembuangan sampah. Sebanyak 300 ton di antaranya masih berserak, kemungkinan besar masuk aliran Citarum.

 

Dengan fakta itu, bioplastik jelas menjadi kabar baik bagi Citarum. Apalagi, pemerintah sedang melakukan pemulihan lewat Program Citarum Harum. Targetnya usai tujuh tahun ke depan, dimulai tahun 2018 hingga tahun 2025.

 

“Dengan data fakta itu, sudah saatnya plastik konvensional diganti dengan yang bahan ramah lingkungan seperti bioplastik. Semoga upaya pengurangan sampah plastik di sungai bisa menjadi inspirasi bagi daerah lainnya untuk masa depan dunia lebih baik,” kata Sri.

 

Selain lingkungan, manusia pun bisa mendapat manfaatnya langsung. Dawam mengatakan, pemanfaatan pati singkong berpotensi memberi nilai tambah ekonomi. Di Kabupaten Pati, Jateng, ada 200 industri pati yang bisa dimanfaatkan menjadi pemasok bahan bioplastik. Sejumlah investor dalam negeri, di antaranya dari kalangan pengusaha sawit pun berniat melakukan ekspansi bisnis ke sektor pati singkong.

 

“Masa depannya bakal cerah. Selain menyelamatkan lingkungan juga bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Harga jual bijih bioplastik di pasar saat ini sekitar Rp 40.000 per kilogram. Di Indonesia, perusahaan yang dapat membuat bijih bioplastik, maupun produk bioplastik masih sangat minim, baru ada di Balaraja, Tangerang (Banten),” kata Dawam.