Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Mendorong Kedaulatan Pangan di Lahan Sawit

Tanggal: 18 April 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

Siang yang panas dan mendung di Bukit Gambir, Pasaman Barat, Sumatera Barat, Jumat (15/4). Ibu-ibu kelompok tani Demplot Bukit Gambir duduk bersila di atas terpal yang dibentangkan menutupi tanah. Di hadapan mereka terhidang kacang rebus yang masih panas.

 

"Silakan dicicipi, Pak, Bu, ini hasil panen kami musim kemarin," ujar salah satu dari mereka. Sebagian hasil panen disimpan dalam goni-goni plastik berwarna putih. Sejak 2013, tanaman palawija, seperti jagung, padi gogo, kacang, dan semangka, dibudidayakan di lahan sawit. Tanaman itu mengisi sela-sela tanaman sawit yang berusia kurang dari 3,5 tahun. Kini, di hamparan seluas sekitar 20 hektar sedang ditanam padi gogo. Usianya baru dua bulan dan diperkirakan bisa dipanen pada bulan puasa nanti.

 

Amran Siagian (56), salah seorang petani di bukit itu, mengatakan, menanam palawija di sela-sela tanaman sawit tidak sulit. Ia sudah berpengalaman menanam semangka, kacang tanah, dan jagung. Ia paling suka menanam kacang tanah karena mudah perawatannya dan harganya cukup mahal. Di lahan 1 hektar, ia bisa menghasilkan sekitar 640 kilogram kacang tanah. Kendala yang dihadapi petani sawit adalah tanaman dirusak oleh babi hutan. Tak jarang, tanaman sehat yang tumbuh subur di tempat itu dirusak oleh babi hutan. Selain itu, ada pula hama tanaman yang membuat kacang kopong atau tidak berisi.

 

"Mau tanam apa saja mudah di sini karena tanahnya subur, tinggal babat dan tanam. Cuma sering kali tanaman dirusak babi hutan," kata Amran.

 

Di lokasi lain di Pasaman Barat, jagung-jagung hibrida juga tumbuh subur di sela-sela perkebunan kelapa sawit. Syafrizal, Sekretaris Kelompok Tani 41, mengatakan, kelompok ini terdiri atas 20 kepala keluarga dan menanam sawit sejak masa perkebunan Ophir, Belanda. Tahun 2011, kelompoknya mendapatkan bantuan peremajaan kelapa sawit seluas 20 hektar dari Dinas Perkebunan Pasaman Barat. Dari dana bantuan Rp 300 juta, ia mendapatkan 2.700 batang bibit kelapa sawit. Tahun ini, kelapa sawit hasil peremajaan itu sudah berumur 3,5 tahun dan menghasilkan 800 kilogram per hektar.

 

Hasil panen jagung yang ditanam di sela-sela tanaman sawit sudah menghasilkan 3-4 ton per hektar. Harga jual jagung saat ini Rp 3.000 per kilogram.

 

Dengan hasil panen ini, petani bisa menghemat biaya untuk membeli pangan. Hasil panen padi biasanya akan disimpan dan digunakan untuk cadangan makanan. Sebagian hasil panen yang dijual, dananya juga dikembalikan ke kelompok tani.

 

Ketahanan pangan

 

Kepala Subdirektorat Tanaman Kelapa Sawit Direktorat Tanaman Tahunan dan Penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Galih Surti mengatakan, program diversifikasi saat ini sedang didorong agar bisa dilaksanakan di lahan-lahan yang sedang melaksanakan peremajaan kelapa sawit.

 

Program itu dinilai mendukung program ketahanan dan swasembada pangan. Kementan juga mendorong petani untuk melakukan peternakan, seperti sapi, di sekitar lahan sawit. Pelepah dinilai bagus digunakan untuk pakan ternak. (DEA)