Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Manfaatkan Gen Virus agar Tahan Penyakit

Tanggal: 18 January 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Para peneliti di PT Perkebunan Nusantara XI mengembangkan tebu tahan penyakit mosaik. Caranya, mengambil satu macam gen virus penyebab penyakit itu untuk disisipkan pada tebu.

 

"Kami memotong gen virus untuk mengambil gen protein kapsid," kata Nurmalasari, peneliti pada Laboratorium Bioteknologi Bidang Penelitian dan Pengembangan Usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, usai berbicara pada Seminar Nasional Bioteknologi "Status Indonesia Terkini Menghadapi Komersialisasi Tanaman Bioteknologi" di Jakarta, pekan lalu. Universitas Nasional penyelenggara diskusi.

 

Pembicara lain, Kepala Pusat Kajian Bioteknologi Unas Retno Widowati, Ketua Komisi Keamanan Hayati Agus Pakpahan, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir, dan Direktur Corporate Affair Monsanto Indonesia Herry Kristanto.

 

Nurmalasari mengatakan, gen protein kapsid satu dari 10 gen pada virus mosaik tebu (sugarcane mosaic virus/SCMV). Jika gen protein kapsid disisipkan pada suatu tebu, SCMV tak akan masuk ke tebu karena virus berpikir sudah ada SCMV di batang tebu itu. Dengan demikian, gen protein kapsid berperan menipu virus. Peneliti menggunakan SCMV yang menginfeksi tebu di Jember.

 

SCMV bersifat sistemik, membuat penyakit tak bisa disembuhkan jika virus sudah masuk tebu. Apalagi perbanyakan tebu secara vegetatif lewat stek batang sehingga penyakit bisa diturunkan. Semakin banyak generasi dari tebu terjangkit mosaik, semakin parah penyebarannya.

 

Virus menular melalui vektor serangga, penggunaan alat mekanis (misalnya, pisau tebang) yang tak steril, penggunaan bibit sakit, serta penularan antarkelompok tanaman dalam satu familia Poaceae (tebu, sorgum, dan jagung). Nurmalasari menuturkan, gejala baru terlihat saat penyakit pada tingkat menengah hingga lanjut, bukan pada tahap awal.

 

Gejala itu, antara lain roset (terbentuk semacam rumpun di bagian bawah tebu) sehingga tebu tak bisa tumbuh memanjang. Gejala lain, pertumbuhan terhambat. Dengan demikian, penyakit tak mematikan tebu, tetapi merugikan petani karena produktivitas gula menyusut. PTPN XI menemukan tebu berpenyakit itu di Magetan, Lumajang, Jember, Situbondo, dan Bondowoso.

 

Meski demikian, proses masih panjang. Sekarang, peneliti sampai tahap mendapat asam deoksiribonukleat (DNA) rekombinan dengan sisipan gen SCMV yang sudah presisi. Dalam setahun ini, peneliti menargetkan sudah memeroleh Agrobacterium tumefaciens yang dititipi gen virus dalam jumlah cukup. Agrobacterium tumefaciens merupakan mikroba yang biasa digunakan mentransfer gen dengan cara menginfeksi tanaman dalam proses rekayasa genetik.

 

Agus mengatakan, bioteknologi, termasuk rekayasa genetika, salah satu jalan menekan dampak penyakit tanaman pangan. Apalagi, di daerah tropis, seperti Indonesia, hama penyakit mencapai 500-600 jenis. Di daerah subtropis hanya 50 jenis atau 10 persen dari wilayah tropis.

 

Sejauh ini, rekayasa genetika masih menimbulkan pro dan kontra. "Kemajuan teknologi selalu menimbulkan kontroversi," kata Agus. (JOG)