Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

MANFAAT BENIH TRANSGENIK YANG DIRASAKAN PETANI FILIPINA

Tanggal: 16 May 2012 | Sumber: KOMPAS | Penulis: SIWI NURBIANJATI

Hamparan tanaman jagung siap panen tampak pada lahan petani di kawasan Barangay Linmansangan, Binalonan, Pangasinan, Filipina, akhir Maret lalu. Sejumlah tongkol jagung yang sudah padat dan menguning terlihat telah dikupas dari kulitnya oleh petani, dan dijemur di areal pertanian yang bisa ditempuh sekitar empat jam dari Manila.

Secara bentuk dan ukuran, jagung yang ada di wilayah tersebut tidak jauh berbeda dengan jagung hibrida kebanyakan yang ditanam di Indonesia. Namun, para petani di sana bisa lebih berbangga karena jagung yang mereka tanam utuh tanpa serangan hama, termasuk hama penggerek batang yang selama ini menjadi musuh utama petani jagung.

Tanaman jagung yang ditanam petani di wilayah tersebut bisa tahan hama karena petani telah menggunakan benih transgenik yang merupakan produk bioteknologi. Benih transgenik, seperti jagung Bt, terbukti tahan terhadap serangan hama penyakit, seperti hama penggerek batang, ulat, dan penyakit bule.

Benih jagung transgenik mulai dikembangkan di Filipina sejak sembilan tahun terakhir. Filipina juga merupakan negara pertama di Asia yang menanam tanaman produk bioteknologi untuk bahan pangan, yaitu jagung Bt, tepatnya mulai tahun 2002. Pada tahun 2010, luas lahan untuk tanaman jagung biotek di Filipina mencapai 541.000 hektar, naik sekitar 10 persen dibandingkan tahun 2009.

Benih jagung transgenik mampu menurunkan penggunaan pestisida hingga 60 persen, menurunkan biaya tenaga kerja penyiangan dan penyemprotan, serta memiliki hasil panen yang lebih baik dibandingkan jagung hibrida biasa. Benih hasil pengembangan bioteknologi membuat petani lebih efisien dengan tingkat risiko kegagalan rendah karena benih-benih itu terbukti tahan serangan hama.

Hal itu seperti dirasakan Johnny Viado (44), petani di Barangay Linmansangan yang menggunakan benih jagung Bt produksi Syngenta. Pada musim panen kali ini, tanaman jagungnya bisa menghasilkan sekitar 10 ton per hektar, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan saat menanam benih jagung hibrida biasa.

Dengan masa tanam sekitar 105 hari dan biaya produksi 40.000 peso (sekitar Rp 8,7 juta), ia bisa mendapatkan keuntungan sekitar 60.000 peso per hektar. Jika 1 peso diasumsikan setara Rp 250, keuntungan yang diperolehnya dalam satu musim tanam mencapai Rp 15 juta per hektar.

Keuntungan menggunakan produk transgenik juga dirasakan Melanio Miranda (50) atau biasa dipanggil Mang Melan, petani asal Barangay San Roque Bitas, Arayat, Pampanga, Filipina, yang menggunakan benih jagung Bt dari Monsanto.

Menggunakan produk bioteknologi, menurut Mang Melan, ia mampu meningkatkan produktivitas tanaman jagung dari 6 ton per hektar menjadi 9 ton per hektar. Mang Melan pun berhenti menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penggerek batang setelah ia beralih dari menggunakan benih jagung hibrida konvensional ke benih jagung transgenik. Bahkan, dengan keberhasilannya tersebut, ia mampu memperluas areal tanaman dari 2,2 hektar menjadi 4,5 hektar.

Berkembang

Produk bioteknologi berupa benih transgenik secara global mulai dikomersialkan pada 1996 dan hingga kini penggunaannya telah berkembang ke beberapa negara, mulai dari negara maju hingga negara berkembang. Berdasarkan data Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian, pada 2007 terdapat 23 negara yang menanam produk bioteknologi, terdiri dari 11 negara industri dan 12 negara berkembang.

Dalam program Pan-Asia Farmers Exchange 2012 yang berlangsung pada 26-30 Maret 2012 di Filipina, sejumlah negara peserta juga mengungkapkan kegembiraan mereka menggunakan produk bioteknologi. Kegiatan yang dimotori Croplife tersebut diikuti sembilan negara, yaitu Filipina, China, Indonesia, India, Vietnam, Thailand, Taiwan, Korea, dan Pakistan.

China, misalnya, telah mengomersialkan penggunaan benih produk bioteknologi berupa kapas Bt sejak tahun 1997, dan pepaya yang tahan penyakit papaya ring spot virus (PRSV) sejak tahun 2006. Beberapa produk bioteknologi pertanian lain juga terus dikembangkan, seperti tomat, merica manis, jagung, dan beras.

Luas lahan kapas Bt di China mencapai 3,45 juta hektar dari 5,0 juta hektar tanaman kapas di negara tersebut. Di Guangdong, provinsi utama penghasil pepaya di China, sekitar 99 persen (sekitar 4.625 hektar) pepaya yang ditanam pada 2010 merupakan pepaya bioteknologi.

India juga merupakan salah satu negara yang sudah memanfaatkan bioteknologi pertanian berupa kapas Bt. Pada tahun 2010, penggunaan benih kapas Bt mencapai 9,4 hektar atau setara dengan 86 persen dari tanaman kapas yang ada di negara itu.

Beberapa negara lain juga terus berupaya mengembangkan produk bioteknologi untuk pertanian. Di Filipina saat ini tengah diteliti pengadaan benih terong Bt dan pepaya Bt di Institute of Plant Breeding University of the Los Banos.

Transgenik di Indonesia

Indonesia saat ini memang belum banyak menggunakan benih transgenik untuk produksi pertanian. Indonesia masih tergolong negara pengimpor produk bioteknologi untuk bahan pangan dan pakan, seperti impor jagung.

Wakil Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional Sofwan Hidayat mengatakan, sebenarnya petani terbuka dengan kehadiran benih transgenik. Hal terpenting bagi petani dalam sistem pertanian adalah menghasilkan produksi tinggi, aman dikonsumsi, dan berbiaya murah.

Dalam konteks tersebut, ia berharap pemerintah dan ilmuwan dapat mencari produk unggulan yang menjadi impian petani.

”Kalau memang produk transgenik direkomendasikan dan bagus untuk petani, petani setuju saja,” kata Sofwan.

Ia juga tidak khawatir petani hanya akan menjadi pemakai benih tanpa bisa membuatnya. Sofwan mengibaratkan kondisi itu seperti sepeda motor. Menurut dia, banyak masyarakat yang tidak bisa membuat sepeda motor, tetapi mereka menggunakannya karena keberadaan sepeda motor tersebut penting untuk menunjang pekerjaan.

Hal senada disampaikan Rahmat Kartala, petani asal Kabupaten Malang, Jawa Timur. Menurut Rahmat, petani terbuka terhadap produk bioteknologi sepanjang menguntungkan mereka.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Hasil Sembiring mengatakan, salah satu kendala belum digunakannya benih transgenik di Indonesia adalah masih adanya pihak yang tidak setuju dengan penggunaan benih itu.

Ketua Kelompok Peneliti Biologi Molekuler pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian, Bahagiawati mengatakan, penelitian produk bioteknologi pertanian di Indonesia sudah berlangsung sejak 1993. Untuk tanaman, penelitian keamanan meliputi aman untuk lingkungan, pangan, dan pakan. Keamanan untuk pangan dan pakan di Indonesia sudah teruji, sedangkan keamanan untuk lingkungan masih dalam kajian.

Meskipun demikian, menurut Bahagiawati, produk pangan transgenik sebenarnya sudah banyak masuk di Indonesia, seperti kedelai dan jagung impor. Selama ini konsumsi produk pangan transgenik juga relatif aman bagi masyarakat.

Akankah bangsa Indonesia hanya menjadi konsumen produk pangan transgenik atau ikut berusaha mengembangkannya di dalam negeri?(Siwi nurbiajanti)