Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Manajemen Tebu di Jawa Kurang Tepat

Tanggal: 18 April 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS — Para petani tebu mencermati bahwa rendahnya produktivitas tebu dan rendemen gula di Pulau Jawa akibat tidak adanya perencanaan dan pengelolaan tanaman tebu yang tepat. Kondisi sebaliknya terjadi di areal perkebunan tebu PT Gunung Madu Plantation di Lampung.

 

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengatakan hal itu saat dihubungi, Minggu (17/4), di Jember, Jawa Timur.

 

Saat ini, PT Gunung Madu Plantation (GMP) memproduksi 200.000 ton gula per tahun di Lampung. Produktivitas tebu di lahan perkebunan GMP naik tinggi dari 60 ton per hektar pada 1978 menjadi 87 ton per hektar sekarang ini.

 

Gula yang dihasilkan untuk setiap hektar lahan tebu juga naik dari 3,5 ton menjadi 7,6 ton. Angka ini jauh di atas rata-rata produksi gula per hektar tanaman tebu di Jawa.

 

Menurut Arum, di GMP, hamparan tebu yang luas dikerjakan oleh satu manajemen perusahaan sehingga penentuan bulan tanam, varietas, dan teknologi irigasi hemat air bisa dilakukan. Perencanaan dan pengelolaan pola tanam bisa dilakukan dengan baik.

 

Meski lahan tebu di Lampung pada awalnya kurang subur, karena semula lahan tadah hujan, dengan pengelolaan jaringan irigasi hemat air, produktivitas tanaman yang tinggi bisa dicapai.

 

"Di GMP, perlakuan tanaman bisa homogen karena hamparan yang luas sehingga pengolahan tanah, penanaman, perawatan, dan pemanenan semua bisa dilakukan dengan sistem mekanisasi," jelasnya.

 

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Agus Pakpahan mengatakan, jika mengikuti manajemen dan perencanaan tanam yang sama seperti GMP, produksi gula di Jawa bisa ditingkatkan.

 

"GMP dengan perkebunan tebu mengandalkan lahan kering produksi gulanya bisa tinggi, seharusnya di Jawa bisa jauh lebih tinggi," katanya. Selain perencanaan dan manajemen pola tanam, Agus juga menekankan pentingnya revolusi penelitian dan pengembangan. (MAS)