Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Mampukah Swasembada?

Tanggal: 27 June 2015 | Sumber: Republika | Penulis:

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Beberapa waktu lalu, Ketua MPR Zulkifli Hasan mengungkapkan kekhawa tirannya akan swasembada pangan yang sulit diwujudkan (Repeblika, 11/06). Berbagai alasan diungkakan mengenai sulitnya mencapai tujuan itu, seperti lahan pertanian yang terus menyusut, distribusi pupuk yang belum merata, dan belum ditemukannya bibit unggul yang memberi hasil panen tinggi.

 

Saya memahami kegelisahan Zulkifli Hasan, sekaligus gembira karena kecemasan petani telah menjadi kegundahan pimpinan MPR. Karena, pada kenyataannya, kondisi pertanian di Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan dan butuh perhatian serius dari banyak pi hak, terutama pemangku kepentingan dan tidak dibebankan pada petani sendiri.

 

Menjadi petani adalah pekerjaan mulia, tapi memuliakan petani adalah hal lain. Pekerjaan mulia karena di pundak petanilah bergantung pasokan pangan bagi 253 juta rakyat Indonesia.

Sedangkan, memuliakan petani agar tidak lagi memiliki pendapatan rata- rata Rp 200 ribu per bulan sepertinya cukup sulit, sungguh menyedihkan.

 

Bayangkan, saat ini dari 26 juta rumah tangga petani, lebih dari separuhnya petani gurem yang memiliki lahan rata-rata 0,3 hektare. Tenaga kerja pertanian pun terus berkurang dengan laju penyusutan 500 ribu rumah tangga per tahun. Jumlah penyuluh pertanian hanya 61.124 orang, 27.476 di antaranya PNS, tenaga harian lepas (THL) 20.479 orang, dan penyuluh swadaya 13.169 orang. Itu pun banyak yang memasuki usia pensiun, sehingga kita terancam defisit sumber daya manusia pertanian akibat lambatnya regenerasi.

 

Masalah lain, luas lahan yang kian kecil, bahkan laju konversi lahan, terutama di Jawa mencapai 100 ribu hektare per tahun. Kondisi ini diperburuk irigasi yang rusak 3,3 juta hektare dari 7,3 juta hektare lahan, tingkat pengguna an mekanisasi pertanian baru 30 persen, dan penggunaan bibit nonhibrida masih lebih dari 50 persen.

 

Kondisi ini adalah sebagian kecil problematika pertanian yang harus ditangani dan diatasi pemangku kepentingan agar petani hidup mulia dan mendapatkan pendapatan yang tinggi supaya bisa bertahan hingga musim panen berikut nya yang memakan waktu berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan.

 

Pemerintah semakin menyadari kebutuhan pangan serta pakan dalam negeri memerlukan penanganan serius dan sesegera mungkin. Berbagai cara dilakukan agar kebutuhan pangan terpenuhi secara swadaya dan tak perlu mengimpor, salah satunya melalui program swasembada padi, jagung, dan kedelai atau pajale. Kerja keras ini diimbangi bantuan alsintan dan benih gratis, pupuk bersubsidi, perbaikan irigasi, hingga pelibatan anggota babinsa dari TNI.

 

Apakah semua ini akan menyelesaikan masalah? Dalam waktu singkat, pastinya akan menjadi solusi. Namun, dalam jangka panjang, ketika alsintan mencapai umur pakai dan rusak, subsidi dicabut, tidak ada lagi benih gratis, dan TNI kembali ke barak, apalagi ditambah laju konversi lahan semakin tak tertahan kan di mana lahan produktif berubah menjadi rumah dan pabrik demi alasan ekonomi. Jawabannya, tentu kembali pada pemerintah dan petani itu sendiri, sejauh mana pemerintah bersedia berpihak pada petani dan seberapa kuat keinginan petani untuk mandiri.

 

Kemandirian petani, salah satunya ditunjukkan dari kecerdasan mereka dalam bertani, seperti kemampuan budidaya yang baik, irigasi yang terawat, akses informasi pasar, terutama pemanfaatan teknologi pertanian, seperti alat dan benih unggul berkualitas yang memiliki produktivitas hasil tinggi demi mengimbangi luasan lahan yang menyempit.

 

Penggunaan teknologi pertanian perlu mendapat perhatian serius agar program swasembada pangan cepat tercapai dan terjaga kesinambungannya setiap tahun. Timmer (2008) mengata kan, teknologi akan membuat petani berdaya saing tinggi, menekan biaya produksi, meningkatkan produksi, dan produktivitas serta memperkuat rantai pasokan pangan, hingga akhirnya terbentuk kedaulatan pangan (food soverignity).

 

Salah satu teknologi pertanian terkini adalah penerapan bioteknologi untuk menghasilkan benih unggul yang mampu mengurangi beban petani ketika berhadapan dengan kemarau, banjir, bahkan serangan hama dan penyakit tanaman. Bayangkan ketika bioteknologi menghasilkan tebu tahan kekeringan yang ditemukan ilmuwan Universitas Jember diaplikasikan, tentu petani tebu tak khawatir tanamannya mati atau rendemen rendah saat kemarau menerjang.

 

Petani juga akan bersukacita karena tidak perlu lagi menunggu lama untuk panen karena menggunakan tanaman padi hibrida yang berumur pendek, genjah, tahan penyakit yang ditemukan Balai Besar Tanaman Padi. Demikian pula dengan bioteknologi jagung yang mampu meningkatkan produktivitas serta memberikan pendapatan lebih tinggi dibandingkan jagung biasa karena efisien dalam biaya produksi.

 

Brasil, Vietnam, dan Filipina adalah contoh negara yang tak ragu memanfaatkan bioteknologi jagung demi kebutuhan pangan dan ekonomi negaranya. Bahkan, pada 2014 Indonesia terpaksa mengimpor jagung 3,4 juta ton atau Rp 9 triliun akibat pasokan dalam negeri tidak mencukupi, nilai yang sangat besar jika dinikmati petani dalam negeri.

 

Niatan pemerintah untuk swasembada pangan utamanya pajale patut diapresiasi. Namun, ini bukanlah program sekali jalan yang hanya sekali menghasilkan, lalu tercatat sebagai prestasi, ke mudian dilupakan. Swasembada merupakan kerja tahunan yang butuh ketekunan dan kesinambungan demi kesejahteraan banyak pihak, terutama petani yang selama ini seperti termarjinalkan.

 

Kita dan petani tentu tak ingin mende ngar swasembada di atas kertas, tapi kenyataannya masih saja impor. Atau, ucapan produksi beras cukup untuk beberapa bulan ke depan karena panen me limpah, tapi kenyataannya pemerintah masih berupaya mendatangkan beras, jagung, dan kedele dari negara lain.

 

Penggunaan teknologi, alat, dan mesin yang modern serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani harus diimplementasikan jika kita ingin menikmati swasembada, bukan khayalan tentang swasembada yang hanya dinikmati sebagai angka-angka statistik semata. Swasembada harus nyata bentuk dan nyata pengaruhnya pada kesejahteraan petani. 

 

WINARNO TOHIR

Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)