Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

LARANGAN GLOBAL MENGENAI TANAMAN RG BERDAMPAK BAGI HARGA PANGAN DAN POLUSI UDARA

Tanggal : 16 November 2016

Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Purdue mengungkapkan bahwa larangan global terhadap tanaman rekayasa genetika (RG) akan menaikkan harga pangan dan menambahkan hampir satu miliar ton karbon dioksida ke atmosfer.

 

Para peneliti menggunakan sebuah model untuk mengkaji nilai ekonomi dan lingkungan dari tanaman RG, dan menemukan bahwa mengganti jagung, kedelai, dan kapas RG dari varietas pembibitan konvensional akan mengebkan kenaikan 0,27 hingga 2,2% harga pangan, tergantung pada wilayah, dengan yang paling berdampak adalah negara-negara termiskin. Studi juga melaporkan bahwa larangan terhadap tanaman RG juga akan memicu konversi padang rumput dan hutan menjadi lahan pertanian untuk mengimbangi produktivitas yang lebih rendah dari tanaman konvensional, yang akan melepaskan sejumlah besar karbon yang tersimpan ke atmosfer.

 

Jika negara-negara yang menanam tanaman RG diimbangi dengan laju penanaman tanaman RG di AS, emisi gas rumah kaca global akan turun setara dengan 0,2 miliar ton karbon dioksida, dana akan memungkinkan 0,8 jura hektar lahan pertanian (sekitar 2 juta acre) kembali menjadi hutan dan padang rumput.

 

Profesor ekonomi pertanian Universitas Purdue Dr. Wallace E. Tyner mengatakan, “beberapa dari kelompok yang sama ingin mengurangi emisi gas rumah kaca juga ingin untuk melarang transgenik. Tetapi kamu tidak dapat melakukan keduanya. Penanaman tanaman RG merupakan langkah yang efektif untuk menurunkan jejak karbon.”

 

Untuk lebih lengkap, baca rilis beritanya di situs Univesitas Purdue http://www.purdue.edu/newsroom/releases/2016/Q4/model-predicts-elimination-of-gmo-crops-would-cause-hike-in-greenhouse-gas-emissions.html.