Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

Ubah ke bahasa: English

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

LAPORAN STATUS GLOBAL ISAAA DISAJIKAN DI INDONESIA

Tanggal : 19 March 2013 | Sumber : IndoBIC

Sebuah seminar bioteknologi bertajuk "Global Overview of Biotech/GM Crops 2012: Current Status, Impact and Future Prospect” diselenggarakan di Kementrian Pertanian pada tanggal 13 Maret 2012. Dalam sambutan membuka seminar Bioteknologi hari ini, Menteri Pertanian Suswono menekankan bahwa pemerintah mendukung sepenuhnya pengembangan bioteknologi pertanian di Indonesia. “Dengan menurunnya ketersediaan lahan pertanian dan kebutuhan kita akan pangan kita perlu bioteknologi. Pemerintah mendukung penerapan bioteknologi pertanian dengan tetap mengedepankan pendekatan kehati-hatian”, demikian Suswono.


Dr. Clive James, pendiri dan ketua Dewan International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA) dalam laporannya menuliskan bahwa pada periode 1996 hingga 2012, jutaan petani di 30 negara di seluruh dunia, lebih dari 100 juta orang petani memutuskan untuk menanam tanaman biotek dengan akumulasi luas lahan mencapai lebih dari 1,5 miliar hektar – 50% berada di Amerika dan Cina;  hal ini menunjukkan kepercayaan dan keyakinan dari jutaan petani yang menghindari risiko dari tanaman biotek yang memberikan manfaat sosial ekonomi dan lingkungan yang penting dan berkesinambungan.

Sementara itu Bambang Purwantara, Direktur SEAMEO BIOTROP yang juga Ketua Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia, dalam sambutannya menekankan pentingnya mencermati perkembangan komersialisasi produk bioteknologi pertanian di berbagai Negara untuk bias melihat kemajuan di belahan bumi yang lain. “Kita bisa mencontoh Brazil yang mampu menjadi Negara berkembang terbesar dalam komersialisasi produk bioteknologi pertanian”, tegas Bambang.  Brazil memiliki tiga hal yakni produk yang meyakinkan, proses yang berdasarkan ilmu pengetahuan dan ramah lingkungan dan political will . Menurut Bambang, kemauan politik yang kuat dan konsisten untuk memajukan bioteknologi di berbagai Negara memang esensial tapi seringkali sulit diperoleh. “Kemajuan Brazil dalam pengembangan bioteknologi pertanian tidak lepas dari political will yang kuat dari pemerintah dan parlemen.”, tambah Bambang.


Sementara itu AgusPakpahan, sebagai Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik menyampaikan bahwa sampai saat ini ada empat belas produk rekayasa genetik (PRG) yang telah memperoleh persetujuan Komisi.


Seminar ini diselenggarakan oleh Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC), didukung oleh Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI), CropLife Indonesia, SEAMEO BIOTROP dan International Services for the Acquisition of Agri-biotech Application (ISAAA) dan dihadiri oleh 100 peserta yang terdiri dari para peniliti, akademisi, pembuat kebijakan, petani, jurnalis, pelaku bisnis pertanian dan masyarakat umum. 

Informasi tentang acara ini, email Dewi Suryani at dewisuryani@biotrop.org.