Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Kritik Masyarakat soal Tanaman Transgenik Masih Rendah

Tanggal: 22 October 2015 | Sumber: Kompas | Penulis: J GALUH BIMANTARA

BOGOR, KOMPAS — Bioteknologi tanaman pangan yang menghasilkan varietas transgenik belum sepenuhnya diterima secara terbuka di semua negara. Namun, keterlibatan masyarakat di Indonesia untuk mengawasi, mencari informasi, dan memberikan masukan masih minim. Dengan aktif terlibat, masyarakat bisa mendapatkan informasi lebih lengkap sehingga bisa memberikan pandangan lebih baik, apakah produk transgenik baik atau tidak bagi manusia.

 

Salah satu saluran bagi masyarakat untuk memberikan masukan ialah melalui laman milik Balai Kliring Keamanan Hayati Indonesia (BKKHI) atau Indonesia Biosafety Clearing House, dengan alamat http://indonesiabch.or.id. "Namun, hingga saat ini masukan melalui laman tersebut masih nol," kata Daisy Joyce Djohor dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang juga anggota Sekretariat Komisi Keamanan Hayati.

 

Joyce memaparkan hal itu dalam lokakarya "Food Biotechnology Communicating, Media Relations and Multi-Sectoral Collaboration Training Workshop" di Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10). Acara diselenggarakan Indonesian Biotechnology Information Center (IndoBIC) bekerja sama dengan International Food Information Council Foundation dan United States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service didukung oleh Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia, Seameo Biotrop, dan The International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications.

 

Pembicara utama adalah Joyce, Direktur IndoBIC Bambang Purwantara, Guru Besar Bioteknologi University of California Alan McHugen, Andrew Benson dari IFIC Foundation, dan wartawan Heryanto Lingga.

 

Joyce berharap, masyarakat semakin aktif mengikuti isu terkait dengan tanaman pangan transgenik. Masyarakat juga bisa menyampaikan pertanyaan melalui laman BKKHI. Masukan ilmiah juga sangat dibutuhkan agar menjadi rekomendasi bagi pemerintah dalam mengambil keputusan terkait produk rekayasa genetik yang akan dilepas ke pasar.

 

Joyce mengemukakan, sejak produk bioteknologi pertama kali dipasarkan di dunia tahun 1996, Indonesia pertama kali mengadopsi pada 2000 dengan menanam kapas varietas transgenik di Sulawesi. Kini terdapat 16 produk bioteknologi sudah berbekal persetujuan keamanan pangan di Indonesia.

 

Komisi Keamanan Hayati Indonesia pun baru-baru ini menyetujui dua produk, yaitu tebu tahan kekeringan dan jagung toleran herbisida. Persetujuan untuk rilis komersial sedang ditunggu untuk dua produk itu agar bisa dibudidayakan dalam pertanian.

 

Bioteknologi pangan, termasuk yang menghasilkan tanaman transgenik, berpotensi menjadi solusi bagi Indonesia mewujudkan kedaulatan pangan.

 

"Bioteknologi berpotensi meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petani serta mengurangi tekanan pada lahan dan lingkungan hidup," kata Bambang. Tekanan pada lahan dan lingkungan hidup bisa turun karena bioteknologi meningkatkan produktivitas pertanian secara intensif dari setiap hektar lahan pertanian.