Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

KONSEKUENSI JAGUNG TRANSGENIK

Tanggal: 19 September 2012 | Sumber: KOMPAS | Penulis: AGNES ARISTIARINI

Di tengah hingar-bingar politik dalam negeri, berita tentang rekomendasi Komisi Kemanan Hayati untuk keamanan pakan jagung transgenik bak daun jatuh ditelan arus. Tak banyak tanggapan berarti meski konsekuensinya beragam, dari dampak lingkungan, ketergantungan petani, hingga kedaulatan pangan.

Jagung yang direkomendasikan itu adalah RR NK603 dan Bt Mon89034. Varietas RR NK603 adalah jagung yang mendapat introduksi gen bakteri tanah Agrobacterium sp. Dengan rekayasa genetik ini, RR NK603 menjadi tahan terhadap glyphosate, bahan aktif dalam herbisida Roundup.

Cara kerja glyphosate adalah menghambat enzim yang berfungsi dalam biosintesis asam amino tertentu dalam tanaman dan mikroorganisme yang berperan dalam pertumbuhan. Maka, idenya adalah mengembangkan suatu areal pertanaman jagung transgenik yang gulmanya bisa dibasi dengan herbisida khusus tanpa khawatir tanaman utamanya ikut mati. Disingkat RR dari Roundup Ready, RR NK603 dan Roundup adalah produk perusahaan multinasional Monsanto.

Varietas Bt Mon89034 juga dihasilkan oleh Monsanto. Kode Bt merupakan singkatan dari bakteri Bacillus thuringiensis, yang gennya disisipkan ke jagung melalui rekayasa genetika. Gen yang diambil dari bakteri Bt tersebut adalah gen penyandi protein Cry1A105 dan Cry2Ab2, keduanya dapat mematikan larva hama penggerek batang jagung lepidoptera. Hama ini menurunkan hasil panen jagung hingga 30 persen.

Kontribusi jagung
Jagung adalah tanaman pangan penting kedua setelah padi, baik dari sisi produksi maupun nilainya. Sebagian besar areal pertanaman jagung terdapat di lahan kering, baru sisanya di lahan irigasi dan tadah hujan. Daerah penghasil utama jagung di Indonesia adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri makanan, minuman, dan pakan terus meningkat 10-15 persen setiap tahun. Namun, berbagai upaya untuk meningkatkan produksi jagung nasional belum juga mampu menutup kebutuhan. Data dari Balai Penelitian Tanaman Serealia menunujukkan, impor jagung segar meningkat 4,5 kali lipat dari 338.798 ton tahun 2009 menjadi 1.527.516 ton tahun 2010. Demikian pula halnya dengan impor jagung olahan yang meningkat tiga kali lipat dari 820.433 ton tahun 2009 menjadi 259.295 ton tahun 2010.

Persoalan utama pengembangan jagung di Indonesia adalah belum meratanya penggunaan benih jagung yang berkualitas, belum intensifnya pengelolaan budidaya dan penanganan pascapenennya. Tidaklah mengherankan bila upaya peningkatan produksi jagung juga lebih ditekankan pada produktivitas, bukan perluasan lahan.

Varietas baru
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, misalnya, sampai tahun 2011 telah merilis berbagai varietas unggul baru, termasuk dianataranya 16 hibrida baru. Dalam hal ini, varietas unggul baru tanaman pangan biasanya memiliki ketahanan terhadap hama penyakit dan tahan terhadap lingkungan spesifik wilayah, seperti tingkat kesuburan tanah yang rendah dan ancaman kekeringan.

Dalam hal ini, kehadiran varietas jagung transgenik memang masuk dalam kriteria. Permasalahannya, kemudian, siapkah kita menghadapi berbagai resiko kehadiran jagung transgenik di Indonesia?

Potensi risiko ini dapat dikaji dari pengaruh komponen sisipan ini terhadap makhluk hidup lain-mikroorganisme, herbivora, dan omnivora-bukan target, yang memakan tanaman transgenik, baik langsung maupun tidak langsung. Potensi lain adalah pengaruhnya terhadap lingkungan yang lebih menyeluruh dari areal pertanaman transgenik.

Seperti diuraikan sebelumnya, tanaman tranasgenik adalah tanaman yang disisipi gen makhluk hidup lain melalui suatu rekayasa genetika. Sebagai hasil rekayasa yang tidak alami: karena menggabungkan gen tanaman dengan gen bakteri atau gen lain yang bukan kerabatnya, dampak terhadap habitatnya bisa tidak terduga.

Menurut Dwi Andreas Santosa dalam “Analisis Risiko Lingkungan Tanaman Transgenik”, yang dipublikasikan dalam jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, Oktober 2000, perubahan ini ternyata mempengaruhi predator alami hama target, mulai dari ketidakmampuan mengenali mengsanya sampai turut mati sebagai korban.

Tumbuhan milkweed yang tumbuh di sekitar ladang jagung Bt ternyata juga tercemar serbuk sari jagung meski dalam jumlah lebih rendah dari ambang batas toksisitas terhadap larva kupu-kupu monarch. Dengan demikian, perlu dianalisis lebih lanjut dampak buruk penyebaran gen tanaman transgenik ke tanaman budi daya lain yang mampu kawin silang dengan kerabat liarnya.

Penyebaran gen dari tanaman transgenik juga sering dianggap sebagai ancaman terhadap keanekaan hayati, terutama pada tanaman liar yang sudah terancam punah, meski menurut beberapa ilmuwan pendapat ini sulit diterima.

Dampak sosial
Menurut Dwi Andreas Santosa, Ketua Program S-2 Bioteknologi Tanah dan Lingkungan IPB dan menjadi salah satu penggagas Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia, yang lebih penting lagi untuk dipertimbangkan adalah dampak ekonomi dan sosial. 

Bila tanaman transgenik ditanam secara besar-besaran, akan terjadi pergeseran penguasaan benih dari mula-mula common property-di mana petani menjadi pemilik benih yang bisa disimpan dan ditanam berulang kali-menjadi milik hanya beberapa perusahaan multinasional.

Kedua benih yang sudah dianggap sebagai pakan yang aman pada tingkat berikutnya bisa direkomendasikan untuk ditanam. Ini yang berkonsekuensi pada ketergantungan petani. Pada jagung RR NK603, petani bahkan hanya bisa menggunakan produk pestisida tertentu. Inikah yang kita inginkan?