Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

KOMODITAS PANGAN-Strategi untuk Jagung Segera Dirumuskan

Tanggal: 8 August 2017 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Lembaga Pusat Kajian Pangan Strategis berencana menggelar konvensi jagung nasional bulan depan. Hasil dari konvensi ini diharapkan dapat merumuskan strategi sebagai acuan pengembangan komoditas jagung.

 

Pembentukan Pusat Kajian Pangan Strategis (PKPS) berawal dari kegelisahan peternak dan pengusaha pakan terkait dengan problem jagung dua tahun terakhir. Selain pengusaha dan peternak, PKPS juga beranggotakan akademisi, politisi, petani jagung, dan aktivis pertanian pangan.

 

"Gejolak jagung perlu diatasi bersama, tak hanya oleh pemerintah. Oleh karena itu, kami mengundang semua pihak yang terkait jagung untuk hadir, memberikan masukan, dan ikut merumuskan bagaimana pengembangan jagung," kata Ketua PKPS, Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Senin (7/8).

 

Hadir bersama Siswono antara lain Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (GAPPI) Anton J Supit, mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro, Penasihat Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman, dan Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) Yeka Hendra Fatika.

 

PKPS merupakan tindak lanjut dari forum diskusi terfokus yang digelar di Jakarta bulan lalu. Diskusi dihadiri petani jagung, peternak unggas rakyat, pengusaha pakan ternak, perwakilan pemerintah daerah, dan politisi. Diskusi digelar terkait dengan polemik jagung nasional.

 

Gejolak terkait dengan jagung mengemuka sejak pemerintah memutuskan mengurangi impor jagung pada tahun 2016 dan menghentikan impor jagung pada 2017. Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, optimistis produksi jagung nasional cukup, bahkan surplus. Namun, kalangan peternak menganggap jagung tidak cukup tersedia sehingga harganya melonjak tinggi.

 

Sejak kebijakan itu, impor jagung turun dari 3,5 juta ton pada 2015 menjadi 1,3 juta ton pada 2016. namun, impor gandum naik dari 7,7 juta ton menjadi 10,8 juta ton, sebagai bahan baku pengganti jagung yang harganya dinilai tidak terlalu tinggi.

 

Dampak

Harga jagung yang tinggi berdampak luas terhadap sektor perunggasan yang menyumplai sebagian besar kebutuhan protein masyarakat. Kalangan peternak menilai harga jagung saat ini, yakni Rp 4.500 per kilogram, terlampau tinggi. Sebaliknya, harga jagung impor hanya Rp 3.100 per kg.

 

Mahalnya harga jagung mendongkrak biaya produksi daging dan telur ayam sebab jagung merupakan bahan baku utama pakan. Sementara pakan menjadi komponen terbesar produksi ayam.

 

"Jagung strategis karena produk turunannya, yaitu pakan, dipakai secara luas dalam industri ternak unggas. Daging dan telur ayam adalah sumber protein paling murah bagi masyarakat yang perlu ditingkatkan volume produksinya," ujar Siswono.

 

Sudirman menambahkan, selain memastikan volume dan mutu, problem yang mesti diselesaikan adalah menyediakan jagung dengan harga terjangkau atau setidaknya bersaing dengan harga jagung impor. Dengan demikian, problem jagung tidak mematikan sektor perunggasan yang telah mampu memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

 

Pengembangan jagung memerlukan langkah sistematis. Pada tahap awal, target produksi setidaknya mampu menutup kebutuhan 3 juta ton yang selama ini dipenuhi dari impor. Kemudian, berkembang menjadi 12 juta ton untuk kebutuhan industri pakan besar, sedang, dan kecil.

 

"Setelah itu, baru berpikir untuk mengekspor jagung," kata Sudirman.

 

Menurut Anton Supit, data jagung penting untuk dibenahi. Itu karena data yang tidak sinkron dengan situasi riil dapat memicu masalah di sektor peternakan, khususnya terkait dengan penyediaan pakan.

 

Produksi jagung nasional tahun 2016, menurut Kementerian Pertanian, mencapai 23,5 juta ton. Angka itu melebihi kebutuhan nasional yang diperkirakan 19 juta ton. (MKN)