Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

KKH Targetkan Kentang Hemat Fungisida Dilepas 2018

Tanggal: 31 May 2016 | Sumber: Medan Bisnis | Penulis:

MedanBisnis - Jakarta. Komisi Keamanan Hayati (KKH) menargetkan kentang hasil rekayasa genetika atau bioteknologi yang tahan penyakit busuk daun (phytophtora infestans) hasil pengembangan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian dapat dilepas ke pasar pada 2018.
Anggota Tim Teknis KKH Bidang Keamanan Pangan M Herman kepada wartawan di Jakarta, Senin (30/5), mengatakan kentang biotek tersebut sudah mendapat rekomendasi lolos pengujian keamanan pangan pada tahun 2015, sedangkan tahun 2016 tengah diajukan audit keamanan lingkungan.

"Selanjutnya, di tahun 2017, akan diperiksa persyaratan keamanan pakan. Kita harapkan, tahun 2018, benih kentang transgenik hemat fungsida dapat dilepas ke pasar," ujarnya.

Sebelumnya dalam kegiatan Biotech Journalist Gathering yang digelar Indobic di Bogor, Herman menyatakan, saat ini Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian mengembangkan benih kentang transgenik yang mampu menghemat penggunaan fungisida 50-80 persen.

Fungisida merupakan senyawa pestisida yang membunuh atau menghambat cendawan penyebab penyakit, yang mana petani cenderung menyemprot obat-obatan ini antara 20-30 kali per musim.

"Petani sudah menyemprot fungisida pagi harinya, namun apabila siangnya hujan, mereka semprot lagi. Bayangkan berapa banyak residu fungisida di daun kentang dan ini berisiko terhadap keamanan pangan," ujarnya.

Menurut Herman, penyakit busuk daun merupakan penyakit yang kerap terjadi pada tanaman kentang khususnya pada musim penghujan. Keganasan penyakit jamur ini dapat mengurangi hasil 90-100 persen, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Terkait kondisi tersebut, BB Biogen berupaya mengembangkan varietas kentang tahan penyakit daun, yang mana penelitian dimulai sejak 2006 dengan melakukan persilangan antara varietas granola dengan atlantik.

Uji penanaman dilakukan di empat lokasi seperti Pasir Sarongge, Lembang, Pangalengan dan Banjarnegara dengan menyilangkan 43 sumber benih dari dua jenis kentang diatas, dalam prosesnya, terseleksi kembali hingga enam sumber benih.

Dari hasil uji coba, lanjut Herman, varietas kentang transgenik tidak terserang jamur, sementara pada kentang non transgenik pada usia 48 hari terserang jamur hawar daun.
"Sebaliknya, tanaman kentang transgenik cukup disemprot fumigasi 10 kali hasilnya tidak berbeda dengan tanaman kentang non transgenik yang disemprot hingga 20 kali," ujarnya.

Menurut dia, dengan penggunaan varietas biotek, tanaman kentang akan lebih ramah lingkungan, selain itu petani dapat menghemat biaya penyemprotan fungisida 50% atau minimal Rp 4,09 juta.

Namun, tambahnya, di lokasi uji coba lainnya peluang penghematan penggunaan fungsida dapat ditingkatkan hingga Rp 6,55 juta atau 80%.

Hery Kristanto dari Croplife Indonesia menyatakan, kalangan industri siap untuk mengadopsi benih bioteknologi hasil penelitian BB Biogen jika nantinya sudah dilepas ke pasaran. "Kami dari kalangan industri menyiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor," katanya.

Menurut dia, Indonesia memiliki peluang sebagai eksportir benih hasil rekayasa genetika atau bioteknologi mengingat beberapa negara tetangga seperti Filipina, Vietnam sudah menerapkan benih tersebut di lapangan sedangkan untuk memproduksi sendiri mereka memiliki banyak kendala.

Selama ini, tambahnya, pasokan benih biotek Filipina banyak didatangkan dari Argentina yang jaraknya sangat jauh sehingga Indonesia berpeluang menjadi pemasok ke negara tersebut. (ant)