Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Ketahanan Pangan-La Nina Jadi Peluang untuk Tambah Produksi

Tanggal: 16 July 2016 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

SURABAYA, KOMPAS - Anomali cuaca yang disebut La Nina, berupa hujan di musim kemarau, yang terjadi saat ini merupakan kesempatan bagi petani dan produsen pangan nasional untuk memanfaatkannya sebagai keuntungan. Tambahan pasokan air di musim kemarau merupakan peluang dan keuntungan untuk menambah luas tanam padi di lahan tadah hujan.

 

Kementerian Pertanian meyakini, pertambahan luas tanam dan produksi padi akan meningkat. Menteri Pertanian Andi Amram Sulaiman mengatakan hal itu di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (15/7).

 

Kemarin, Mentan memimpin panen jagung yang benihnya diproduksi PT BISI Internasional. Jagung ini akan dipasok ke produsen anakan ayam PT Charoen Pokphand untuk dijadikan pakan ayam. Sebelum itu, Mentan memimpin upacara dimulainya upaya khusus produksi pangan, kerja sama Kementan dengan Pemerintah Provinsi Jatim dan Kodam V/Brawijaya.

 

Amran optimis, tahun ini pihaknya dapat menaikkan target luas tanam karena agroklimatnya cocok. Tahun ini Indonesia mendapat keuntungan musim kering yang basah sehingga beberapa komoditas musim kemarau, yakni jagung dan kedelai, akan sukses, sedangkan pada padi akan meningkat, terutama di lahan-lahan kering tadah hujan.

 

Di Sulawesi Selatan, perubahan iklim memberi peluang kepada petani yang memiliki sawah tadah hujan kembali menanam padi. Petani yang semula hendak menanam palawija sebagaimana dilakukan setiap musim kemarau kembali menanam padi.

 

"Tapi kami pantau agar sawah tadah hujan yang ditanami padi betul-betul akan mendapat cukup air hingga padi cukup umur," kata Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Sulsel M Yunus di Makassar.

 

Ia mengatakan, petani dan pihak dinas pertanian sudah melakukan tudang sipulung (musyawarah) untuk melihat situasi dan mengantisipasi ancaman La Nina. Berdasarkan hasil tudang sipulung ini, diputuskan bahwa petani yang berada di sawah tadah hujan bisa tetap menanam padi dengan memanfaatkan hujan yang masih turun. Petani juga diminta menampung air dalam penampungam, membuat embung, dan menyiapkan pompa untuk mengantisipasi jika hujan sudah berhenti pada saat padi masih membutuhkan air.

 

"Kami juga memantau wilayah-wilayah tertentu yang prakiraan hujannya hanya numpang lewat, dan kami mengimbau petani tak memaksa menanam padi melainkan palawija," katanya.

 

Dengan kondisi ini, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sulsel Aris A Mappeangin, optimis target produksi akan tercapai. Malah kami berharap hasilnya akan lebih dengan melihat situasi sekarang. Panen musim tanam I yang sudah berlangsung hingga Mei lalu, hasilnya bagus dan kami berharap musim tanam II, termasuk padi dari sawah tadah hujan, juga akan bagus," katanya.

 

Pada panen raya di musim tanam I, hasil panen padi di hampir semua wilayah Sulsel berkisar 5-10 ton per hektar gabah kering giling (GKG). Pada 2015 Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sulsel menargetkan produksi hingga 5,7 juta GKG atau setara lebih dari 3,3 juta ton beras.

 

Vulog Divre Sulselbar menargetkan pengadaan 600.000 ton beras. Hingga pertengahan tahun ini target tersebut sudah mencapai lebih dari 50 persen. (ODY/REN)