Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

KETAHANAN PANGAN- Dorong Koordinasi dan Perubahan Perilaku

Tanggal: 30 January 2018 | Sumber: Koran Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Koordinasi antarpemangku kepentingan di berbagai level dan perubahan perilaku warga sulit dilakukan. Padahal, hal itu menjadi kunci untuk menekan angkan anak usia di bawah lima tahun bertubuh pendek atau stunting di Indonesia.

 

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tri Nuke Pudjiastuti memaparkan hal itu dalam jumpa pes Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI, Senin (29/1), di Jakarta. Menurut rencana, WNPG XI diselenggarakan pada 3-4 Juli.

 

Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan, precalensi stnting di Indonesia 37,2 persen atau 8,9 juta anak balita. Sunting atau pendek adalah kurang gizi kronis sejak dalam kandungan berakibat tumbuh kembang bayi terganggu.

 

Anak balita stunting juga defisit kognitif dan berisiko terkena penyakit tak menular. Menurut Pelaksana Tugas Kepala LIPI Prof Bambang Subiyanto, jika sial stunting tak teratasi, Indonesia akan krisis sumber daya manusia berkualitas.

 

Kondisi itu terjadi karena koordinasi antarpemangku kepentingan di pusat dan daerah lemah. Selain itu, perubahan perilaku masyarakat jadi kendala, misalnya kepercayaan masyarakat bahwa ibu hamil dilarang makan ikan karena takut bayi yang dilahirkan berbau amis.

 

Keragaman hayati

Secara terpisah, Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika Agus Pakpahan, kemarin, di Jakarta, menyatakan keanekaragaman hayati di Indonesia harus dimanfaatkan optimal. Selain meningkatkan ketahanan pangan dan mengatasi masalah gizi kurang, keragaman hayati juga bisa untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

 

Ia mencontohkan, ada 600 jenis padi di Indonesia, sedangkan Jepang sekitar 40 jenis. Selain padi-padian, negeri ini juga kaya sumber karbohidrat lain, seperti ubi kayu, jagung, dan sagu, serta bisa diolah jadi tepung. Adapun tepung nabati bisa dipadukan dengan asupan protein, lemak, dan vitamin melalui pengembangan bioteknologi (ADH/YUN)