Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Kekeringan, Pengadaan Pangan Tersendat

Tanggal: 12 November 2015 | Sumber: Harian Kompas | Penulis:

BANYUMAS, KOMPAS — Penyerapan pangan Perum Bulog di wilayah Jawa Tengah bagian selatan terhenti. Tidak ada lagi lahan persawahan padi yang panen setidaknya hingga Maret tahun depan. Kondisi ini terjadi akibat pengaruh fenomena iklim El Nino yang memicu kekeringan berkepanjangan sehingga banyak lahan padi gagal panen.

 

M Priyono dari Humas Perum Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Rabu (11/11), mengatakan, akibat pengaruh El Nino, banyak tanaman padi puso. Selain itu, banyak terjadi serangan hama pada awal musim tanam hujan.

 

"Kondisi ini berdampak pada penurunan produksi padi sehingga Bulog Banyumas tidak bisa menyerap beras secara maksimal," ujarnya. Bahkan, prognosa pengadaan beras 2015 sebesar 80.000 ton tidak dapat tercapai meskipun berbagai upaya telah dilakukan. Priyono menyebutkan, Bulog Banyumas hingga kini hanya mampu menyerap beras dengan skema public service obligation (PSO) sekitar 62.000 ton, sedangkan untuk beras premium sekitar 8.700 ton.

 

Menurut Priyono, penyerapan gabah ataupun beras sudah tidak lagi dilakukan. Pasalnya, sudah tidak ada lagi petani yang panen. Kendati demikian, dia mengatakan bahwa stok beras yang tersimpan di gudang-gudang Bulog Banyumas masih mencukupi kebutuhan hingga Januari 2016.

 

Dampak iklim El Nino sepanjang 2015 menyebabkan proyeksi pertanian padi di Kabupaten Kebumen terganggu. Mundurnya musim tanam pertama hingga dua bulan menyebabkan rencana tanam padi pada musim gadu terancam gagal.

 

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen Machasin mengatakan, pada 2016, indeks penanaman (IP) 300 persen berupa padi-padi-palawija diperkirakan bakal tidak terpenuhi.

 

Panen gadu

 

Di Provinsi Lampung, kendati dilanda El Nino, masih dapat memanen padi dari lahan sawah gadu seluas 33.000 hektar. Penanaman selama Agustus-September tersebut berhasil melewati musim kemarau melalui sistem pompanisasi dan jaringan irigasi tersier yang baik.

 

Hal itu disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam panen raya gadu di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, Rabu (11/11). Ia mengapresiasi upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah dan petani dalam panen gadu.

 

Amran berharap masa tanam gadu saat musim kemarau bisa dimanfaatkan secara optimal. "Saat kemarau, produktivitas per hektar justru tinggi, bisa mencapai 8 ton-9 ton gabah panen. Produktivitas bisa tinggi karena fotosintesis tinggi, kehilangan produksi berkurang, minim hama, tidak ada jamur, dan kadar air rendah sehingga bisa langsung masuk ke penggilingan. Potensi ini harusnya dimanfaatkan, terlebih saat kemarau harga gabah tinggi," ujarnya.

 

Amran mengatakan, Lampung merupakan salah satu provinsi yang dilanda El Nino dengan kapasitas yang tinggi. Namun, hal itu sama sekali tidak berdampak pada penurunan produksi padi karena berbagai upaya telah dilakukan pemerintah melalui bantuan pompanisasi dan pembagian alat mesin pertanian.

 

"Intensitas El Nino yang terjadi di Lampung sangat kuat, mencapai 2,35 persen. Ini merupakan El Nino terkuat sepanjang sejarah. Pada 1998, intensitas El Nino sekitar 1,98. Pada 1998, Indonesia harus mengimpor beras sebanyak 7,1 juta ton," ujarnya.

 

Kalau melihat dari pengalaman tahun 1998, lanjut Amran, Indonesia seharunsya mengimpor beras 9 juta ton. Berkat upaya khusus peningkatan produksi pertanian, Indonesia berhasil lepas dari rencana impor beras.

 

Pada kesempatan tersebut, Amran juga menyampaikan, target produksi padi 2015 sebesar 73 juta ton telah tercapai. Ia bahkan mengklaim produksi padi 2015 akan melebihi dari target yang ditetapkan.

 

Sementara itu, persediaan di Perum Bulog Divisi Regional Jember, Jawa Timur, masih cukup dan mampu memenuhi kebutuhan untuk 15 bulan ke depan. (GRE/SIR/GER)