Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Keberagaman Kunci Ketahanan Pangan

Tanggal: 21 June 2019 | Sumber: Koran Harian Kompas | Penulis:

JAKARTA, KOMPAS - Meningkatnya permintaan pangan global, penurunan produksi tanaman biji-bijian, dan perubahan iklim mengancam stabilitas sistem pangan pada skala nasional hingga global. Keragaman budidaya tanaman terbukti jadi solusi paling efektif meningkatkan ketahanan pangan nasional.

 

Studi yang dilakukan Delphine Renard dari Universitas California Santa Barbara, Amerika Serikat, dan David Tilman dari Universitas Montpellier, Perancis, dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (20/6/2019). Kajian dilakukan dengan membandingkan panen tahunan 176 jenis tanamn di 91 negara dalam lima dekade.

 

"Memastikan pasokan makanan yang stabil ialah tantangan yang butuh banyak solusi. Hasil kajian kami menunjukkan peningkatan keanekaragaman budidaya tanaman paling efektif untuk mengatasi tantangan ini," kata Renard dalam karya tulisnya.

 

Peneliti membandingkan dan mengombinasikan variabel keragaman budidaya tanaman dengan perlakuan lain demi memacu produksi pangan nasional, seperti perbaikan irigasi dan penigkatan intensitas tanam. Variabel lain dipakai antara lain ketidakpastian suhu dan penguapan terkait curah hujan.

 

Hasilnya, makin beragam tanaman dibudidayakan, ketahanan pangan negara menguat. Jika perubahan iklim memicu krisis air, negara yang membudidayakan beragam tanaman mengalami penurunan risiko defisit pangan. Sebab, keberagaman budidaya pangan menutupi penurunan panen jenis tanaman tertentu lewat jenis tanaman lain yang lebih tahan kekeringan.

 

Dalam kajian itu disebutkan, ketahanan pangan meningkat jika budidaya beragam dikombinasikan perbaikan irigasi. Budidaya ragam tanaman juga berguna di negara-negara dengan irigasi terbatas karena petani bisa menstabilkan pendapatan dan pasokan makanan.

 

Analisis data nilai ekonomi dari semua panen di setiap negara menunjukkan, kestabilan ekonomi dari sektor pertanian terjamin jika menerapkan diversifikasi budidaya tanaman. Kajian lebih lanjut direkomendasikan untuk melihat kaitan keragaman budidaya dengan pemenuhan nutrisi dan kerentanan gizi buruk.

 

Penyeragaman

Praktik budidaya tanaman secara beragam telah lama diterapkan masyarakat adat di Indonesia. Praktik itu tergusur dengan tren penyeragaman pangan ke padi yang dimulai sejak penerapan Revolusi Pertanian era Orde Baru.

 

Masyarakat adat yang menerapkan pola budidaya pangan beragam terbukti lebih berdaulat pangan dan bisa memenuhi kebutuhan nutrisi. Contohnya warga adat Boti di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang menanam beragam sumber pangan,seperti sorgum dan jagung lokal (Kompas, 14 Mei 2019).

 

Hasil kajian terpisah Organasasi Pangan dan Pertanian (FAO) besama dengan National University of Singapore (2018) menunjukkan, ketergantungan pada beberapa tanaman memiliki konsekuensi negatif bagi ekosistem, keragaman makanan, dan kesehatan manusia. Sagu yang merupakan tanaman asli Indonesia jadi sumber pangan yang direkomendasikan guna menjawab kebutuhan pangan ke depan.

 

Tanaman sagu memiliki kemampuan adaptasi amat baik dan tak dipengaruhi musim ataupun perubahan iklim (Batacut T, 2014). Tanaman sagu bisa tumbuh di lahan marjinal dan menghasilkan pati empat kali lebih banyak daripada beras. (AIK)