Indonesian Biotechnology Information Centre
Biotechnology for the welfare of people

BERITA TERKINI

ARTIKEL

ARTIKEL

Jagung Harapan Alternatif Di Tengah Minimnya Air

Tanggal: 3 December 2015 | Sumber: antarariau.com | Penulis: Antara Riau

Komoditas pangan yang selama ini masih tersentral pada beras agaknya membuat pemerintah kerepotan dalam memenuhi bahan pokok tersebut, sehingga harus impor dari beberapa negara untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri yang semakin lama semakin meningkat.

 

Berdasarkan data dari organisasi pangan PBB, "Food and Agriculture Organization of the United Nations" (FAO), populasi atau penduduk dunia akan mencapai lebih dari 9 miliar jiwa pada 2050. Dan, penduduk Indonesia pada tahun tersebut dipekirakan mencapai 300 juta jiwa.

 

Untuk mencukupi kebutuhan pangan, petani dan sektor pertanian di seluruh dunia perlu meningkatkan produktivitasnya dari setiap lahan dan air yang digunakan tanpa membuka lahan baru dari pengalihan hutan.

 

Salah satu yang dapat mendukung peningkatan per hektare lahan adalah penggunaan benih yang berkualitas. Benih dan bibit sebagai produks akhir dari suatu program pemuliaan tanaman, yang pada umumnya memiliki karakteristik keunggulan tertentu mempunya peranan vital sebagai penentu batas-batas produktivitas dalam menjamin keberhasilan budi daya tanaman.

 

Benih berkualitas yang dihasilkan dari teknik pemuliaan tidak hanya dapat membantu petani untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit serta nisbi lebih tahan terhadap tekanan abiotik, seperti iklim dan cuaca.

 

Apalagi, kondisi pengairan sawah yang semakin lama intensitasnya juga menurun, membuat petani yang diwakili Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), pakar pangan dan industri perbenihan terus mencari terobosan untuk mecari solusi bagaimana agar ketersediaan bahan pangan di dalam negeri tidak terus menerus mengandalkan produksi dari luar negeri alias impor.

 

PT DuPont Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang menyediakan produksi benih di Tanah Air juga tidak pernah berhenti berinovasi untuk menemukan varietas baru terkait bahan pangan utama, termasuk jagung sebagai bahan pangan pilihan kedua setelah beras.

 

Ketua Umum KTNA Nasional Winarno Tohir dalam satu kesempatan kunjungan ke industri benih di Kabupaten Malang belum lama ini, mengatakan memang menjadi hak petani untuk memilih tanaman yang akan ditanam, sesuai dengan perhitungan ekonomi karena mereka menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian,.

 

Namun, saat ini petani juga harus memikirkan kondisi cuaca yang tidak menentu, sehingga tanaman yang ditanam akan membuahkan hasil dan tidak sampai terjadi gagal panen.

 

"Kekuarangan air atau pengairan yang terbatas seperti yang terjadi akhir-akhir ini, membuat petani harus menanam komoditas pangan yang hemat air atau tidak banyak membutuhkan air, salah satunya adalah jagung," tutur Winarno.

 

Menurut dia, tanaman jagung bisa memberikan penghasilan lebih karena selain jagungnya bisa dipipil, batangnya juga bisa untuk pakan ternak dan tongkol serta kelobotnya juga masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, sehingga banyak penghasilan tambahan yang didapat petani.

 

Apalagi, lanjutnya, tanaman jagung juga tidak membutuhkan banyak air serta mudah diurus, baik jagung varietas komposit, hibrida maupun jagung bioteknologi (segera dilepas) yang dirakit sesuai kebutuhan, sehingga tingkat kegagalan panen petani sangat rendah.

 

Oleh karena itu, menurut Winarno, untuk meminimalkan gagal panen pada tanaman jagung, petani harus memastikan benih yang akan ditanam benar-benar berkualitas, sebab benih menjadi prioritas utama sebelum faktor-faktor pendukung lainnya, seperti komposisi pemupukan, hama penyakit, pemeliharaan dan pascapanen.

 

Ia mengakui benih yang ditanam petani juga berkorelasi dengan kualitas panen yang dihasilkan. Benih juga akan menjadi salah satu penyebab mahalnya harga pangan.

 

Selain itu, juga berpengaruh terhadap meningkatnya risiko pemanasan global, kelaparan, konflik pangan, serta turunnya tingkat kesejahteraan petani.

 

Memang, katanya, benih menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan sektor pertanian, benih yang berkualitas bagus dan disertai pengelolaan yang bagus pula, akan mampu meningkatkan produktivitas.

 

Misalnya, penggunaan benih jagung hibrida mampu meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat dibanding benih jagung konvensional.

 

"Benih ini merupakan salah satu dari sekian komponen biaya produksi, namun dari keseluruhan biaya produksi itu, benih hanya menyumbang sekitar 7-10 persen saja. Akan tetapi, meski sumbangsihnya terhadap biaya produksi kecil, kalau tidak benar-benar cermat akan berpengaruh terhadap keseluruhan produktivitas (hasil panen)," ujarnya.

 

Sementara itu, manajer marketing PT Dupont Indonesia Yuana Leksana mengakui harga benih jagung hibrida lebih tinggi dibandingkan dengan benih jagung biasa, tetapi proporsi biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli benih hanya sekitar 7-10 persen saja dari total biaya pengolahan lahan.

 

Biaya pengolahan lahan paling besar, kata Yuana, dikeluarkan untuk tenaga kerja dan pupuk. "Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan peningkatan hasil panen yang didapat petani, benih jagung hibrida masih memberikan keuntungan," ujarnya.

 

 

Terobosan Teknologi Perbenihan

Cuaca yang tidak menentu dan anomali iklim akibat pengaruh fenomena El Nino, mulai dari El Nino lemah, moderat, kuat dan sangat kuat sehingga cuaca sulit diprediksi.

 

Bahkan, fenomena El Nino diperkirakan sampai April 2016. Kondisi membuka peluang bagi petani untuk menanam tanaman yang hemat air dan jagung menjadi pilihan kedua setelah padi.

 

Selain tidak banyak membutuhkan banyak air, bertanam jagung secara tidak langsung juga memperkuat ketersediaan pangan di Tanah Air yang  berusaha keras untuk mewujudkan program swasembada pangan yang telah digariskan pemerintah pusat.

 

Tanpa ada teknologi dan rekayasa genetika dalam perbenihan, mustahil petani di Tanah Air akan mampu memenuhi kebutuhan bahan pangan penduduk di tengah kondisi air yang minim dan lahan pertanian yang semakin menyempit akibat pengalihan lahan.

 

Setiap tahun rata-rata ada pengalihan fungsi lahan seluas 100 ribu hektare, sementara untuk mencetak sawah baru tidak lebih dari 38 ribu hektare.

 

Ketua KTNA Nasional Winarno Tohir yang mengutip pendapat Presiden ke-5 RI Megawati Soekarno Putri menyebutkan bahwa dengan potensi sumber daya alam (SDA) dan SDM yang begitu besar, ditambah dengan budaya masyarakat agraris, Indonesia lebih baik fokus pada rekayasa genetika benih, bukan pembukaan lahan baru.

 

Jika ingin swasembada pangan jangan cetak sawah baru, tapi ciptakan benih yang beragam sehingga bisa cocok dengan kondisi lahan di Indonesia yang juga beragam.

 

"Kalau kita pahami perkataan Bu Mega, bangsa ini harus mulai memikirkan rekayasa genetika untuk meningkatkan produktivitas komoditas pangan, termasuk melalui bioteknologi," ujarnya.

 

Hanya saja, kata Yuana, tantangan bagi industri benih cukup berat, di antaranya peredaran benih palsu dan kesadaran petani untuk menggunakan benih berlabel karena sertifikasi menjamin kualitas benih.

 

Rata-rata germinasi atau daya tumbuh benih berlabel sekitar 95 persen, artinya petani hanya perlu menggunakan satu butir benih dalam setiap lubang.

 

Sedangkan cara tanam benih biasa, dianjurkan dua atau tiga butir pada setiap lubangnya. Dengan adanya perbandingan itu, benih hibrida bersertifikasi memiliki tingkat efesiensi yang lebih baik.

 

Hanya saja, banyak orang (petani) abai terhadap pentingnya sertifiaksi atau label ini dan mereka tergiur untuk menggunakan benih yang tidak bersertifikat, padahal dengan harga benih palsu yang tidak murah, petai menghadapi risiko gagal tanam yang jauh lebih besar.

 

"Sebagai perusahaan benih, kami berharap masalah sertifikasi dan benih palsu ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, sebab benih palsu dapat merugikan petani dan mengancam program ketahanan pangan di Indonesia," papar Yuana.

 

Ia mengemukakan sebagai produsen benih dengan teknologi bio (biotekologi) yang menghasilkan benih jagung pioneer atau jagung hibrida, pihaknya juga ingin terlibat langsung dalam meningkatkan kesejahteraan petani maupun mewujudkan program swasembada pangan pemerintah, apalagi tahun depan pemerintah akan memberikan subsidi benih jagung mealui program sejuta hektare jagung dan 800 ribu hektare padi.

 

PT Dupont, lanjutnya, ingin berperan dalam penyediaan benih jagung bagi petani tersebut melalui subsidi pemerintah. "Paling tidak, dari satu juta hektare lahan jagung itu, 20 persennya bisa kami suplai," ucapnya.

 

Varietas benih jagung hibrida yang diproduksi pioneer, katanya, cukup banyak, mulai P1 hingga P35 Banteng yang tahan bulai dan cepat panen.

 

"Kami tidak hanya menyediakan benih jagung berkualitas dengan teknologi bio, tetapi juag memberikan pendampingan bagi petani penangkar yang bekerja sama dengan Bintara Pembina Desa (Babinsa). Kalau di Malang dengan Babinsa di bawah naungan Kodim 0818 (Kabupaten Malang dan Kota Batu)," tambahnya.

 

Peran dan keterlibatan langsung para Babinsa ini, kata Yuana, cukup penting karena dalam program swasembada pangan, anggota Babinsa ditugaskan untuk mendistribusikan benih bantuan dari pemerintah dan melakukan pendampingan terhadap petani, sehingga sangat penting bagi anggota Babinsa untuk memiliki pengetahuan budi daya pertanian yang memadai agar dapat membantu petani mencapai hasil panen maksimal.

 

Musim kemarau yang berkepanjangan telah menimbulkan kekhawatiran bagi para petani akan berkurangnya debit irigasi dan kemungkinan serangan penyakit bulai ketika hujan mulai turun.

 

Di kalangan petani jagung, telah muncul kebutuhan terhadap benih jagung yang efisien dalam penggunaan air dan biaya produksi, serta tahan bulai untuk mengantisipasi keadaan cuaca tidak menentu yang biasanya terjadi di akhir masa El Nino, tuturnya.

 

DuPont memberikan pilihan solusi berupa produk jagung hibrida terbaru, yakni P35 Banteng. P35 Banteng dapat dipanen cepat, sekitar 100 Hari Setelah Tanam (HST). Karena lebih cepat panen, jagung P35 Banteng lebih pendek masa perawatannya, biaya produksi lebih efisien.

 

Potensi hasil P35 Banteng mencapai 12,1 MT/hektare pipilan kering, dengan kualitas pipilan sangat baik berwarna merah cerah dan kadar air rendah. P35 Banteng juga memiliki ketahanan genetis alami terhadap penyakit bulai, sehingga menjadi nilai tambah bagi petani karena menghemat biaya produksi.

 

 

Testimoni petani jagung

Tanaman jagung hibrida hasil rekayasa genetika dengan produktivitas tinggi ini telah dibuktikan oleh salah seorang petani asal Kecamatan Kepanjen, kabupaten Malang, Jawa Timur, Agus Budianto.

 

Petani yang pernah belajar teknologi pertanian ke Nagata, Jepang itu mengaku produktivitas tanaman jagung komposit dengan jagung hibrida sangat jauh, bahkan bisa dua kali lipat lebih.

 

Jika produktivitas benih jagung konvensional mencapai 4-5 ton per hektare (jagung pipilan kering), benih jagung hibrida mampu memproduksi sekitar 10 ton per hektare.

 

Sedangkan untuk padi, kata Budi, penggunaan bibit padi hibrida dengan nonhibrida juga jauh. Untuk padi hibrida bisa menghasilkan sekitar 10-13 ton per hektare, sementara nonhibrida paling tinggi sebanyak 5-6 ton per hektare.

 

"Kalau kita bicara untung rugi denagn menanam benih atau bibit hasil rekayasa genetik ini tentu lebih menguntungkan yang hibrida karena hasil panenya juga lebih banyak, namun semua itu juga tergantung pada pihak lain, yakni pemerintah," ungkapnya.

 

Jika pemerintah bisa menetapkan harga dengan tegas atau ada standarisasi harga, katanya, pasti petani akan diuntungkan, sebab yang menentukan harga bukan tengkulak. Selama ini penetapan harga masih ada campur tangan dari tengkulak.

 

"Kalau hasil panen melimpah, harganya "dihancurkan" oleh tengkulak, bahkan setelah dijual kembali ke pasaran, harganya sangat mahal, sehingga yang mengambil keuntungan adalah tengkulak, bukan petani. Namun, jika pemerintah bisa membuat standarisasi harga komoditas pangan hasil panen petani, saya yakin, petani pasti akan sejehtera hidupnya," katanya.

 

Pesatnya perkembangan, inovasi teknologi perbenihan dan upaya perbaikan genetika tanaman di Indonesia masih mengalami kendala cukup berarti dan masih dilakukan melalui metode pemuliaan tanaman konvensional, seperti persilangan, seleksi dan mutasi.

 

"Pemanfaatan berbagai teknologi pemuliaan tanaman modern yang perkembangannya di negara-negara maju cukup pesat, seperti teknik rekayasa genetika, di Indonesia pemanfaatkannya belum optimal. Padahal, terobosan teknologi itu sangat dibutuhkan, mengingat lahan peratnian yang semakin menyempit dan anomali (fenomena) cuaca yang tidak bisa diprediksi," papar Yuana.

 

Bahkan, lanjutnya, jumlah pemulia tanaman yang ada di Tanah Air juga relatif sedikit, yakni sekitar 600 orang bila dibandingkan dengan komoditas yang ahrus ditangani. Ditambah lagi dengan kualitas dan pengalaman SDM yang sangat beragam.

 

Selain itu, upaya terencana untuk meneingkatkan kemmapuan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pemuliaan relatif minim, apakah melalui pelatihan, workshop maupun shortcourse.

 

"Kondisi ini juga menjadi kendala bagi dunia tekonologi industri perbenihan yang ingin terus berinovasi untuk memperbaiki kualitas benih bahan pangan di Tanah Air," tukasnya.